Gaul itu Berilmu yang Amaliyah, Beramal yang Ilmiyah
esoftHMD425x Buletin-khidmah Artikel-utama
Keterbukaan budaya sangat mempengaruhi pola pergaulan pelajar masa kini. Di satu sisi, sebagian pelajar Indonesia larut dalam kebebasan sehingga tidak bisa memilah mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya. Di sisi lain, keterbukaan itu justru mengantarkan sebagian pelajar Indonesia meraih prestasi tingkat dunia. Untuk mendalami fenomena ini, reporter Khidmah Imam Sutaji mewawancarai Bapak Zainudin Hasan, M.Pd., dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah(INSTIKA) Guluk-guluk Sumenep Madura:
Bagaimana pendapat Bapak tentang pergaulan pelajar?
Pertama, sayaberangkat dari sebuah prinsip dalam ilmu biologi, bahwa manusia adalah makhluk yang selalu melakukan simbiosis-mutualis (hubungan saling menguntungkan antar makhluk hidup), baik manusia dengan manusia, manusia dengan hewan, bahkan manusia dengan alam semesta. Jadi, selama hidupnya, manusia tidak akan lepas dari yang namanya hubungan sosial, politik, budaya, ekonomi, pendidikan, dan seterusnya. Terkait dengan pelajar, maka pelajar adalah bagian dari manusia.
Perinsip kedua, setiap manusia selalu membutuhkan kepada orang lain dalam segala hal. Tidak ada manusia yang bisa hidup mandiri secara an-sich. Kemudian prinsip ketiga, manusia selalu membutuhkan komunikasi. Tidak ada seorangpun yang bisa hidup tanpa komunikasi.
Nah, kaitannya dengan pergaulan pelajar, dapat difahami bahwa pelajar adalah peserta didik yang menuntut dua hal, yaitu ingin tahu dan ingin malakukan interaksi dengan orang lain.
Apa dampak pergaulan bagi pelajar?
Secara garis besar ada 2 (dua), dampak positif dan dampak negatif. Yang jelas, kedua dampak tersebut tergantung pada siapa yang bergaul, bukan siapa yang diajak bergaul. Dalam biologi ada istilah simbiosis mutualisme (hubungan antar makhluk hidup yang saling menguntukan), simbiosis komensalisme (hubungan antar makhluk hidup, yang satu untung tapi yang lain tidak dirugikan), dan simbiosis parasitisme (hubungan antar makhluk hidup, yang satu untung tapi yang lain dirugikan). Dalam konteks pergaulan pelajar, silakan kita pilih yang mana?
Â
Kapan dan dengan siapa pelajar boleh bergaul?
Kapan saja dan dengan siapa saja, asalkan sudah ditanamkan akhlak pergaulan yang baik. Dalam hal ini, penanaman akhlak harus dimulai dari keluarga. Persoalannya bukan dengan siapa bergaul, tapi bagaimana pergaulan tersebut menjadi pelajaran. Juga, sejauh mana yang bersangkutan membuka diri untuk menerima hidayah Allah. Misalnya Ustadz Jefry al-Bukhari (Uje), meski masa lalunya kelam tapi beliau bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik.
Â
Di mana dan bagaimana cara bergaul yang baik bagi pelajar?
Di mana saja boleh, asalkan pergaulan itu mampu mengantarkan kita menjadi lebih baik. Namun, secara spesifik ada tiga tahapan yang harus dilalui dan ketiganya saling berkaitan. Yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Mengenai caranya, menurut Islam sangat jelas, yakni pergaulan antara laki-laki dan perempuan harus dipisah dan itu sudah diterapkan oleh pesantren-pesantren salaf.
Dulu, waktu budaya belum terbuka seperti sekarang, kontrol keluarga dan masyarakat sangat ketat. Tapi sekarang, di era yang penuh keterbukaan ini, kontrol keluarga dan masyarakat sangat lemah. Satu contoh, dulu anak mau main keluar harus pamit pada orang tuanya. Orang tua tidak mudah mengizinkan. Dan jika mereka ketahuan boncengan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, masyarakat sangat geram dan langsung beraksi. Teguran masyarakat merupakan kontrol sosial. Tapi sekarang, (sebagian) masyarakat mulai bersikap nafsi-nafsi (urusan sendiri-sendiri).
Â
Belakangan ini sering diadakan program pertukaran pelajar se dunia, pendapat Bapak?
Itu bagus sekali. Karena pertukaran tersebut tidak hanya sebatas perbauran, tapi pertukaran ide, ilmu pengetahuan, dan budaya sehingga bisa melahirkan akulturasi yang positif dari berbagai aspek. Yang paling penting adalah penanaman akhlak yang baik kepada pelajar kita (sebelum pertukaran pelajar). Artinya, kita tidak perlu khawatir bila akhlak pergaulan mereka sudah kita tanamkan dengan baik.
Â
Bergaul itu mendidik secara sosial tapi kadang tidak mendidik secara moral, benarkan?
Iya, sangat benar sekali. Karena hukum sosial bisa bertentangan dengan hukum moral. Misalnya seorang pelajar yang suka bergaul dalam satu komunitas ke komunitas yang lain. Dia akan mudah beradaptasi, meskipun tak jarang moralnya terkontaminasi. Jika dulu dia bersalaman dengan mencium tangan orang tuanya, (setelah terkontaminasi) dia tidak mencium tangan orang tuanya, tapi cukup cium pipi kanan-cium pipi kiri (cipika cipiki). Inilah yang saya maksud tidak mendidik secara moral, karena cipika cipiki itu bukan budaya kita.
Â
Gaul dipersepsikan sebagai gaya hidup ala Korea, AS, Eropa, dll. Pendapat Bapak?
Inilah saatnya kita mengubah pemahaman bahwa gaul itu bukan gaya aksesoris. Gaul itu tidak identik dengan rambut pirang, celana bolong, atau telinga beranting bagi laki-laki. Mari kita sepakati bahwa gaul itu: ke sana oke, ke sini oke. Saya lebih setuju jika gaul itu dimaknai sebagai gaya hidup yang bisa diterima di mana saja karena santun, berakhlak mulia, rajin belajar, rajin ibadah, dll. Pola hidup yang didasarkan pada ilmu yang amaliyah dan amal yang ilmiyah.
Â
Terakhir, apa saran Bapak bagi kaum pelajar?
Secara pribadi saya berharap agar pelajar, baik yang berstatus santri, siswa, atau mahasiswa, agar bersungguh-sungguh dalam belajar (ta’allum), supaya menjadi pelajar yang tahdzib dan ta’dib. Jangan menganggap diri sendiri paling hebat. Hargai semua guru. Jangan menjadi pelajar yang meresahkan guru, agar menuai ilmu yang barokah. ()