May 2026

Oleh: KH. Abd. Warits Anwar

Pada masa dahulu, sebagian Bani Israil memiliki kebiasaan mandi bersama dalam keadaan tanpa busana sehingga mereka dapat saling melihat aurat satu sama lain. Nabi Musa AS merasa tidak nyaman dengan kebiasaan tersebut. Beliau lebih memilih mandi seorang diri sebagai wujud penjagaan kehormatan, kemuliaan diri, dan sifat muruah yang dimilikinya.

Namun, sikap beliau yang berbeda dari kebiasaan umum justru memunculkan prasangka dan isu yang tidak sedap. Sebagian Bani Israil menuduh bahwa Nabi Musa AS enggan mandi bersama mereka karena memiliki cacat atau penyakit tertentu. Mereka berkata, “Musa tidak mau mandi bersama kita karena ia memiliki penyakit hernia atau penyakit pada kemaluannya.”

Allah SWT tidak membiarkan tuduhan tersebut berkembang menjadi fitnah yang merusak kehormatan seorang nabi. Dia berkehendak menampakkan kebenaran dan membersihkan nama Nabi Musa AS dari segala prasangka buruk.

Pada suatu hari, Nabi Musa AS mandi sendirian. Sebelum mandi, beliau meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Ketika beliau sedang mandi, atas kehendak Allah SWT batu tersebut bergerak membawa lari pakaian beliau. Nabi Musa AS pun segera keluar dan mengejarnya sambil berseru, “Pakaianku, wahai batu! Pakaianku, wahai batu!”

Saat itu, sejumlah Bani Israil sedang berada di sekitar tempat tersebut. Mereka melihat Nabi Musa AS dengan jelas dan menjadi saksi bahwa beliau sama sekali tidak memiliki penyakit sebagaimana yang selama ini mereka tuduhkan. Dengan demikian, terbantahlah seluruh prasangka dan isu yang beredar di tengah masyarakat.

Setelah orang-orang Bani Israil menyaksikan kenyataan tersebut, batu itu berhenti. Nabi Musa AS kemudian mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut berkali-kali sebagai ungkapan kekesalan atas peristiwa yang baru saja terjadi. Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa bekas pukulan Nabi Musa AS masih tampak pada batu itu, sekitar enam atau tujuh bekas pukulan.

Kisah ini mengajarkan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri. Isu dan prasangka buruk mungkin dapat menyebar dengan cepat, tetapi ketika fakta terungkap, fitnah akan runtuh dengan sendirinya. Karena itu, sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu kabar, sudah sepatutnya kita meneliti kebenarannya agar tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran fitnah.

Sumber: Kitab Fathul Mubdi’ Syarh Mukhtashar Az-Zabidi, Juz 1.

Nuonline.pragaan — Pengurus Ranting Fatayat Nahdlatul Ulama Jaddung menggelar pertemuan rutin triwulan yang dirangkai dengan pembacaan dan kajian Kitab Maulid Ad-Diba’i pada Sabtu (30/5/2026) di kediaman Sahabat Rohami, Dusun Bulu, Desa Jaddung.

Kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan dihadiri oleh pengurus serta anggota Fatayat NU Jaddung. Acara diawali dengan pembacaan istighasah yang dipimpin oleh Sahabat Uswatun Hasanah, S.E., dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Nahdlatul Ulama, Syubbanul Wathan, dan Mars Fatayat yang dipandu oleh Sahabat Arifah, S.Pd.

Selanjutnya, peserta mengikuti pembacaan Surah Yasin dan doa bersama yang dipimpin oleh Sahabat Ny. St. Aisyah, S.Pd.I. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kajian Kitab Maulid Ad-Diba’i yang diasuh oleh Kiai Fathor Rohman Hasbullah.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Fathor mengulas isi kitab halaman 97–98 yang menjelaskan keteguhan Rasulullah SAW dalam menghadapi berbagai bentuk penolakan, hinaan, dan cemoohan dari kaum yang tidak beriman. Meski menghadapi tekanan yang berat, Rasulullah SAW tetap mengedepankan kesabaran karena belum ada perintah dari Allah SWT untuk melakukan perlawanan. Dalam kondisi tersebut, Rasulullah SAW mengarahkan para sahabat untuk berhijrah ke Habasyah sebagai upaya menjaga keimanan dan keselamatan mereka.

Melalui kegiatan rutin ini, PRFNU Jaddung berupaya menjaga tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah, mempererat tali silaturahmi antaranggota, serta menanamkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah dalam suasana penuh kekeluargaan. (MQ)

Oleh: KH. Abd. Warits Anwar

Suatu ketika Nabi Ayyub AS mandi telanjang. Mandi sendirian penuh khidmat.Ditengah keasyikan mandi, datanglah seekor belalang istimewa, belalang luar biasa, belalang emas. Beliau begitu tertarik dengan belalang yang tak biasa itu.

Segeralah Beliau mengambil baju untuk menangkapnya. Namun sebelum Beliau beraksi, datanglah suatu “teguran” dari Yang Maha Rahim : “Wahai Ayyub, masih belum cukupkah engkau dari apa yang Aku berikan padamu?”

Ayyub AS menjawab. : “Demi kemulyaan-Mu ya Allah. Sudah cukup. Namun ada satu yg aku tak akan merasa cukup.”

“Apa itu?”

Ayyub menjawab, “Barokah-Mu. Barokah yg ada pada belalang emas-Mu.”

Rupanya, yang nampak bagi Nabi Ayyub AS bukan emasnya, tapi barokah yg ada didalam belalang emas. Aw kama qaala.

Catatan : Begitukah ketika kita berhadapan dg makanan? Uang? Atau yang lain-lain?

Diambil dari kitab At-Tajriidus Shorih, bab Al Ghusli

Mekkah-Pada hari ini, Jumat, 29 Mei 2026, yang bertepatan dengan 12 Dzulhijjah 1447 H, posisi jamaah haji Indonesia sedang berada dalam fase Hari Tasyrik kedua.

Hasil kontak dengan Ramli (Ranting NU Pragaan Daya I), ia menyampaikan bahwa, berdasarkan Rencana Perjalanan Haji (RPH) 2026 resmi dari kementerian terkait, jamaah akan melaksanakan ibadah sesuai dengan jadwal dan ketentuan yang berlaku. berikut adalah aktivitas dan agenda utama para jamaah haji saat ini:

Agenda Jamaah Haji Hari Ini (29 Mei 2026)

  • Melanjutkan Lontar Jumrah: Jamaah haji berada di Mina untuk melaksanakan prosesi melontar tiga jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah).
  • Nafar Awal: Bagi jamaah haji yang mengambil pilihan Nafar Awal (meninggalkan Mina lebih cepat), hari ini adalah batas akhir bagi mereka untuk meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam. Mereka kemudian bergerak kembali menuju hotel di Makkah.
  • Persiapan Nafar Tsani: Bagi jamaah yang mengambil Nafar Tsani, mereka masih akan menetap di Mina hingga esok hari (13 Dzulhijjah) untuk menyelesaikan seluruh rangkaian melontar jumrah.

Fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) sudah berlangsung sejak awal minggu ini, dan fase kepulangan akan segera dimulai:

  • 26 Mei 2026 (9 Dzulhijjah): Wukuf di Arafah.
  • 27 Mei 2026 (10 Dzulhijjah): Hari Raya Idul Adha / Nahr (Melontar Jumrah Aqabah & Tahallul).
  • 28–30 Mei 2026 (11–13 Dzulhijjah): Hari Tasyrik (Melontar Jumrah Ula, Wustha, Aqabah).
  • 1 Juni 2026 (15 Dzulhijjah): Awal pemulangan jamaah haji Gelombang I dari Makkah ke Tanah Air melalui bandara Jeddah.

Saat ini fokus utama petugas di lapangan adalah memastikan kesehatan jamaah tetap terjaga selama di Mina serta mengatur pergerakan transportasi untuk pendorong jamaah yang melakukan Nafar Awal kembali ke Makkah.

Selain kegiatan tersebut, Ramli juga menegaskan bahwa segala bentuk kegiatan ibadah yang dilaksanakan di Makkah juga dikondisikan oleh cuaca yang sangata Ekstrem. sehingga terdapat beberapa waktu larangan melontar jumrah di siang hari

Suhu udara di kawasan Mina hari ini dilaporkan mencapai 41°C. Demi keselamatan, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mengeluarkan larangan keras bagi jamaah Indonesia untuk keluar melontar jumrah pada siang hari (pukul 11.00 hingga 16.00 waktu setempat). Jamaah diminta memanfaatkan waktu utama (afdhal) lainnya pada sore atau malam hari saat cuaca jauh lebih sejuk.

