Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Tantangan NU Semakin Berat

Kamis, 2 Januari 2014 10:24 WIB
400x Buletin-khidmah Artikel-utama

Memasuki abad milenium ini, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi banyak persoalan, baik dari dalam maupun dari luar, baik urusan organisasi, politik, sosial, maupun problem keagamaan. Untuk mengurai masalah ini, wartawan Khidmah Zubairi El-Karim dan Abd Rafik, mewawancarai Mantan Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Hasyim Muzadi. Berikut petikan lengkapnya:


 

Banyak golongan mengaku Ahlus Sunah Waljamaah (Aswaja). Sebenarnya apa Aswaja itu, Kiai?

Pertama, Aswajaitu bukan sebuah pemikiran sempit yang hanya ada di Indonesia. Ia ada di seluruh dunia. Memang, dalam bidang fiqh, satu sama lain berbeda karena madzhab yang dianut berbeda. Kedua, perbedaan itu lebih dikarenakan pengaruh kondisi negara tempat Aswajaitu berada. Di Indonesia, Aswajamewujudkan diri dalam bentuk NU, yang di bidang Aqidah mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Dalam bidang fiqh mengikuti Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i, di bidang tasawuf mengikuti Imam Al-Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali. Khusus bidang tauhid dan tasawuf ini, kita tidak jauh beda dengan Aswajayang lain. Sedangkan di bidang fiqh, mereka bisa saja mengikuti fiqh Maliki, Hanafi, dll.

Kondisi Aswajajuga dipengaruhi oleh kondisi negara masing-masing; siapa kawannya, siapa musuhnya, bagaimana sistem kenegaraanya, dan yang lainnya. Khusus di Indonesia, Aswajadisebut Ahlus Sunnah Wal-Jamaah Biqiyadati Ulama’i Nahdlatil Ulama. Nah, di sini baru tampak ciri khas dan spesifikasinya. Sama-sama Aswaja, tapi ada spesifikasinya Biqiyadati Ulama’i Nahdlatil Ulama itu.

 

Apa bahayanya paham-paham lain itu bagi Aswaja?

Yang bahaya itu orang yang tidak memahami Aswaja, tapi mengaku sunni (ahlus-sunnah). Atau pengertian sunni-nya beda. Wahabi, misalnya, mereka tidak suka paham keagamaan Al-Asy’ari dan Al-Ghazali. Fiqhnya juga berbeda. Tapi, mereka selalu saja mengaku Aswaja. Ya, hanya sebatas pengakuan saja. Kenapa? Karena, banyak yang mengartikan Ahlus Sunnah itu Ahlul Hadits, sedangkan Waljamaah diartikan punya jamaah.

Menurut kita, Ahlus Sunnah, kan, tidak demikian. Dan mestinya ini sudah terumuskan dengan baik sehingga jelas perbedaan NU dengan paham yang lain. Tapi, masalahnya menjadi semakin rumit saat rumusan itu belum tergarap, warga NU sudah digempur oleh paham Syi’ah, paham Liberal, dan paham yang bersifat madzhab-madzhab. Ini baru di ranah pemikiran (keagamaan). Belum ranah pergerakan (harakah), seperti Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, dan lain sebagainya.

Jadi, tantangan itu sesungguhnya berat. Tapi, kalau mau dibikin ringan, ya ringan. Tinggal bagaimana kita mengonsolidasikan sendiri pikiran kita dengan masalah-masalah yang ada. Dengan cara begini (konsolidasi diri, red.), sebenarnya kita sudah bisa menjawab semuanya.

 

Belakangan ini NU berada di antara dua kutub (Islam kanan dan Islam kiri). NU dikenal penganut Islam garis tengah. Maksudnya, Kiai?

