Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Gaul ala NU, Adakah?

Kamis, 2 Januari 2014 16:47 WIB
428x Buletin-khidmah Artikel-utama

Ini pertanyaan unik: adakah gaul ala NU? Benarkah NU punya “trademark” khusus dalam pergaulan? Apa bedanya dengan gaul ala remaja alay?

Sejauh pengamatan kami, orang-orang NU memang punya gaya pergaulan yang khas. Disebut khas karena kaum Nahdliyyin senantiasa menjunjung tinggi akhlaq saat bergaul, terutama saat bergaul dengan orang yang lebih tua (ortu, guru, kiai). Coba lihat, betapa tingginya penghormatan kaum Nahdliyyin kepada kiai/ulama, sampai-sampai mereka dituduh fanatis dan okultis.

Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, saat ngobrol dengan putranya, Kiai Wahid Hasyim, senantiasa memakai bahasa Arab Fushha (fasih). Kiai Wahid ternyata ewuh-pakewuh pake bahasa Arab; beliau justru memakai bahasa Jawa halus (kromo inggil) saat berbicara dengan orang tuanya itu, lengkap dengan sopan santun ala santri (tepo seliro, unggah-ungguh, dll). Padahal, saat itu Kiai Wahid sudah menjadi menteri agama, ketua pelaksana MIAI, dan anggota BPUPKI. Tapi beliau tidak pernah meninggalkan bahasa kromo saat berbicara dengan yang lebih tua.

Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri, dua Rais Am PBNU dan pimpinan fraksi Partai NU di DPR GR, juga tidak kalah gaulnya. Keduanya bisa berdebat sengit di forum bahtsul masail, bahkan terkadang saling gebrak meja, namun setelah itu keduanya saling berebutan menimbakan air saat hendak berwudlu’.

Gus Dur dikenal memiliki pandangan politik yang berseberangan dengan pamannya, KH Yusuf Hasyim (Pak Ud). Bahkan Gus Dur sering mengkritik keras langkah-langkah politik sang paman yang dianggap ekstrim. Tapi, ketika keponakan dan paman itu bertemu dalam satu forum, Gus Dur tidak sungkan-sungkan sungkem (bersalaman sambil mencium tangan) pamandanya.

Khusus mengenai Gus Dur, beliau memang dikenal memiliki teman bergaul yang luas. Ketika masih menjadi presiden, Gus Dur bisa “diterima” semua pemimpin dunia. Saat ngobrol dengan Bill Clinton, beliau bisa bikin Presiden Amerika Serikat itu terbahak-bahak selama hampir 2 jam. Ketika berjumpa Jasquest Chirac, Gus Dur bikin Presiden Prancis itu betah guyonan selama 1 jam lebih. Fidel Castro, pemimpin Kuba yang terkenal “serius” itu, dibuat terpingkal-pingkal oleh candaan cucu pendiri NU tersebut. Gus Dur juga pernah bikin Raja Fahd tersenyum lebar, sehingga rakyat Saudi bisa melihat gigi sang raja yang belum pernah mereka lihat selama 20an tahun.

Selain bisa berkomunikasi dengan para pemimpin dunia, Gus Dur juga mampu berinteraksi dengan kalangan mahasiswa, akademisi, pedagang, ekonom, kiai, tukang becak, termasuk para artis sekalipun. Bahkan, banyak artis-artis yang mengidolakan Gus Dur. Penganut agama apapun, merasa nyaman saat ngobrol dengan Gus Dur. Bukankah orang seperti inilah yang pantas disebut gaul?

Kalo gaul dihubungkan dengan prestasi, maka sulit menemukan pemimpin NU yang prestasinya dapat “menyaingi” Gus Dur. Beliau dikenal sebagai “corong NU” ke dunia luar. Banyak orang yang dulu tidak kenal NU, atau menganggap remeh organisasi yang didirikan tahun 1926 itu, tapi setelah berkenalan dengan Gus Dur, mereka berbalik mengagumi NU. Gus Dur berhasil menjadikan NU sebagai salah satu ormas yang paling diperhitungkan di Indonesia. Sejak zaman Gus Dur, NU merambah dunia dengan membuka cabang-cabang istimewa di Mesir, Maroko, Sudan, Suriah, Tunisia, Aljazair, Yordania, Saudi Arabia, Yaman, Malaysia, Amerika-Kanada, Australia-Selandia Baru, Korea, Taiwan, Jepang, Jerman, Rusia, Inggris, Belanda, Pakistan, Turki, dan Lebanon.

Selain Gus Dur, masih banyak tokoh NU lainnya yang terkenal gaul dan berprestasi. Sebut saja KH. Saifuddin Zuhri, pejuang kemerdekaan dan mantan menteri agama era 1970-an. Beliau bisa berkomunikasi dengan siapapun, mulai dari kalangan santri, mahasiswa, kiai, hingga pejabat, serta menguasai Bahasa Inggris, Arab, Jepang, hingga Belanda. Begitu juga Subhan ZE, aktivis NU era 1980-an yang paling ditakuti Orde Baru. Kemudian KH. Idham Chalid, mantan ketua umum PBNU dan Ketua Fraksi Partai NU era 1960an.

Apalagi tokoh-tokoh NU masa kini, banyak sekali yang gaul abis, berwawasan luas, dan bisa berinteraksi dengan semua kalangan. Sebut saja KH. Sahal Mahfudh, KH. Musthofa Bisri (Gus Mus), KH. Hasyim Muzadi, KH. Masdar Mas’udi, KH. Salahuddin Wahid, hingga KH. Said Aqil Siradj; mereka bisa bergaul dengan semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Meski demikian, kepada yang lebih tua, mereka tidak meninggalkan akhlak khas NU.

Kesimpulannya, gaul ala NU itu harus berilmu tinggi, berpengetahuan luas, berwawasan global, berpikiran maju, bersikap terbuka, namun setia mempertahankan tradisi kaum Nahdliyyin. Di balik kedalaman ilmu dan keluasan cakrawala pemikiran, mereka tetap setia memakai peci (songkok), sarungan, bahkan pake bakiak (pacca’). Berhati NU, berbaju Indonesia, dan berotak Washington. Itulah gaul ala NU.

Coba bandingkan dengan (sebagian) anak muda sekarang. Orangnya sih pake anting, tapi diajak ngomong politik nggak paham. Potongan rambutnya punk, tapi diajak bicara ekonomi nggak nyambung. Celananya bolong, tapi ngobrol pake Bahasa Inggris bingung. Kaosnya emang jangkis, tapi nggak paham perkembangan software komputer. Apalagi diajak ngomong bahasa Arab, pasti plintat-plintut kayak orang o’on. Padahal dia ngaku gaul. Gaul cap apa, tuh?

Teman-temannya pun cuma itu-itu aja. Nggak lucu kan, ada orang ngaku gaul sementara teman-temannya cuma ada di satu kecamatan. Ilmunya cuma muter-muter di satu kabupaten. Wawasannya cuma seluas propinsi. Mestinya, kalo ngaku gaul, ilmu kita mesti mendunia, wawasan kita harus mengglobal, dan teman-teman kita tersebar di seantero negeri.

Jadi, sobat muda Nahdliyyin. Mari kita tiru ulama-ulama kita. Pake pakaian biasa, penampilan senderhana, santun, bersahaja, tapi pikiran terbuka, wawasan luas, teman-temannya mendunia. Daripada pakaian hancur, ilmu sempit, dan pergaulan terbatas. Apa yang bisa dibanggakan? (Sipe)

  • Ahad, 8 Februari 2015 09:06 WIB Mencium Tangan Guru Dianjurkan

    DISKRIPSI MASALAH Salah satu tradisi warga NU ketika bertemu warga NU lainnya mereka berjabat tangan (asalaman). Bahkan tidak hanya sekedar itu, akan tetapi ada pula yang sampai mencium tangan dengan alasan takdzim, apabila yang mereka jumpai adalah orang alim atau gurunya.   PERTANYAAN Bagaimana

  • Ahad, 8 Februari 2015 08:45 WIB Sosialisasi Korporatisasi Garam Rakyat

    Sosialisasi korporatisasi garam rakyat makin gencar dilakukan PBNU. Seperti yang dilakukan hari Sabtu (7-2-2015) di kantor MWC NU Pragaan, Tim sosialisasi bersama Ketua PCNU Sumenep jumpai petani garam rakyat yang ada di MWC NU Pragaan. Dalam arahannya Ketua Tim Rokib Ismail mengatakan bahwa pemerintah akan

  • Ahad, 1 Februari 2015 22:49 WIB NU Pragaan Mulai Gencarkan Info KARTANU

    Jaddung menjadi ranting NU pertama yang didatangi Tim Kartanu MWC NU Pragaan. Setelah pagi harinya membentuk TIM, sore harinya Ahad (1-2-2015) di kediaman KH. Asnawi Sulaiman PP Al-Ihsan Jaddung TIM Kartanu sosialisasikan Kartanu kepada pengurus dan warga yang ikut perkumpulan ranting. Rais Syuriyah KH. Moh.

  • Sabtu, 31 Januari 2015 22:47 WIB PWNU Ajak PCNU Genjot Kartanu Jilid II

    Meskipun sepanjang pagi diguyur hujan, tak menyurutkan PWNU merapat dengan PCNU dan MWC NU se Kabupaten Sumenep, sabtu (31-01-2015). PWNU sebutkan perolehan Kartanu Sumenep baru 17.000. Jumlah ini masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan PCNU lain. Padahal Sumenep potensi kewargaannya kuat. KH.

  • Rabu, 28 Januari 2015 04:06 WIB LPNU Study Pengelolaan Penggemukan Sapi

    Takut keliru dalam memulai usaha penggemukan ternak, pengurus LPNU adakan study awal pendirian kandang komunal, dan pemeliharaan sapi, pada hari Rabu, 28 Januari 2015. Lokasi study  yang dipilih adalah Kelompok Tani di Pamekasan Madura. Kelompok tani ini telah punya banyak pengalaman mengikuti pendidikan

  • Jumat, 23 Januari 2015 04:10 WIB LPNU Pertajam Program Penggemukan Sapi

    Sehari setelah dilantik, Lembaga Perekonomian NU Pragaan langsung tancap gas gelar rapat lanjutan di Kantor MWC NU Pragaan, Jum’at, 23 Januari 2015 M. Rapat yang dimulai pada jam 15.00 Wib ini mempertajam program unggulan LPNU yaitu penggemukan ternak sapi dengan kandang komunal. Penggemukan sapi dengan

  • Kamis, 22 Januari 2015 15:00 WIB NU Aeng Panas Bangkit Adakan Haul Akbar

    Seolah ingin menepis anggapan ranting NU yang mati, pengurus baru Ranting NU Aeng Panas bangkit mengadakan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian kitab dan konsolidasi, bergiliran dari rumah pengurus ke rumah pengurus lainnya. Bulan maulid tahun inipun dengan bangga mengadakan Haul Akbar dan Peringatan Maulid

  • Kamis, 2 Januari 2014 16:50 WIB Santri Gaul

    Menguak Rahasia Pergaulan Kaum Santri Ah, kamu gak gaul. Masak berpenampilan kayak gitu Hari gini masih pake peci Udah gak jamannya pake sarung. Masa pergi ke kota pake kerudung Begitulah celetukan muda-mudi masa kini. Gaul bagi mereka adalah berpenampilan ala Barat: tanpa peci atau jilbab, rambut punk, suka

  • Kamis, 2 Januari 2014 16:47 WIB Gaul ala NU, Adakah?

    Ini pertanyaan unik: adakah gaul ala NU Benarkah NU punya trademark khusus dalam pergaulan Apa bedanya dengan gaul ala remaja alay Sejauh pengamatan kami, orang-orang NU memang punya gaya pergaulan yang khas. Disebut khas karena kaum Nahdliyyin senantiasa menjunjung tinggi akhlaq saat bergaul, terutama saat

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:28 WIB Pemuda NU Itu Aset yang Tak Ternilai

    Secara akademis, banyak pemuda NU yang jenjang pendidikannya cukup tinggi. Namun tidak sedikit di antara mereka yang kepeduliannya kepada NU cenderung menipis. Padahal secara manajemen, NU belum benar-benar mapan. Untuk mengurai masalah ini, wartawan Khidmah Zubairi El-Karim dan Abd Rafik mewawancarai Ketua

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:26 WIB Dari Urunan hingga Shalat Istikharah

    MengintipKarakteristik Jamiyyah NU   Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial-keagamaan yang memiliki corak yang khas dan unik, yang tidak dimiliki organisasi lain. Kekhasan itu tidak lepas dari sejarah kelahirannya yang dipenuhi kisah-kisah khas bernuansa adi-kodrati, seperti menunggu hasil

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:24 WIB Tantangan NU Semakin Berat

    Memasuki abad milenium ini, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi banyak persoalan, baik dari dalam maupun dari luar, baik urusan organisasi, politik, sosial, maupun problem keagamaan. Untuk mengurai masalah ini, wartawan Khidmah Zubairi El-Karim dan Abd Rafik, mewawancarai Mantan Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Hasyim

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:21 WIB Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan

    Memahami Akidah dan Keunikan Jamaah NU Secara umum, Nahdlatul Ulama (NU) dapat dilihat dari 3 (tiga) sisi; NU sebagai jamiyyah (organisasi), NU sebagai jamaah (warga), dan NU sebagai akidah dan amaliyah (ajaran). Sebagai organisasi, NU merupakan jamiyah ijtimaiyyah diniyah islamiyah (organisasi

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan