Gaul ala NU, Adakah?
Sipe428x Buletin-khidmah Artikel-utama
Ini pertanyaan unik: adakah gaul ala NU? Benarkah NU punya “trademark” khusus dalam pergaulan? Apa bedanya dengan gaul ala remaja alay?
Sejauh pengamatan kami, orang-orang NU memang punya gaya pergaulan yang khas. Disebut khas karena kaum Nahdliyyin senantiasa menjunjung tinggi akhlaq saat bergaul, terutama saat bergaul dengan orang yang lebih tua (ortu, guru, kiai). Coba lihat, betapa tingginya penghormatan kaum Nahdliyyin kepada kiai/ulama, sampai-sampai mereka dituduh fanatis dan okultis.
Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, saat ngobrol dengan putranya, Kiai Wahid Hasyim, senantiasa memakai bahasa Arab Fushha (fasih). Kiai Wahid ternyata ewuh-pakewuh pake bahasa Arab; beliau justru memakai bahasa Jawa halus (kromo inggil) saat berbicara dengan orang tuanya itu, lengkap dengan sopan santun ala santri (tepo seliro, unggah-ungguh, dll). Padahal, saat itu Kiai Wahid sudah menjadi menteri agama, ketua pelaksana MIAI, dan anggota BPUPKI. Tapi beliau tidak pernah meninggalkan bahasa kromo saat berbicara dengan yang lebih tua.
Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri, dua Rais Am PBNU dan pimpinan fraksi Partai NU di DPR GR, juga tidak kalah gaulnya. Keduanya bisa berdebat sengit di forum bahtsul masail, bahkan terkadang saling gebrak meja, namun setelah itu keduanya saling berebutan menimbakan air saat hendak berwudlu’.
Gus Dur dikenal memiliki pandangan politik yang berseberangan dengan pamannya, KH Yusuf Hasyim (Pak Ud). Bahkan Gus Dur sering mengkritik keras langkah-langkah politik sang paman yang dianggap ekstrim. Tapi, ketika keponakan dan paman itu bertemu dalam satu forum, Gus Dur tidak sungkan-sungkan sungkem (bersalaman sambil mencium tangan) pamandanya.
Khusus mengenai Gus Dur, beliau memang dikenal memiliki teman bergaul yang luas. Ketika masih menjadi presiden, Gus Dur bisa “diterima” semua pemimpin dunia. Saat ngobrol dengan Bill Clinton, beliau bisa bikin Presiden Amerika Serikat itu terbahak-bahak selama hampir 2 jam. Ketika berjumpa Jasquest Chirac, Gus Dur bikin Presiden Prancis itu betah guyonan selama 1 jam lebih. Fidel Castro, pemimpin Kuba yang terkenal “serius” itu, dibuat terpingkal-pingkal oleh candaan cucu pendiri NU tersebut. Gus Dur juga pernah bikin Raja Fahd tersenyum lebar, sehingga rakyat Saudi bisa melihat gigi sang raja yang belum pernah mereka lihat selama 20an tahun.
Selain bisa berkomunikasi dengan para pemimpin dunia, Gus Dur juga mampu berinteraksi dengan kalangan mahasiswa, akademisi, pedagang, ekonom, kiai, tukang becak, termasuk para artis sekalipun. Bahkan, banyak artis-artis yang mengidolakan Gus Dur. Penganut agama apapun, merasa nyaman saat ngobrol dengan Gus Dur. Bukankah orang seperti inilah yang pantas disebut gaul?
Kalo gaul dihubungkan dengan prestasi, maka sulit menemukan pemimpin NU yang prestasinya dapat “menyaingi” Gus Dur. Beliau dikenal sebagai “corong NU” ke dunia luar. Banyak orang yang dulu tidak kenal NU, atau menganggap remeh organisasi yang didirikan tahun 1926 itu, tapi setelah berkenalan dengan Gus Dur, mereka berbalik mengagumi NU. Gus Dur berhasil menjadikan NU sebagai salah satu ormas yang paling diperhitungkan di Indonesia. Sejak zaman Gus Dur, NU merambah dunia dengan membuka cabang-cabang istimewa di Mesir, Maroko, Sudan, Suriah, Tunisia, Aljazair, Yordania, Saudi Arabia, Yaman, Malaysia, Amerika-Kanada, Australia-Selandia Baru, Korea, Taiwan, Jepang, Jerman, Rusia, Inggris, Belanda, Pakistan, Turki, dan Lebanon.
Selain Gus Dur, masih banyak tokoh NU lainnya yang terkenal gaul dan berprestasi. Sebut saja KH. Saifuddin Zuhri, pejuang kemerdekaan dan mantan menteri agama era 1970-an. Beliau bisa berkomunikasi dengan siapapun, mulai dari kalangan santri, mahasiswa, kiai, hingga pejabat, serta menguasai Bahasa Inggris, Arab, Jepang, hingga Belanda. Begitu juga Subhan ZE, aktivis NU era 1980-an yang paling ditakuti Orde Baru. Kemudian KH. Idham Chalid, mantan ketua umum PBNU dan Ketua Fraksi Partai NU era 1960an.
Apalagi tokoh-tokoh NU masa kini, banyak sekali yang gaul abis, berwawasan luas, dan bisa berinteraksi dengan semua kalangan. Sebut saja KH. Sahal Mahfudh, KH. Musthofa Bisri (Gus Mus), KH. Hasyim Muzadi, KH. Masdar Mas’udi, KH. Salahuddin Wahid, hingga KH. Said Aqil Siradj; mereka bisa bergaul dengan semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Meski demikian, kepada yang lebih tua, mereka tidak meninggalkan akhlak khas NU.
Kesimpulannya, gaul ala NU itu harus berilmu tinggi, berpengetahuan luas, berwawasan global, berpikiran maju, bersikap terbuka, namun setia mempertahankan tradisi kaum Nahdliyyin. Di balik kedalaman ilmu dan keluasan cakrawala pemikiran, mereka tetap setia memakai peci (songkok), sarungan, bahkan pake bakiak (pacca’). Berhati NU, berbaju Indonesia, dan berotak Washington. Itulah gaul ala NU.
Coba bandingkan dengan (sebagian) anak muda sekarang. Orangnya sih pake anting, tapi diajak ngomong politik nggak paham. Potongan rambutnya punk, tapi diajak bicara ekonomi nggak nyambung. Celananya bolong, tapi ngobrol pake Bahasa Inggris bingung. Kaosnya emang jangkis, tapi nggak paham perkembangan software komputer. Apalagi diajak ngomong bahasa Arab, pasti plintat-plintut kayak orang o’on. Padahal dia ngaku gaul. Gaul cap apa, tuh?
Teman-temannya pun cuma itu-itu aja. Nggak lucu kan, ada orang ngaku gaul sementara teman-temannya cuma ada di satu kecamatan. Ilmunya cuma muter-muter di satu kabupaten. Wawasannya cuma seluas propinsi. Mestinya, kalo ngaku gaul, ilmu kita mesti mendunia, wawasan kita harus mengglobal, dan teman-teman kita tersebar di seantero negeri.
Jadi, sobat muda Nahdliyyin. Mari kita tiru ulama-ulama kita. Pake pakaian biasa, penampilan senderhana, santun, bersahaja, tapi pikiran terbuka, wawasan luas, teman-temannya mendunia. Daripada pakaian hancur, ilmu sempit, dan pergaulan terbatas. Apa yang bisa dibanggakan? (Sipe)