Tengah itu maksudnya i’tidal (adil), tapi tawazun (seimbang). I’tidal itu bukan berarti NU tidak punya pendirian. Cuma, kepada aliran kiri dan kanan itu, NU selalu mampu menempatkan diri dalam posisi yang seimbang. Kalau aliran yang tasyaddud (ekstrim), itu keras. Ia tidak bisa menggabungkan antara fiqh dan dakwah, antara fiqh dan tasawuf. Pemikirannya selalu hitam-putih, halal-haram, musyrik-muslim. Akibatnya, akan terjadi benturan ketika ia mengambil tindakan. Yang namanya tasyaddud itu selalu memunculkan ekstrimitas dalam kehidupan keagamaan atau kebangsaan.

Kalau NU, kan, di tengah-tengah. Artinya, kita menggunakan fiqh dalam menentukan hukum kafirnya, tapi juga menggunakan cara-cara dakwah agar yang kafir masuk Islam. Kalau mereka (aliran ekstrim, red.), kan, tidak begitu. Kafir, ya mereka habisi. Gerakan kita adalah mengisi, bukan berkonfrontasi.

 

Terhadap pemikiran liberal, bagaimana NU memandang?

NU bisa menerima pemikiran liberal, sepanjang pengembangan pemikiran itu bersifat manhaji (metodologis); berdasarkan manhaj yang mu’tabarah. Tapi, kalau ngarang sendiri, seperti liberal yang banyak berkembang dewasa ini, NU tidak bisa menerimanya. Nah, di sinilah letak posisi i’tidal dan tawazun itu tadi. Meletakkan ini saja, sudah sulit, masih pula NU harus berhadapan dengan paham Syuyu‘iyah (komunisme, red.),  materialisme, dan yang lain.

Jalan yang benar itu jalan yang lurus. Dan itu hanya satu. Yang lainnya, bengkok.

??????? ????? ???????? ???????????? ????????????? ???? ??????????? ????????? ??????????? ?????? ???? ????????

Artinya: Inilah jalan lurusku. Ikutilah ia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang bengkok), agar kamu tidak bercerai-berai dari jalan-Nya.

Jadi, sab?l (jalan) Allah itu satu, sedangkan sab?l yang lain itu disebut  dalam bentuk jamak (subul). Bahwa memang banyak jalan yang menyimpang, itu sudah sunnatullah. Yang penting bagi kita adalah bagaimana mendudukkan akidah kita sendiri pada tempat yang sebenarnya. Dan untuk ini, kita juga dituntut memahami akidah orang lain. Bukan untuk mengikuti atau memusuhi, tapi agar kita waspada.

 

Belakangan ini semakin banyak tokoh NU yang terjun ke politik praktis. Bagaimana pendapat Kiai?

Terjun ke dunia politik itu nggak apa-apa, asal politiknya benar. Ada politik ada politisi. Politik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kalau ada yang bengkok, maka yang salah itu politisinya, karena ada politisi yang tidak amanah. Selama politik itu diisi dengan amanah, shidiq, tabligh, dan fathanah, malah ini sesuatu yang mulia. Tapi, yang terjadi sekarang banyak politisi yang ngawur, sehingga orang dengan gampang lalu memvonis politisi itu politik. Padahal, yang jelek itu politisinya, bukan politiknya.

 

Mengenai tudingan bahwa pengurus NU sekarang sangat mesra dengan kekuasaan?

Nggak apa-apa, asalkan kerangka kedekatannya untuk amar ma’ruf nahi munkar. Yang penting kerangkanya. Kalau ada birokrasi yang bagus, kenapa tidak kita dukung? Kalau birokrasi itu penting, kenapa tidak kita isi dan kita tempati? Kalau birokrasi itu salah, kenapa tidak kita kritik dan kita perbaiki? Jadi, masalahnya bukan mesra atau tidaknya, tapi soal sholuha (baik) atau tidaknya. Ingat hadis Nabi,

????? ?? ????? ??? ???? ??? ????? ???? ???? ??? ????? ??????? ????????

Artinya: Ada dua kelompok manusia, yang jika keduanya baik, maka baiklah seluruh manusia; yakni ulama dan umara’.

 

Terakhir kiai. Bagaimana seharusnya warga NU menghadapi era post-modernisme?

Modern itu ada dua, modern alat hidupnya dan modern pemikirannya. Kalau modern alat hidupnya, semakin modern semakin baik, semakin memberikan kemudahan. Alat itu dibutuhkan oleh kita semua. Kaidahnya itu: almuh?fazhah ‘alal qad?mis sh?lih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara hal lama yang baik, mengambil hal baru yang lebih baik). Arti ashlah itu, ya alat-alat modern itu. Masa, zaman begini dalam berwawancara, kita masih membawa rekaman manual zaman dulu. Kan, cukup bawa HP. Kalau kita bisa kirim salam lewat sms, untuk apa pakai kartu pos.

Dari sisi nilai, modernisasi kadang baik, kadang jelek.  Tergantung kelakuan orangnya. Disebutkan dalam hadits:

?? ???? ????? ???? ???? ????? ???? ?? ???

Artinya: Tidak akan datang suatu masa, kecuali ia akan lebih buruk daripada masa sebelumnya

Maksudnya, yang semakin buruk itu kelakuan atau akhlak orang-orangnya. Nah, pertanyaanya, bagaimana kita berakhlakul karimah seperti zaman dahulu sekaligus berteknologi dengan yang paling canggih seperti saat ini. Inilah tugas Jam’iyah NU dan kita semua. Yakni, memperbaiki akhlak warga. (zbr-fiq)

  • Ahad, 8 Februari 2015 09:06 WIB Mencium Tangan Guru Dianjurkan

    DISKRIPSI MASALAH Salah satu tradisi warga NU ketika bertemu warga NU lainnya mereka berjabat tangan (asalaman). Bahkan tidak hanya sekedar itu, akan tetapi ada pula yang sampai mencium tangan dengan alasan takdzim, apabila yang mereka jumpai adalah orang alim atau gurunya.   PERTANYAAN Bagaimana

  • Ahad, 8 Februari 2015 08:45 WIB Sosialisasi Korporatisasi Garam Rakyat

    Sosialisasi korporatisasi garam rakyat makin gencar dilakukan PBNU. Seperti yang dilakukan hari Sabtu (7-2-2015) di kantor MWC NU Pragaan, Tim sosialisasi bersama Ketua PCNU Sumenep jumpai petani garam rakyat yang ada di MWC NU Pragaan. Dalam arahannya Ketua Tim Rokib Ismail mengatakan bahwa pemerintah akan

  • Ahad, 1 Februari 2015 22:49 WIB NU Pragaan Mulai Gencarkan Info KARTANU

    Jaddung menjadi ranting NU pertama yang didatangi Tim Kartanu MWC NU Pragaan. Setelah pagi harinya membentuk TIM, sore harinya Ahad (1-2-2015) di kediaman KH. Asnawi Sulaiman PP Al-Ihsan Jaddung TIM Kartanu sosialisasikan Kartanu kepada pengurus dan warga yang ikut perkumpulan ranting. Rais Syuriyah KH. Moh.

  • Sabtu, 31 Januari 2015 22:47 WIB PWNU Ajak PCNU Genjot Kartanu Jilid II

    Meskipun sepanjang pagi diguyur hujan, tak menyurutkan PWNU merapat dengan PCNU dan MWC NU se Kabupaten Sumenep, sabtu (31-01-2015). PWNU sebutkan perolehan Kartanu Sumenep baru 17.000. Jumlah ini masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan PCNU lain. Padahal Sumenep potensi kewargaannya kuat. KH.

  • Rabu, 28 Januari 2015 04:06 WIB LPNU Study Pengelolaan Penggemukan Sapi

    Takut keliru dalam memulai usaha penggemukan ternak, pengurus LPNU adakan study awal pendirian kandang komunal, dan pemeliharaan sapi, pada hari Rabu, 28 Januari 2015. Lokasi study  yang dipilih adalah Kelompok Tani di Pamekasan Madura. Kelompok tani ini telah punya banyak pengalaman mengikuti pendidikan

  • Jumat, 23 Januari 2015 04:10 WIB LPNU Pertajam Program Penggemukan Sapi

    Sehari setelah dilantik, Lembaga Perekonomian NU Pragaan langsung tancap gas gelar rapat lanjutan di Kantor MWC NU Pragaan, Jum’at, 23 Januari 2015 M. Rapat yang dimulai pada jam 15.00 Wib ini mempertajam program unggulan LPNU yaitu penggemukan ternak sapi dengan kandang komunal. Penggemukan sapi dengan

  • Kamis, 22 Januari 2015 15:00 WIB NU Aeng Panas Bangkit Adakan Haul Akbar

    Seolah ingin menepis anggapan ranting NU yang mati, pengurus baru Ranting NU Aeng Panas bangkit mengadakan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian kitab dan konsolidasi, bergiliran dari rumah pengurus ke rumah pengurus lainnya. Bulan maulid tahun inipun dengan bangga mengadakan Haul Akbar dan Peringatan Maulid

  • Kamis, 2 Januari 2014 16:50 WIB Santri Gaul

    Menguak Rahasia Pergaulan Kaum Santri Ah, kamu gak gaul. Masak berpenampilan kayak gitu Hari gini masih pake peci Udah gak jamannya pake sarung. Masa pergi ke kota pake kerudung Begitulah celetukan muda-mudi masa kini. Gaul bagi mereka adalah berpenampilan ala Barat: tanpa peci atau jilbab, rambut punk, suka

  • Kamis, 2 Januari 2014 16:47 WIB Gaul ala NU, Adakah?

    Ini pertanyaan unik: adakah gaul ala NU Benarkah NU punya trademark khusus dalam pergaulan Apa bedanya dengan gaul ala remaja alay Sejauh pengamatan kami, orang-orang NU memang punya gaya pergaulan yang khas. Disebut khas karena kaum Nahdliyyin senantiasa menjunjung tinggi akhlaq saat bergaul, terutama saat

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:28 WIB Pemuda NU Itu Aset yang Tak Ternilai

    Secara akademis, banyak pemuda NU yang jenjang pendidikannya cukup tinggi. Namun tidak sedikit di antara mereka yang kepeduliannya kepada NU cenderung menipis. Padahal secara manajemen, NU belum benar-benar mapan. Untuk mengurai masalah ini, wartawan Khidmah Zubairi El-Karim dan Abd Rafik mewawancarai Ketua

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:26 WIB Dari Urunan hingga Shalat Istikharah

    MengintipKarakteristik Jamiyyah NU   Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial-keagamaan yang memiliki corak yang khas dan unik, yang tidak dimiliki organisasi lain. Kekhasan itu tidak lepas dari sejarah kelahirannya yang dipenuhi kisah-kisah khas bernuansa adi-kodrati, seperti menunggu hasil

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:24 WIB Tantangan NU Semakin Berat

    Memasuki abad milenium ini, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi banyak persoalan, baik dari dalam maupun dari luar, baik urusan organisasi, politik, sosial, maupun problem keagamaan. Untuk mengurai masalah ini, wartawan Khidmah Zubairi El-Karim dan Abd Rafik, mewawancarai Mantan Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Hasyim

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:21 WIB Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan

    Memahami Akidah dan Keunikan Jamaah NU Secara umum, Nahdlatul Ulama (NU) dapat dilihat dari 3 (tiga) sisi; NU sebagai jamiyyah (organisasi), NU sebagai jamaah (warga), dan NU sebagai akidah dan amaliyah (ajaran). Sebagai organisasi, NU merupakan jamiyah ijtimaiyyah diniyah islamiyah (organisasi

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan