Bagi para ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), bulan Dzulhijjah bukan sekadar bulan biasa, melainkan salah satu momentum spiritual terbesar dalam Islam. Keistimewaan bulan ini sering kali diulas mendalam oleh para syekh dan kiai NU, baik melalui kitab-kitab klasik maupun tausiyah mereka.
Berikut adalah keistimewaan bulan Dzulhijjah menurut pandangan dan ajaran para tokoh NU:
1. Puncak dari “Asyhurul Hurum” (Bulan-Bulan Mulia)
Para tokoh NU sering mengingatkan bahwa Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan yang disucikan (Asyhurul Hurum), bersama dengan Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab. Di bulan-bulan ini, Allah melarang manusia berbuat zalim dan melipatgandakan pahala amal saleh. KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) dalam beberapa ngajinya sering menekankan bahwa menghormati bulan mulia ini cukup dengan tidak melakukan maksiat dan memperbanyak rasa syukur.
2. Sepuluh Hari Pertama yang Mengalahkan Pahala Jihad
Salah satu hadis yang paling sering dikutip oleh para kiai NU saat memasuki bulan ini adalah keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah. Amal saleh di waktu ini disebut lebih dicintai Allah daripada jihad di jalan Allah, kecuali jihadnya orang yang menyerahkan seluruh jiwa dan hartanya tanpa sisa. Oleh karena itu, warga NU (Nahdliyin) diajak untuk memaksimalkannya dengan:
- Puasa Sunah: Khususnya puasa sunah dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah.
- Memperbanyak Zikir: Membaca tahlil, tahmid, dan takbir.
3. Hari Arafah (9 Dzulhijjah): Penghapusan Dosa Dua Tahun
Bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, para tokoh NU sangat menganjurkan pelaksanaan Puasa Arafah. Keistimewaan hari ini, sebagaimana sering disampaikan dalam khotbah-khotbah resmi NU, adalah kemampuannya menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Hari ini juga merupakan waktu di mana Allah paling banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka.
4. Simbol Ketaatan Total Melalui Ibadah Qurban
Idul Adha dan hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah waktu pelaksanaan ibadah qurban. Tokoh-tokoh NU, termasuk para Rais ‘Aam sepanjang sejarah NU, selalu menekankan bahwa qurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan simbol taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dan kepedulian sosial. Hewan qurban yang disembelih menjadi bukti keikhlasan dalam mengorbankan ego dan harta demi meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Pesan Spiritual Tokoh NU:
“Bulan Dzulhijjah adalah waktu terbaik untuk menata kembali hubungan kita dengan Allah melalui takwa, dan hubungan dengan sesama manusia melalui berbagi daging qurban. Jangan biarkan hari-hari mulia ini berlalu tanpa bekas.”
Oleh : Muhamnad Alimudin
Wakil Bendahara MWCNU Pragaan