Hari ini adalah puncak pergerakan Nafar Awal. Sebagian besar jamaah Indonesia yang memilih opsi ini dijadwalkan harus sudah meninggalkan tenda-tenda di Mina menuju hotel mereka di Makkah sebelum matahari terbenam. Bus-bus shalawat dan angkutan khusus telah disiagakan di jalur-jalur evakuasi Mina untuk menghindari penumpukan massa.

Wakil Menteri Agama sekaligus anggota Amirul Hajj, Romo Muhammad Syafii, yang meninjau langsung tenda misi haji di Mina menyatakan bahwa pelayanan haji tahun 1447 H / 2026 M ini mengalami peningkatan kualitas yang sangat signifikan (lompatan besar).

  • Ketepatan Jadwal & Istitaah: Ketepatan penerbangan dinilai jauh lebih baik, didukung oleh pengetatan syarat kesehatan sejak di tanah air. Tercatat ada 345 calon jamaah yang sempat dipulangkan/dibatalkan berangkat di bandara embarkasi demi keselamatan jiwa mereka karena kondisi fisik yang drop saat pemeriksaan akhir.
  • Akomodasi: Keluhan mengenai hotel jauh (seperti di Sektor 10 Al-Hidayah) berhasil diredam karena fasilitas kamar yang sangat baik serta manajemen bus penjemputan yang dinilai jemaah layaknya layanan VIP.

Hingga memasuki fase akhir di Mina ini, dilaporkan jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci tercatat sebanyak 24 orang. Mayoritas disebabkan oleh faktor kelelahan akut, serangan jantung, dan penyakit bawaan (komorbid) yang dipicu oleh cuaca panas ekstrem selama fase Armuzna. Petugas kesehatan terus menyisir tenda-tenda untuk memantau jamaah lansia dan risiko tinggi (risti).

Bagi jamaah yang telah kembali ke Makkah hari ini dan menyelesaikan Thawaf Ifadhah serta Sai, bersiap untuk fase pemulangan. Asrama Haji Embarkasi di tanah air (salah satunya Debarkasi Makassar) sudah merilis jadwal resmi penjemputan. Pemulangan jamaah Gelombang I akan dimulai serentak pada 1 Juni 2026 melalui Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. (Zan)

Jemaah haji asal Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura tergabung dalam gelombang awal keberangkatan dari Madura menuju Embarkasi Surabaya (SUB) menuju ke Tanah Suci. di tanah Suci Mekkah dan Madinah, mereka tak luput dari berbagai rintangan dan persyaratan yang tak boleh dilanggar. Dan harus menghadapi berbagai iklim dan cuaca yang bukan lagi seperti di tanah kelahiran mereka.

Dalam percakapan Via Video Call , Berikut penjelasan Wartik memgenai kabar dan kondisi terkini mengenai rombongan jemaah haji asal Sumenep, termasuk dari wilayah Pragaan, selama menjalani fase puncak haji:

1. Posisi Terkini di Fase Armuzna

Secara umum, jemaah dari Pragaan beserta rombongan dari Kabupaten Sumenep lainnya saat ini telah menyelesaikan rangkaian utama wukuf di Arafah. Berdasarkan pimpinan kloter dan bimbingan ibadah setempat, jemaah diarahkan untuk fokus menyelesaikan rangkaian Mina (mabit dan lempar jumrah ula, wustha, dan aqabah) dengan memanfaatkan waktu-waktu yang dinilai lebih aman (tidak terlalu terik).

2. Mayoritas Lansia Mengambil Skema Badala atau Murur

Kecamatan Pragaan dikenal memiliki proporsi jemaah lansia dan risti (risiko tinggi) yang cukup signifikan pada musim haji kali ini.

  • Demi keselamatan jemaah, para ketua regu (Karu) dan ketua rombongan (Karom) asal Sumenep menerapkan koordinasi ketat agar jemaah lansia tidak memaksakan diri berjalan kaki ke Jamarat untuk melempar jumrah secara langsung.
  • Prosesi lempar jumrah bagi jemaah lansia asal Pragaan mayoritas dibadalkan (diwakilkan) kepada jemaah lain yang lebih muda atau petugas kloter yang kondisinya prima.

3. Kekompakan Khas Warga Madura

Salah satu poin positif yang dilaporkan dari kloter-kloter asal Madura (termasuk Sumenep) adalah tingginya rasa solidaritas antardesa dan antarkecamatan. Sistem kekerabatan yang erat membuat para jemaah muda secara sukarela membantu jemaah lansia asal Pragaan saat berada di tenda Mina, baik dalam hal membagikan katering, membantu mobilitas ke toilet maktab, hingga saling mengingatkan untuk menjaga hidrasi (minum air putih dicampur oralit).

4. Tantangan Cuaca Ekstrem

Tim kesehatan kloter yang mendampingi jemaah Madura terus melakukan sweeping berkala di dalam tenda-tenda Mina. Jemaah asal Pragaan diimbau secara personal untuk menahan diri dari aktivitas berbelanja atau sekadar keluar tenda jika tidak ada keperluan ibadah yang mendesak, mengingat suhu ekstrem di sekitar maktab Mina rentan memicu kelelahan akut.

Secara keseluruhan, hingga laporan dari maktab di Mina diterima, rombongan jemaah haji asal Pragaan, Sumenep terpantau dalam kondisi aman dan terorganisir dengan baik di bawah pengawasan ketat para petugas PPIH kloter.

Selain itu, Warga Pragaan laok tersebut menyampaikna bahwa, ada beberapa kabar terbaru dan kebijakan spesifik yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi khusus untuk jemaah asal Indonesia:

1. Penerapan Skema Murur Massal di Muzdalifah

Untuk pertama kalinya, Kemenag menerapkan skema murur secara masif bagi sekitar 55.000 jemaah haji reguler risiko tinggi, lansia, dan disabilitas.

  • Mekanisme: Jemaah yang masuk dalam kategori ini tidak turun dari bus untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah. Bus yang membawa mereka dari Arafah langsung melintas menuju tenda maktab di Mina.
  • Tujuan: Kebijakan ini sukses mengurai kepadatan luar biasa di area Muzdalifah yang tahun-tahun sebelumnya sering memicu kelelahan ekstrem pada lansia.

2. Fasilitas Tenda Mina “Mina Jadid” dan Area Perluasan

Sebagian jemaah haji Indonesia ditempatkan di wilayah perluasan Mina (sering disebut Mina Jadid). Kemenag terus mengedukasi jemaah mengenai aspek syar’i mabit di wilayah ini guna meredam polemik, serta memastikan logistik dan posko kesehatan di area perluasan ini tetap sama lengkapnya dengan Mina utama.

3. Layanan Katering Penuh Selama Fase Puncak

Berbeda dengan beberapa tahun lalu di mana katering sempat dihentikan menjelang puncak haji karena kendala lalu lintas di Mekkah, tahun ini jemaah Indonesia mendapatkan layanan katering penuh secara berkala. Paket makanan yang diberikan disesuaikan dengan lidah Indonesia dan dikemas dalam boks siap saji demi menjaga asupan nutrisi jemaah di tengah cuaca panas ekstrem.

4. Pengetatan Razia Jemaah Non-Visa Haji

Pihak otoritas keamanan Arab Saudi tahun ini sangat memperketat pemeriksaan (check point) di jalur-jalur masuk Mekkah dan Armuzna. PPIH mengonfirmasi ada beberapa kasus WNI non-kuota (menggunakan visa ziarah atau visa ummal/pekerja) yang terjaring razia, didenda, hingga dideportasi karena mencoba masuk ke area ibadah tanpa smart card (kartu Nusuk) resmi. Pemerintah terus mengimbau agar pihak keluarga di tanah air memastikan legalitas visa yang digunakan kerabatnya.

5. Posko Kesehatan Satgas Heartstroke

Mengingat suhu menyentuh 47°C, Tim Kesehatan Haji Indonesia menyiagakan posko khusus di sepanjang jalur jamarat (tempat melontar jumrah). Petugas dibekali dengan alat penyemprot air (water sprayer) portable, oralit, dan cairan hidrasi untuk langsung dibagikan kepada jemaah Indonesia yang terlihat mulai kelelahan saat berjalan kaki.