Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Gaul itu Berilmu yang Amaliyah, Beramal yang Ilmiyah

Kamis, 2 Januari 2014 16:53 WIB
425x Buletin-khidmah Artikel-utama

Keterbukaan budaya sangat mempengaruhi pola pergaulan pelajar masa kini. Di satu sisi, sebagian pelajar Indonesia larut dalam kebebasan sehingga tidak bisa memilah mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya. Di sisi lain, keterbukaan itu justru mengantarkan sebagian pelajar Indonesia meraih prestasi tingkat dunia. Untuk mendalami fenomena ini, reporter Khidmah Imam Sutaji mewawancarai Bapak Zainudin Hasan, M.Pd., dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah(INSTIKA) Guluk-guluk Sumenep Madura:

 

Bagaimana pendapat Bapak tentang pergaulan pelajar?

Pertama, sayaberangkat dari sebuah prinsip dalam ilmu biologi, bahwa manusia adalah makhluk yang selalu melakukan simbiosis-mutualis (hubungan saling menguntungkan antar makhluk hidup), baik manusia dengan manusia, manusia dengan hewan, bahkan manusia dengan alam semesta. Jadi, selama hidupnya, manusia tidak akan lepas dari yang namanya hubungan sosial, politik, budaya, ekonomi, pendidikan, dan seterusnya. Terkait dengan pelajar, maka pelajar adalah bagian dari manusia.

Perinsip kedua, setiap manusia selalu membutuhkan kepada orang lain dalam segala hal. Tidak ada manusia yang bisa hidup mandiri secara an-sich. Kemudian prinsip ketiga, manusia selalu membutuhkan komunikasi. Tidak ada seorangpun yang bisa hidup tanpa komunikasi.

Nah, kaitannya dengan pergaulan pelajar, dapat difahami bahwa pelajar adalah peserta didik yang menuntut dua hal, yaitu ingin tahu dan ingin malakukan interaksi dengan orang lain.

 

Apa dampak pergaulan bagi pelajar?

Secara garis besar ada 2 (dua), dampak positif dan dampak negatif. Yang jelas, kedua dampak tersebut tergantung pada siapa yang bergaul, bukan siapa yang diajak bergaul. Dalam biologi ada istilah simbiosis mutualisme (hubungan antar makhluk hidup yang saling menguntukan), simbiosis komensalisme (hubungan antar makhluk hidup, yang satu untung tapi yang lain tidak dirugikan), dan simbiosis parasitisme (hubungan antar makhluk hidup, yang satu untung tapi yang lain dirugikan). Dalam konteks pergaulan pelajar, silakan kita pilih yang mana?

 

Kapan dan dengan siapa pelajar boleh bergaul?

Kapan saja dan dengan siapa saja, asalkan sudah ditanamkan akhlak pergaulan yang baik. Dalam hal ini, penanaman akhlak harus dimulai dari keluarga. Persoalannya bukan dengan siapa bergaul, tapi bagaimana pergaulan tersebut menjadi pelajaran. Juga, sejauh mana yang bersangkutan membuka diri untuk menerima hidayah Allah. Misalnya Ustadz Jefry al-Bukhari (Uje), meski masa lalunya kelam tapi beliau bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik.

 

Di mana dan bagaimana cara bergaul yang baik bagi pelajar?

Di mana saja boleh, asalkan pergaulan itu mampu mengantarkan kita menjadi lebih baik. Namun, secara spesifik ada tiga tahapan yang harus dilalui dan ketiganya saling berkaitan. Yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Mengenai caranya, menurut Islam sangat jelas, yakni pergaulan antara laki-laki dan perempuan harus dipisah dan itu sudah diterapkan oleh pesantren-pesantren salaf.

Dulu, waktu budaya belum terbuka seperti sekarang, kontrol keluarga dan masyarakat sangat ketat. Tapi sekarang, di era yang penuh keterbukaan ini, kontrol keluarga dan masyarakat sangat lemah. Satu contoh, dulu anak mau main keluar harus pamit pada orang tuanya. Orang tua tidak mudah mengizinkan. Dan jika mereka ketahuan boncengan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, masyarakat sangat geram dan langsung beraksi. Teguran masyarakat merupakan kontrol sosial. Tapi sekarang, (sebagian) masyarakat mulai bersikap nafsi-nafsi (urusan sendiri-sendiri).

 

Belakangan ini sering diadakan program pertukaran pelajar se dunia, pendapat Bapak?

Itu bagus sekali. Karena pertukaran tersebut tidak hanya sebatas perbauran, tapi pertukaran ide, ilmu pengetahuan, dan budaya sehingga bisa melahirkan akulturasi yang positif dari berbagai aspek. Yang paling penting adalah penanaman akhlak yang baik kepada pelajar kita (sebelum pertukaran pelajar). Artinya, kita tidak perlu khawatir bila akhlak pergaulan mereka sudah kita tanamkan dengan baik.

 

Bergaul itu mendidik secara sosial tapi kadang tidak mendidik secara moral, benarkan?

Iya, sangat benar sekali. Karena hukum sosial bisa bertentangan dengan hukum moral. Misalnya seorang pelajar yang suka bergaul dalam satu komunitas ke komunitas yang lain. Dia akan mudah beradaptasi, meskipun tak jarang moralnya terkontaminasi. Jika dulu dia bersalaman dengan mencium tangan orang tuanya, (setelah terkontaminasi) dia tidak mencium tangan orang tuanya, tapi cukup cium pipi kanan-cium pipi kiri (cipika cipiki). Inilah yang saya maksud tidak mendidik secara moral, karena cipika cipiki itu bukan budaya kita.

 

Gaul dipersepsikan sebagai gaya hidup ala Korea, AS, Eropa, dll. Pendapat Bapak?

Inilah saatnya kita mengubah pemahaman bahwa gaul itu bukan gaya aksesoris. Gaul itu tidak identik dengan rambut pirang, celana bolong, atau telinga beranting bagi laki-laki. Mari kita sepakati bahwa gaul itu: ke sana oke, ke sini oke. Saya lebih setuju jika gaul itu dimaknai sebagai gaya hidup yang bisa diterima di mana saja karena santun, berakhlak mulia, rajin belajar, rajin ibadah, dll. Pola hidup yang didasarkan pada ilmu yang amaliyah dan amal yang ilmiyah.

 

Terakhir, apa saran Bapak bagi kaum pelajar?

Secara pribadi saya berharap agar pelajar, baik yang berstatus santri, siswa, atau mahasiswa, agar bersungguh-sungguh dalam belajar (ta’allum), supaya menjadi pelajar yang tahdzib  dan ta’dib. Jangan menganggap diri sendiri paling hebat. Hargai semua guru. Jangan menjadi pelajar yang meresahkan guru, agar menuai ilmu yang barokah. ()

  • Ahad, 8 Februari 2015 09:06 WIB Mencium Tangan Guru Dianjurkan

    DISKRIPSI MASALAH Salah satu tradisi warga NU ketika bertemu warga NU lainnya mereka berjabat tangan (asalaman). Bahkan tidak hanya sekedar itu, akan tetapi ada pula yang sampai mencium tangan dengan alasan takdzim, apabila yang mereka jumpai adalah orang alim atau gurunya.   PERTANYAAN Bagaimana

  • Ahad, 8 Februari 2015 08:45 WIB Sosialisasi Korporatisasi Garam Rakyat

    Sosialisasi korporatisasi garam rakyat makin gencar dilakukan PBNU. Seperti yang dilakukan hari Sabtu (7-2-2015) di kantor MWC NU Pragaan, Tim sosialisasi bersama Ketua PCNU Sumenep jumpai petani garam rakyat yang ada di MWC NU Pragaan. Dalam arahannya Ketua Tim Rokib Ismail mengatakan bahwa pemerintah akan

  • Ahad, 1 Februari 2015 22:49 WIB NU Pragaan Mulai Gencarkan Info KARTANU

    Jaddung menjadi ranting NU pertama yang didatangi Tim Kartanu MWC NU Pragaan. Setelah pagi harinya membentuk TIM, sore harinya Ahad (1-2-2015) di kediaman KH. Asnawi Sulaiman PP Al-Ihsan Jaddung TIM Kartanu sosialisasikan Kartanu kepada pengurus dan warga yang ikut perkumpulan ranting. Rais Syuriyah KH. Moh.

  • Sabtu, 31 Januari 2015 22:47 WIB PWNU Ajak PCNU Genjot Kartanu Jilid II

    Meskipun sepanjang pagi diguyur hujan, tak menyurutkan PWNU merapat dengan PCNU dan MWC NU se Kabupaten Sumenep, sabtu (31-01-2015). PWNU sebutkan perolehan Kartanu Sumenep baru 17.000. Jumlah ini masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan PCNU lain. Padahal Sumenep potensi kewargaannya kuat. KH.

