Dari Urunan hingga Shalat Istikharah
Sipe390x Buletin-khidmah Artikel-utama
MengintipKarakteristik Jam’iyyah NU
Â
Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial-keagamaan yang memiliki corak yang khas dan unik, yang tidak dimiliki organisasi lain. Kekhasan itu tidak lepas dari sejarah kelahirannya yang dipenuhi kisah-kisah khas bernuansa adi-kodrati, seperti menunggu hasil istikharah, pengiriman tongkat dan tasbih, dan lain sebagainya.
Kekhasan lainnya juga terlihat dari struktur kepengurusan. Meskipun secara struktural, pengurus NU sudah tersusun sedemikian rupa sesuai manajemen organisasi modern (bahkan sudah memiliki cabang istimewa di luar negeri), namun secara adminitratif masih sangat “apa adanya” alias lillahi ta’ala. Pengurus NU yang aktif—bahkan sangat aktif—bisa mengerjakan dan menyelesaikan banyak tugas organisasi tanpa keluh-kesah. Ia mencurahkan tenaga, pikiran, waktu, bahkan biaya untuk “menghidupkan” NU. Tapi di sisi lain, kesadaran seperti itu tidak dimiliki oleh pengurus lainnya. Uniknya, pengurus yang tidak aktif itu, tidak mendapat teguran atau peringatan. Seakan-akan ada prinsip tak tertulis: Siapa yang rajin, dia yang kerja. Yang tidak rajin, tidak kerja tidak apa-apa.
Kemudian, garis komando organisasi NU juga “agak berbeda” dibandingkan organisasi lain. Pengurus syuriah (semacam dewan penasehat), yang biasanya diisi para ulama dan kiai sepuh, merupakan pucuk tertinggi organisasi NU. Sedangkan pengurus tanfidziyah (pengurus harian),yangrata-rata diisi kiai-kiai muda, hanyalah pelaksana kebijakan syuriah. NU memosisikan ulama dan kiai dalam struktur tertinggi organisasi, karena ulama diyakini memiliki maqam tertinggi sebagai pewaris para Nabi. Ulama tidak saja menjadi panutan ukhrawi, tetapi juga teladan duniawi. Kepatuhan dan akhlakul karimah kepada ulama, merupakan prinsip hidup warga Nahdliyyin.
Kemudian, pola rekrutmen pengurus NU dilakukan secara acak, tanpa mempertimbangkan proses kaderisasi atau jenjang kepangkatan, apalagi melalui fit and proper tes (uji kelayakan). Para kiai, tokoh masyarakat, alumni pesantren, atau aktivis yang dianggap memiliki semangat juang tinggi, bisa direkrut sebagai pengurus NU di semua tingkatan dan ditempatkan pada posisi manapun sesuai kebutuhan. Kiai yang sangat alim dan berpengaruh, bisa langsung diangkat menjadi Rois Syuriah (posisi tertinggi dalam struktur organisasi), meskipun beliau belum pernah menjadi anggota Ansor, misalnya. Pertimbangannya bukan pada kualifikasi formal (misalnya lulusan S2 atau S3), tapi pada kualitas dan integritas pribadinya.
Ciri khas lainnya adalah prinsip organisasinya. Mempertahankan budaya lama yang baik dan mengadopsi tradisi baru yang lebih baik, adalah prinsip utama organisasi NU. Salah satu tradisi lama NU yang hingga kini masih dipertahankan adalah kebiasaan istikharah sebelum mengambil keputusan penting. Banyak sekali persoalan penting di tubuh NU yang selalu dimintai “petunjuk ilahi” melalui perantara ulama. Hasil istikharah itu kemudian dimusyawarahkan oleh pengurus harian dan dibuatkan formulasi dan petunjuk teknisnya. Sedangkan tradisi baru yang diadopsi NU, salah satunya adalah pembuatan kartu keanggotaan. Jika pada masa awal berdirinya, kaum Nahdliyyin cukup “diikat” secara alamiah, maka kini sebagian dari mereka sudah “diikat” secara formal melalu Kartu Anggota NU (Kartanu).
Ada lagi tradisi yang cukup positif di kalangan NU, yang tradisi swadaya dan gotong-royong. Tradisi urunan oleh warga NU saat mengadakan acara-acara, menunjukkan bahwa organisasi ini tumbuh dari bawah. Banyak kegiatan rutin warga (seperti pengajian bulanan, arisan, yasinan, tahlilan) yang telaksana secara mandiri dan dengan biaya sendiri. Pengurus NU cukup mengisi dengan memimpin tahlil atau memberi ceramah agama.
Diperlukan kesadaran, keikhlasan, dan persaudaraan yang kuat, guna menjalankan roda organisasi seperti ini. Dan sejarah mencatat, nilai-nilai keikhlasan dan persaudaraan inilah yang membuat NU cukup berkarakter dan “berbeda” dengan organisasi lain. Karena secara prinsip, NU menjadikan kepentingan agama, masyarakat, dan bangsa sebagai titik pijak perjuangannya. Maka, kepentingan pribadi harus dinomorduakan. Tak heran jika ada adagium yang sangat populer di kalangan pengurus NU: “Menjadi pengurus NU itu harus siap tekor”. Maksudnya ialah tekor (rugi) secara materiil, bukan intelektual, mental, dan spiritual. Sebab secara intelektual dan mental-spiritual, pengurus NU justru beruntung.
Itulah sebabnya, mengapa NU selalu berperan serta dalam setiap gerak peradaban bangsa, baik secara mental-spiritual (dakwah), ekonomi (mu’amalah), pendidikan (ma’arif), hingga sejahteraan sosial (mabarrat). Boleh dibilang, NU telah memberikan segala yang dimilikinya untuk bangsa ini. Dan semangat tersebut sudah terbangun jauh sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), (NU lahir tahun 1926, Indonesia lahir tahun 1945, berarti NU lebih tua 18 tahun dibandingkan NKRI).
Â
NU danPesantren
Hubungan NU dengan Pesantren sangat erat sekali. Saking eratnya, ada yang menyebut hubungan NU dengan pesantren layaknya hubungan ibu dengan anak. Pesantren yang berjumlah ribuan dan merambah hingga ke pelosok desa, merupakan pusat pengkaderan pengurus NU di semua tinkatan. NU tanpa pesantren laksana pohon tanpa akar.
Uniknya, meskipun menjadi “kawah candradimuka” bagi kader-kader NU, banyak sekali pesantren yang tidak mau terikat dengan NU, atau tidak bersedia “dikendalikan” oleh NU. Pesantren-pesantren tersebut tumbuh secara mandiri dengan karakter masing-masing. Mereka tidak terikat dengan NU secara struktural, tapi memiliki ikatan kultural, emosional, dan spiritual dengan NU.
Uniknya, meskipun beberapa pesantren tidak bersedia memasukkan pelajaran ke-NU-an di dalam kurikulum mereka, namun para lulusannya banyak yang menjadi kader NU. Bahkan mereka tidak mau “dituduh” sebagai pesantren yang bukan NU.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa organisasi NU memang unik tapi fenomenal. Disebut unik karena NU memiliki karakter tersendiri yang tidak dimiliki organisasi lain. Disebut fenomenal karena “prestasi” keagamaan dan kebangsaan NU sangat luar biasa, tapi tidak pernah menuntut pengakuan formal. Keikhlasan adalah prinsipnya.
NU tumbuh dari bawah. Ia berkembang pesat melalui perjuangan para kiai pesantren, yang memiliki pengaruh kuat di kalangan akar-rumput (grass-root). Hubungan guru dan murid (kiai dan santri) tidak hanya berhenti di pesantren, tapi terus berlanjut hingga para santri itu pulang ke masyarakat dan mengabdikan diri di NU.
Di bidang sosial-keagamaan, NU memegang teguh akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaahtanpa mengorbankan semangat kebangsaan. Dan sebaliknya, NU mengembangkan semangat kebangsaan tanpa harus meninggalkan akidah Islam. Itulah sebabnya, mengapa NU selalu arif pada budaya lokal sekaligus terbuka menerima tradisi baru yang lebih baik.
Dalam bidang sosial-politik, NU senantiasa mewarnai setiap gerak peradaban bangsa dan tidak pernah “absen” menyikapi perkembangan politik nasional. Tapi, NU selalu menjaga jarak dengan semua partai politik. Sebab, NU menganut politik kebangsaan, bukan politik praktis yang hanya bertujuan meraih kekuasaan. Karena itu, jangan pernah memanfaatkan organisasi NU untuk kepentingan politik (praktis), karena tindakan tersebut dapat mencederai nilai-nilai luhur perjuangan ulama. (Hev/Sipe)