Indahnya Silaturahim
Asr354x Buletin-khidmah Artikel-utama
Wawancara dengan KH. Imam Hendriyadi Syarqawi, M.Ag.
Sebenarnya apa dimaksud dari silaturrahim itu, Kiai?
Silaturrahim itu bahasa kitabnya. Kalau di-Indonesiakan, ya komunikasi. Silaturrahim tidak semata-mata berajangsana dari satu rumah ke rumah lain. Terpisah jarak yang jauh sekalipun, sepanjang komunikasi tetap terjalin, itu namanya masih silaturrahim. Silaturrahim itu mendekatkan saudara–saudara kita yang jauh.
Â
Jadi hakikatnya?
Bagi saya silaturrahim itu hakikatnya adalah bertemunya hati dalam komunikasi, dalam persaudaraan yang sungguh-sungguh. Silaturrahim itu bukan semata pertemuan fisik, tetapi lebih kepada pertemuan hati, ‘alaqah b?thiniyyah. Sering kita jumpai orang yang secara fisik berhadap-hadapan, berkumpul di satu tempat, tapi hatinya saling membelakangi. Dalam terminologi al-Quran disebut: tahsabuhum jam?‘? wa qul?buhum syatt? (mereka berkumpul tapi hati mereka bercerai-berai). Silaturrahim itu idealnya jasad dan hati bertemu, zh?hiran wa b?thinan.
Â
Cara bersilaturrahim masyarakat modern cenderung menggunakan media elektronik seperti HP, bagaimana kiai memandang fenomena ini?
Teknologi seperti HP itu memang diciptakan untuk memudahkan manusia berkomunikasi. Maka dalam konteks ini, prinsip Wa al-akhdzu bi al-jad?d al-ashlah menurut saya baik. Tidak salah menjadikan HP sebagai media silaturrahim, meski tidak pada tataran ideal. Idealnya, ya tetap beranjangsana, bertemu muka. Terkadang, karena tak bertemu muka dan lepas dari konteks, komunikasi eletronik berpotensi melahirkan salah paham. Yang kita harapkan perdamaian, tapi yang muncul malah permusuhan.
Â
Kenapa itu bisa terjadi?
Silaturrahim lewat HP atau internet terkadang tak mampu menerjemahkan aura wajah dan bahasa tubuh seseorang. Orang bicara datar-datar dan dengan hati yang tulus, boleh jadi dipahami marah-marah. Begitu pun sebaliknya, yang sesungguhnya masih menyimpan dendam, terkadang dipahami sudah tak ada persoalan. Contoh konkretnya adalah perundingan Indonesia-Swiss tentang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kata Pak Yusuf Kalla, perundingan tak kunjung menemukan kesepahaman karena cara dan gaya komunikasinya yang salah dan sepihak. Aceh tak bisa diselesaikan melalui media teknologi yang cenderung sporadis dan terpisah. Baru setelah kedua pihak duduk semeja, perundingan menghasilkan nota perdamaian. Itulah buah dan kekuatan silaturrahim.
Â
Silaturrahim itu memanjangkan umur dan murah rezeki, bagaimana logikanya?
Komunikasi itu, kata ahli komunikasi, ibarat peredaran darah dalam tubuh. Kalau peredaran darah pada organ-organ ini lancar maka hidupnya akan sehat. Kalau ada satu saja yang tersumbat, pasti akan mengganggu kesehatan. Demikian juga dengan silaturrahim; kalau komunikasi dengan banyak orang tak ada hambatan maka rezekinya akan lancar. Kalau rezekinya lancar, hidupnya akan produktif. Dan, kalau hidupnya produktif, umurnya akan panjang. Contoh, kalau di rumah kita memikul bertumpuk masalah, lalu kita keluar dan bertemu dengan kawan atau kerabat, tentu kita akan menemukan solusi dari permasalahan tersebut sehingga jiwa kita pun jadi lapang.
Â
Sederhanya, Kiai?
Sederhananya, ruwet itu mempercepat kematian, sedangkan lapang itu memperpanjang kehidupan. Kita kan tidak tahu umur kita berapa, rezeki kita berapa? Hanya Allah yang tahu, kan? Namun, yang pasti silaturrahim berkahnya akan berpengaruh baik pada kualitas umur dan rezeki kita. Ada nilai ta’abbud-nya di situ; sesuatu yang menjadi rahasia Allah. Di situ silaturrahim dapat meneguhkan kualitas spiritual kita, sehingga kita dapat survive dalam kehidupan ini. Jika kita berlapang dada menerima kenyataan hidup, Allah akan membukakan pintu-pintu berkah untuk kita. Di sinilah indahnya silaturrahim.
Â
Sering terjadi silaturrahim terputus. Penyebabnya, Kiai?
Menurut saya, siturahim terputus karena kurangnya penghayatan terhadap nilai-nilai agama. Bukankah semua yang kita miliki ini titipan Allah? Kalau ini kita hayati dengan baik, untuk apa kita bertengkar? Tokoh dan pemimpin pun, jika benar-benar menghayati kandungan nilai silaturrahim dengan baik, pasti tidak akan terjebak dalam permusuhan, entah itu karena persoalan jabatan atau materi. Ini penting supaya umat dapat hidup damai. Dalam bentuk apa pun, memutus silaturrahim ini tidak baik. Kita mesti belajar membebaskan jiwa dari belenggu nafsu. Kita harus menganggap siapa pun sebagai teman, bukan musuh, sehingga jiwa kita merdeka dan hidup jadi penuh berkah.
Â
Bagaimana pandangan Kiai tentang hadits, Irham? man fil ardhi yarhamkum man fis sam?’i, yang sering dijadikan sandaran nilai berkah silaturrahim?
Menurut saya, hadis itu mengindikasikan sesuatu yang universal. Seseorang yang lapang jiwanya dalam mengasihi apa yang ada di bumi, maka Allah juga akan membuka pintu langit seluas-luasnya sehingga bumi menjadi tempat yang subur dan indah. Kenapa? Karena dengan jiwa yang mekar itulah ia dapat membaca rahasia-rahasia Allah yang berpendar-pendar di jagad raya. Perhatikan kisah seorang wali yang melihat burung sedang makan, lalu berhenti sejenak karena tidak ingin mengganggu kenikmatan makannya. Juga kisah seorang wali yang melihat seseorang masih berbuat maksiat, padahal sudah diberi peringatan, tidak lalu berlaku kasar kepadanya. Bukan karena ia rela dengan kemungkaran, tapi karena ia pasrah pada takdir Allah, yakin inilah yang dikehendaki Allah kepada orang itu. Apa yang kemudian dilakukan sang wali adalah mendoakan agar orang itu segera diberi petunjuk ke jalan-Nya. Kelapangan dada semacam inilah yang membuka pintu-pintu rahmat dari Allah.
Â
Dalam kehidupan keluarga, bagaimana membangun jiwa silaturrahim?
Ya itu tadi, lapang dada dan saling mengerti hak serta kewajiban masing-masing. Ayah diposisikan sebagai pengambil kebijakan, tapi ayah juga memberi hak pada ibu dan anak-anak untuk menyampaikan pendapat. Ayat al-Qur’an dalam surah Al-Nis?’ cukup menggambarkan hubungan silaturrahim yang baik dalam keluarga. Ar-rij?lu qaww?m?na ‘alan-nis?’ bima fadhdhalall?hu ba‘dhahum ‘al? ba‘dhin wa bim? anfaq?. Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Ayah adalah pemimpin bagi ibu. Dan, ibu mendidik anak-anak. Allah memilih laki-laki sebagai pemimpin keluarga bukan karena faktor superioritas. Tapi, karena Allah tahu banyak kelebihan dalam diri laki-laki; ya fisiknya, ya pribadinya, akalnya, ketangguhannya menghadapi masalah, jiwa melindunginya, dan lain-lain. Karenanya, ia harus berlaku bijaksana.
Â
Kenapa silaturrahim dalam keluarga terkadang putus oleh sesuatu yang sepele?
Kebanyakan karena masing-masing (ayah atau ibu) berebut menjadi nahkoda. Ibarat perahu di tengah samudera, di antara terjangan ombak, berikan nahkodanya pada ayah agar tidak terjadi benturan-benturan kepentingan yang dapat membuat perahu oleng dan menabrak karang. Coba perhatikan keluarga yang sering bertengkar, pasti jauh dari rezeki, umur perkawinannya singkat, keluarganya tidak barokah. Kenapa? Karena tak ada ketenangan. Ketundukan anak pada ayah dan ibu, sejatinya bukan sekadar berlandaskan hubungan vertikal, tapi lebih pada motivasi untuk menyenangkan hati orangtua. Tak sedikit pemimpin besar dunia berhasil meniti karier karena pandai menyenangkan hati ibu-bapaknya. Dalam konteks ini, kisah sahabat Nabi, ‘Alqamah, patut menjadi bahan renungan kita semua.
Â
Terakhir, bagaimana dengan sebagian elit NU yang berseteru, dan ini dipahami orang awam bukan sebagai contoh yang baik?
Dalam pandangan saya, pertengkaran sebagian kecil elit NU yang dipahami orang awam sebagai “perseteruan”, tidaklah sampai pada tingkat ‘ad?wah (permusuhan). Itu sekadar berbeda pendapat untuk sebuah pandangan menyelamatkan umat. Bukankah perbedaan pendapat itu rahmat? Kalau orang baik bertengkar karena kebaikan, itu di sisi Allah masih baik. Contohnya, tiga dari empat khulaf?ur r?syid?n—Umar ibn al-Khaththab, Utsman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib—wafat karena terbunuh. Itu karena perselisihan dalam memperjuangkan keyakinan dan kebaikan. Tapi, siapa yang berani mengklaim sahabat-sahabat dekat Rasulullah itu masuk neraka? Lihat juga Perang Jamal dan Perang Shiffin. Itu perang antar sahabat, lho. Tidak elok kita sebagai warga NU menganggap itu semua sebagai bentuk ‘ad?wah (permusuhan). (Zbr-Fik)