  • Rabu, 28 Januari 2015 04:06 WIB LPNU Study Pengelolaan Penggemukan Sapi

    Takut keliru dalam memulai usaha penggemukan ternak, pengurus LPNU adakan study awal pendirian kandang komunal, dan pemeliharaan sapi, pada hari Rabu, 28 Januari 2015. Lokasi study  yang dipilih adalah Kelompok Tani di Pamekasan Madura. Kelompok tani ini telah punya banyak pengalaman mengikuti pendidikan

  • Jumat, 23 Januari 2015 04:10 WIB LPNU Pertajam Program Penggemukan Sapi

    Sehari setelah dilantik, Lembaga Perekonomian NU Pragaan langsung tancap gas gelar rapat lanjutan di Kantor MWC NU Pragaan, Jum’at, 23 Januari 2015 M. Rapat yang dimulai pada jam 15.00 Wib ini mempertajam program unggulan LPNU yaitu penggemukan ternak sapi dengan kandang komunal. Penggemukan sapi dengan

  • Kamis, 22 Januari 2015 15:00 WIB NU Aeng Panas Bangkit Adakan Haul Akbar

    Seolah ingin menepis anggapan ranting NU yang mati, pengurus baru Ranting NU Aeng Panas bangkit mengadakan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian kitab dan konsolidasi, bergiliran dari rumah pengurus ke rumah pengurus lainnya. Bulan maulid tahun inipun dengan bangga mengadakan Haul Akbar dan Peringatan Maulid

  • Kamis, 2 Januari 2014 16:50 WIB Santri Gaul

    Menguak Rahasia Pergaulan Kaum Santri Ah, kamu gak gaul. Masak berpenampilan kayak gitu Hari gini masih pake peci Udah gak jamannya pake sarung. Masa pergi ke kota pake kerudung Begitulah celetukan muda-mudi masa kini. Gaul bagi mereka adalah berpenampilan ala Barat: tanpa peci atau jilbab, rambut punk, suka

  • Kamis, 2 Januari 2014 16:47 WIB Gaul ala NU, Adakah?

    Ini pertanyaan unik: adakah gaul ala NU Benarkah NU punya trademark khusus dalam pergaulan Apa bedanya dengan gaul ala remaja alay Sejauh pengamatan kami, orang-orang NU memang punya gaya pergaulan yang khas. Disebut khas karena kaum Nahdliyyin senantiasa menjunjung tinggi akhlaq saat bergaul, terutama saat

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:28 WIB Pemuda NU Itu Aset yang Tak Ternilai

    Secara akademis, banyak pemuda NU yang jenjang pendidikannya cukup tinggi. Namun tidak sedikit di antara mereka yang kepeduliannya kepada NU cenderung menipis. Padahal secara manajemen, NU belum benar-benar mapan. Untuk mengurai masalah ini, wartawan Khidmah Zubairi El-Karim dan Abd Rafik mewawancarai Ketua

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:26 WIB Dari Urunan hingga Shalat Istikharah

    MengintipKarakteristik Jamiyyah NU   Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial-keagamaan yang memiliki corak yang khas dan unik, yang tidak dimiliki organisasi lain. Kekhasan itu tidak lepas dari sejarah kelahirannya yang dipenuhi kisah-kisah khas bernuansa adi-kodrati, seperti menunggu hasil

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:24 WIB Tantangan NU Semakin Berat

    Memasuki abad milenium ini, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi banyak persoalan, baik dari dalam maupun dari luar, baik urusan organisasi, politik, sosial, maupun problem keagamaan. Untuk mengurai masalah ini, wartawan Khidmah Zubairi El-Karim dan Abd Rafik, mewawancarai Mantan Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Hasyim

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:21 WIB Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan

    Memahami Akidah dan Keunikan Jamaah NU Secara umum, Nahdlatul Ulama (NU) dapat dilihat dari 3 (tiga) sisi; NU sebagai jamiyyah (organisasi), NU sebagai jamaah (warga), dan NU sebagai akidah dan amaliyah (ajaran). Sebagai organisasi, NU merupakan jamiyah ijtimaiyyah diniyah islamiyah (organisasi

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan