Santri Gaul
Sipe458x Buletin-khidmah Artikel-utama
Menguak “Rahasia” Pergaulan Kaum Santri
“Ah, kamu gak gaul. Masak berpenampilan kayak gitu? Hari gini masih pake’ peci? Udah gak jamannya pake’ sarung. Masa’ pergi ke kota pake’ kerudung?
Begitulah celetukan muda-mudi masa kini. Gaul bagi mereka adalah berpenampilan ala Barat: tanpa peci atau jilbab, rambut punk, suka nongkrong di pinggir jalan, pria-wanita bukan mahram bergaul tanpa batasan. Bahkan menentang guru atau orang tua dianggap lumrah. Tawuran pun menjadi kebanggaan.
Berbeda dengan kaum santri; mereka setia pake peci, kemana-mana pakai jilbab, tidak suka keluyuran, malas nongkrong di pinggir jalan, menjaga diri dari lawan jenis, menghormati guru atau ortu, dan tidak suka tawuran. Maka, jarang sekali kita dengar ada tawuran antar santri. Beda banget dengan tawuran antar pelajar yang sudah membudaya.
Pondok pesantren memang memiliki keunikan tersendiri, termasuk dalam cara begaul. Gaul ala santri berbeda dengan pergaulan kaum alay, yang lebih mengutamakan penampilan fisik. Sedangkan kaum santri, selain pergaulan secara fisik, juga menekankan “pergaulan” intelektual, emosional, dan spiritual.
Jika diteliti secara seksama, prinsip pergaulan mereka sangat terkait dengan penerapan ajaran akhlaq/tasawuf dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kitab akhlaq yang cukup berpengaruh adalah Ta’lim al-Muta’allim karya Syekh al-Zarnuji. Di sana ditegaskan, pelajar (santri) harus pandai-pandai memilih teman bergaul, karena teman itu bisa mempengaruhi pikiran dan tindakan kita. Syekh al-Zarnuji menyatakan: “Laa tashhab al-kaslaana fi haalatihi. Kam min shaalihin bi fasaadi aakhara yafsudu.” (Jangan berteman dengan pemalas. Betapa banyak orang yang baik [bisa berubah] menjadi buruk akibat pengaruh orang lain [yang menjadi temannya]).
Yang dimaksud al-kaslaana (pemalas) ialah mereka yang tidak rajin belajar, suka buang-buang waktu, senang nongkrong, berperangai buruk, berakhlak tercela, suka menggunjing, suka mengumpat, dll. Para santri dilarang bergaul dengan mereka, tujuannya agar tidak ketularan. Sebaliknya, santri dianjurkan untuk bersahabat dengan orang-orang baik, berilmu luas, suka menolong, rajin ngaji, aktif sekolah, rajin jamaah, suka membaca al-Quran, agar ketularan kebaikan dari mereka.
Bagi santri, bersahabat dengan ahli tauhid dan fiqh, jauh lebih baik daripada bergaul dengan pengguna narkoba. Berteman dengan ahli tafsir atau hadits, jauh lebih bermanfaat daripada bergaul dengan pengangguran. Dekat dengan ahli tasawwuf, lebih dianjurkan daripada dekat dengan pengumpat dan penggunjing. Kecuali jika sudah lulus dari pesantren, para santri dianjurkan dekat dengan siapa saja asalkan ilmunya sudah matang dan niatnya untuk berdakwah.
Para santri juga diajari agar tidak fanatik. Mereka tidak suka tawuran untuk menyelesaikan persoalan. Penghormatan terhadap kiai dan lembaga, tidak mengurangi penghormatan mereka terhadap kiai dari lembaga lain.
Santri masa kini juga tidak menutup diri dari ilmu pengetahuan kontemporer; semua materi pelajaran (agama dan umum) dipelajari tanpa pembedaan. Belajar matematika, fisika, biologi, bahasa Inggris, dsb., setara dengan belajar balaghah, mantiq, nahwu, sharraf, dll. Hukumnya sama-sama fardlu kifayah. Tidak ada ilmu yang haram dipelajari, kecuali ilmu sihir.
Artinya, menjadi santri berarti menjadi komunitas yang siap “bergaul” dengan segala macam ilmu pengetahuan. Tak heran jika kini banyak santri yang alim ilmu fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits, dan pada saat yang sama juga mumpuni dalam bidang matematika, fisika, kimia, biologi, dll. Bandingkan dengan pelajar umum yang antipasti terhadap ilmu agama.
Â
Esensi
Pertanyaannya: bagaimana kaum santri bisa memadukan semua ranah keilmuan? Kenapa mereka bisa saling menghormati satu sama lain dan menganggap semua orang adalah teman, bukan lawan?
Jawabannya terletak pada prinsip belajar sebagai kegiatan spiritual. Artinya, para santri menganggap belajar itu ibadah sehingga dianjurkan dalam keadaan suci (berwudlu’). Setiap langkah kaki menuju surau, sekolah, atau madrasah, akan berpahala jika diniatkan lillahi ta’ala. Ijasah bukan tujuan utama.
Selain itu, dalam bergaul, kaum santri senantiasa didorong untuk mencari sisi positif pada diri sahabatnya. Begitu juga saat belajar kepada guru/kiai, bukan hanya mengharap transfer ilmu pengetahuan (knowledge), tapi juga transfer hikmah dan kebijaksanaan (wisdom) yang merupakan esensi ilmu pengetahuan. Hikmah atau kebijaksanaan, di kalangan santri disebut barokah. Allah Swt berfirman:
??????? ??????????? ??????????? ?????? ?????? ??????????? ?????? ??????? ??????? ???????? ??????????????? ???? ?????? ??????????
”Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa dianugerahi hikmah, maka ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.”[QS. Al Baqarah:269]
Di pesantren, para santri sering diingatkan bahwa terjadinya transmisi hikmah secara sempurna, selain melalui proses lahiriyah, juga memerlukan upaya batiniyah melalui adab atau tatakrama. Adab tersebut bisa berupa penghormatan santri kepada sesama santri, penghormaan kepada kitab, dan penghormatan kepada guru dan kiai. Penghormatan kepada guru/kiai diwujudkan dengan menaati perintahnya, meresapi nasehatnya, memohon doanya, dll.
Sistem pembelajaran di pesantren juga bersifat praksis, tidak hanya berhenti pada tataran teoritik. Yang ditekankan adalah keteladanan hidup sehari-hari. Tindakan dan ucapan dijaga, agar sesama santri bisa saling mencontoh dan saling mengambil pelajaran.
Kemudian, hubungan guru/kiai dengan santri-santrinya, baik ketika masih mondok atau setelah lulus, didasari oleh rasa cinta. Para guru/kiai mencintai santri-santrinya melebihi kecintaan mereka kepada diri sendiri. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya dikeluarkan untuk menanamkan ilmu dan akhlak kepada santri-santrinya. Maka, para santripun melakukan sebaliknya (simbiosis mutualis). Mereka mencintai dan menghormati guru/kiainya, nyaris melebihi kecintaan mereka kepada orang tua sendiri.
Prinsipnya, ketika santri mencintai kiai, maka ia akan berusaha mencintai apapun yang beliau cintai. Jika sang kiai mencintai Allah, maka para santripun akan berusaha “ketularan” mencinta Allah. Nah, ketika Allah sudah menjadi tujuan akhir dalam hati si santri, maka seluruh makhluk-Nya pun akan dicintainya. Kecintaan kepada Allah akan menyebabkan kecintaan kepada sesama manusia.
Inilah hakikat pergaulan di pesantren yang tidak pernah menularkan kebencian, penghinaan, caci-maki, penistaan, dsb., sehingga tidak ada tawuran antar pondok, tidak ada demonstrasi di kalangan santri, tidak ada pengrusakan barang-barang pesantren, dll. Karena semua orang adalah saudara. Semua orang adalah rekan belajar. (Sipe/Liem)