Tantangan NU Semakin Berat
Zbr400x Buletin-khidmah Artikel-utama
Memasuki abad milenium ini, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi banyak persoalan, baik dari dalam maupun dari luar, baik urusan organisasi, politik, sosial, maupun problem keagamaan. Untuk mengurai masalah ini, wartawan Khidmah Zubairi El-Karim dan Abd Rafik, mewawancarai Mantan Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Hasyim Muzadi. Berikut petikan lengkapnya:
Â
Banyak golongan mengaku Ahlus Sunah Waljamaah (Aswaja). Sebenarnya apa Aswaja itu, Kiai?
Pertama, Aswajaitu bukan sebuah pemikiran sempit yang hanya ada di Indonesia. Ia ada di seluruh dunia. Memang, dalam bidang fiqh, satu sama lain berbeda karena madzhab yang dianut berbeda. Kedua, perbedaan itu lebih dikarenakan pengaruh kondisi negara tempat Aswajaitu berada. Di Indonesia, Aswajamewujudkan diri dalam bentuk NU, yang di bidang Aqidah mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Dalam bidang fiqh mengikuti Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i, di bidang tasawuf mengikuti Imam Al-Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali. Khusus bidang tauhid dan tasawuf ini, kita tidak jauh beda dengan Aswajayang lain. Sedangkan di bidang fiqh, mereka bisa saja mengikuti fiqh Maliki, Hanafi, dll.
Kondisi Aswajajuga dipengaruhi oleh kondisi negara masing-masing; siapa kawannya, siapa musuhnya, bagaimana sistem kenegaraanya, dan yang lainnya. Khusus di Indonesia, Aswajadisebut Ahlus Sunnah Wal-Jamaah Biqiyadati Ulama’i Nahdlatil Ulama. Nah, di sini baru tampak ciri khas dan spesifikasinya. Sama-sama Aswaja, tapi ada spesifikasinya Biqiyadati Ulama’i Nahdlatil Ulama itu.
Apa bahayanya paham-paham lain itu bagi Aswaja?
Yang bahaya itu orang yang tidak memahami Aswaja, tapi mengaku sunni (ahlus-sunnah). Atau pengertian sunni-nya beda. Wahabi, misalnya, mereka tidak suka paham keagamaan Al-Asy’ari dan Al-Ghazali. Fiqhnya juga berbeda. Tapi, mereka selalu saja mengaku Aswaja. Ya, hanya sebatas pengakuan saja. Kenapa? Karena, banyak yang mengartikan Ahlus Sunnah itu Ahlul Hadits, sedangkan Waljamaah diartikan punya jamaah.
Menurut kita, Ahlus Sunnah, kan, tidak demikian. Dan mestinya ini sudah terumuskan dengan baik sehingga jelas perbedaan NU dengan paham yang lain. Tapi, masalahnya menjadi semakin rumit saat rumusan itu belum tergarap, warga NU sudah digempur oleh paham Syi’ah, paham Liberal, dan paham yang bersifat madzhab-madzhab. Ini baru di ranah pemikiran (keagamaan). Belum ranah pergerakan (harakah), seperti Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, dan lain sebagainya.
Jadi, tantangan itu sesungguhnya berat. Tapi, kalau mau dibikin ringan, ya ringan. Tinggal bagaimana kita mengonsolidasikan sendiri pikiran kita dengan masalah-masalah yang ada. Dengan cara begini (konsolidasi diri, red.), sebenarnya kita sudah bisa menjawab semuanya.
Belakangan ini NU berada di antara dua kutub (Islam kanan dan Islam kiri). NU dikenal penganut Islam garis tengah. Maksudnya, Kiai?
Tengah itu maksudnya i’tidal (adil), tapi tawazun (seimbang). I’tidal itu bukan berarti NU tidak punya pendirian. Cuma, kepada aliran kiri dan kanan itu, NU selalu mampu menempatkan diri dalam posisi yang seimbang. Kalau aliran yang tasyaddud (ekstrim), itu keras. Ia tidak bisa menggabungkan antara fiqh dan dakwah, antara fiqh dan tasawuf. Pemikirannya selalu hitam-putih, halal-haram, musyrik-muslim. Akibatnya, akan terjadi benturan ketika ia mengambil tindakan. Yang namanya tasyaddud itu selalu memunculkan ekstrimitas dalam kehidupan keagamaan atau kebangsaan.
Kalau NU, kan, di tengah-tengah. Artinya, kita menggunakan fiqh dalam menentukan hukum kafirnya, tapi juga menggunakan cara-cara dakwah agar yang kafir masuk Islam. Kalau mereka (aliran ekstrim, red.), kan, tidak begitu. Kafir, ya mereka habisi. Gerakan kita adalah mengisi, bukan berkonfrontasi.
Terhadap pemikiran liberal, bagaimana NU memandang?
NU bisa menerima pemikiran liberal, sepanjang pengembangan pemikiran itu bersifat manhaji (metodologis); berdasarkan manhaj yang mu’tabarah. Tapi, kalau ngarang sendiri, seperti liberal yang banyak berkembang dewasa ini, NU tidak bisa menerimanya. Nah, di sinilah letak posisi i’tidal dan tawazun itu tadi. Meletakkan ini saja, sudah sulit, masih pula NU harus berhadapan dengan paham Syuyu‘iyah (komunisme, red.), materialisme, dan yang lain.
Jalan yang benar itu jalan yang lurus. Dan itu hanya satu. Yang lainnya, bengkok.
??????? ????? ???????? ???????????? ????????????? ???? ??????????? ????????? ??????????? ?????? ???? ????????
Artinya: Inilah jalan lurusku. Ikutilah ia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang bengkok), agar kamu tidak bercerai-berai dari jalan-Nya.
Jadi, sab?l (jalan) Allah itu satu, sedangkan sab?l yang lain itu disebut dalam bentuk jamak (subul). Bahwa memang banyak jalan yang menyimpang, itu sudah sunnatullah. Yang penting bagi kita adalah bagaimana mendudukkan akidah kita sendiri pada tempat yang sebenarnya. Dan untuk ini, kita juga dituntut memahami akidah orang lain. Bukan untuk mengikuti atau memusuhi, tapi agar kita waspada.
Belakangan ini semakin banyak tokoh NU yang terjun ke politik praktis. Bagaimana pendapat Kiai?
Terjun ke dunia politik itu nggak apa-apa, asal politiknya benar. Ada politik ada politisi. Politik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kalau ada yang bengkok, maka yang salah itu politisinya, karena ada politisi yang tidak amanah. Selama politik itu diisi dengan amanah, shidiq, tabligh, dan fathanah, malah ini sesuatu yang mulia. Tapi, yang terjadi sekarang banyak politisi yang ngawur, sehingga orang dengan gampang lalu memvonis politisi itu politik. Padahal, yang jelek itu politisinya, bukan politiknya.
Mengenai tudingan bahwa pengurus NU sekarang sangat mesra dengan kekuasaan?
Nggak apa-apa, asalkan kerangka kedekatannya untuk amar ma’ruf nahi munkar. Yang penting kerangkanya. Kalau ada birokrasi yang bagus, kenapa tidak kita dukung? Kalau birokrasi itu penting, kenapa tidak kita isi dan kita tempati? Kalau birokrasi itu salah, kenapa tidak kita kritik dan kita perbaiki? Jadi, masalahnya bukan mesra atau tidaknya, tapi soal sholuha (baik) atau tidaknya. Ingat hadis Nabi,
????? ?? ????? ??? ???? ??? ????? ???? ???? ??? ????? ??????? ????????
Artinya: Ada dua kelompok manusia, yang jika keduanya baik, maka baiklah seluruh manusia; yakni ulama dan umara’.
Terakhir kiai. Bagaimana seharusnya warga NU menghadapi era post-modernisme?
Modern itu ada dua, modern alat hidupnya dan modern pemikirannya. Kalau modern alat hidupnya, semakin modern semakin baik, semakin memberikan kemudahan. Alat itu dibutuhkan oleh kita semua. Kaidahnya itu: almuh?fazhah ‘alal qad?mis sh?lih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara hal lama yang baik, mengambil hal baru yang lebih baik). Arti ashlah itu, ya alat-alat modern itu. Masa, zaman begini dalam berwawancara, kita masih membawa rekaman manual zaman dulu. Kan, cukup bawa HP. Kalau kita bisa kirim salam lewat sms, untuk apa pakai kartu pos.
Dari sisi nilai, modernisasi kadang baik, kadang jelek. Tergantung kelakuan orangnya. Disebutkan dalam hadits:
?? ???? ????? ???? ???? ????? ???? ?? ???
Artinya: Tidak akan datang suatu masa, kecuali ia akan lebih buruk daripada masa sebelumnya
Maksudnya, yang semakin buruk itu kelakuan atau akhlak orang-orangnya. Nah, pertanyaanya, bagaimana kita berakhlakul karimah seperti zaman dahulu sekaligus berteknologi dengan yang paling canggih seperti saat ini. Inilah tugas Jam’iyah NU dan kita semua. Yakni, memperbaiki akhlak warga. (zbr-fiq)