May 2026

Malam di Muzdalifah terasa berbeda. Langit padang pasir tampak gelap, tetapi bumi justru dipenuhi cahaya. Jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia duduk, berbaring, berzikir, dan berdoa di hamparan tanah terbuka setelah menyelesaikan wukuf di Arafah.

Di antara jutaan jamaah itu, terdapat seorang kader Nahdlatul Ulama asal Pragaan, Sumenep, KH. Subaidi Ismael, yang tengah menjalankan rangkaian ibadah haji tahun ini.

Pada malam 10 Dzulhijjah sekitar pukul 23.30 Waktu Arab Saudi, Subaidi mengirimkan video melalui aplikasi WhatsApp kepada keluarga, sahabat, dan warga kampung halamannya. Dari tengah lautan manusia di Muzdalifah, ia merekam suasana mabit dengan suara lirih bercampur haru.

“Subhanallah walhamdulillah, walailahaillallah wallahu akbar. Jutaan umat manusia dari berbagai penjuru dunia sudah berkumpul melakukan mabit di Muzdalifah yang sebentar lagi akan menuju Mina,” tuturnya dalam video tersebut.

Suara talbiyah, zikir, dan doa terdengar bersahutan dari berbagai arah. Tidak ada sekat bahasa, negara, maupun warna kulit. Semua larut dalam satu panggilan yang sama sebagai tamu Allah SWT.

Ketua Ranting NU Jaddung tersebut menggambarkan bagaimana para jamaah memadati bumi Muzdalifah setelah menuntaskan wukuf di Arafah. Di tengah suasana spiritual yang mendalam itu, ia tidak lupa memanjatkan doa untuk keselamatan seluruh jamaah haji.

“Semoga para jamaah diberikan keselamatan dan mendapatkan pahala serta keridaan dari Allah SWT. Mereka semuanya diberikan gelar haji makbul dan mabrur, diampuni segala dosanya dan dikabulkan semua maksud-maksud hatinya,” ucapnya.


Pagi harinya, suasana perjalanan haji kembali berlanjut. Setelah bergerak dari Muzdalifah menuju Mina dan melaksanakan lempar jumrah Aqabah, Subaidi menjalani tahallul awal dengan menggundul rambutnya.

Usai tahallul, ia kembali mengirimkan video penuh doa dan harapan. Kali ini bukan lagi sekadar menceritakan perjalanan ibadahnya, melainkan menyisipkan kerinduan agar keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat kampungnya juga mendapat kesempatan menjadi tamu Allah.

Dengan nada pelan dan penuh penghayatan, ia mengisahkan tahapan demi tahapan ibadah haji yang telah dilaluinya: mulai ihram dari miqat, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melempar jumrah di Mina.

“Harapan kedua, semoga rambut anak cucu abdhi dalem bisa qabul hajat juga untuk bertahallul setelah Jumratul Aqabah,” tuturnya.

Bagi Subaidi, tahallul bukan hanya prosesi menggundul rambut semata. Ia meyakini dawuh para guru bahwa setiap helai rambut yang dipotong menjadi sebab ampunan dosa dan doa malaikat bagi orang yang berhaji.

Karena itu, di tengah ribuan jamaah yang bergerak menuju rangkaian ibadah berikutnya, pikirannya justru melayang jauh ke kampung halaman. Kepada saudara, tetangga, para keponakan, hingga sahabat-sahabatnya, ia memanjatkan doa yang sama: semoga suatu hari mereka juga dipanggil Allah ke Tanah Suci.

“Saudara-saudara saya, para tetangga sekalian, ponakan-ponakan saya, semoga disempatkan oleh Allah untuk bercukur atau bertahallul setelah melaksanakan Jumratul Aqabah,” katanya.

Doa itu mengalir sederhana, tetapi terasa hangat dan dekat. Tidak hanya memohon keselamatan bagi dirinya sendiri, melainkan juga mengajak orang-orang yang ia cintai untuk ikut merasakan perjalanan spiritual yang sama.

Di penghujung videonya, Subaidi menengadahkan harapan kepada Allah SWT agar seluruh keluarga, kerabat, dan teman-temannya diberi kesempatan menunaikan ibadah haji.

“Ya Allah Ya Karim, Ya Rahman, Ya Rahim… tolong kabulkan hajat seluruh keluarga, kerabat, dan teman untuk menunaikan ibadah haji,” ucapnya.

Di tanah suci, ribuan kilometer dari Desa Jaddung, seorang kader NU Pragaan itu tidak hanya menjalani perjalanan ibadah pribadi. Ia membawa pulang doa-doa untuk kampung halamannya—doa yang lahir dari padang Muzdalifah dan gema talbiyah jutaan manusia. (Ilunk)

Editor : Fauzan

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pragaan hadir bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai episentrum gerakan sosial, keumatan, dan kemandirian ekonomi. Berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, NU Pragaan terus bergerak dinamis, menyentuh setiap lini kehidupan masyarakat melalui struktur yang kokoh dan program yang berdampak nyata.

Revitalisasi Kaderisasi melalui Badan Otonom (Banom)
Kekuatan utama NU Pragaan terletak pada denyut nadi badan otonomnya yang bergerak selaras, saling mengisi dari generasi ke generasi:

IPNU & IPPNU: Menjadi kawah candradimuka bagi pelajar dan santri, membentengi generasi muda Pragaan dengan pemikiran yang moderat, kreatif, dan berwawasan luas.

GP Ansor & Fatayat NU: Sebagai motor penggerak pemuda dan perempuan muda. Ansor dengan ketegasannya menjaga ulama dan NKRI, bersanding harmonis dengan Fatayat yang fokus pada pemberdayaan perempuan, kesehatan keluarga, dan ketahanan sosial.

Muslimat NU: Tiang pancang peradaban di tingkat keluarga dan majelis taklim, yang tak pernah lelah merawat moralitas dan spiritualitas masyarakat.

Pergunu (Persatuan Guru NU): Berjuang di garis depan pendidikan, memastikan mencerdaskan kehidupan bangsa yang berbasis karakter karimah.

JQH (Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh): Membumikan Al-Qur’an di bumi Pragaan, menjaga keluhuran sanad, serta mencetak generasi yang cinta dan hafal Al-Qur’an.

Pilar Kesehatan dan Kemandirian Ekonomi
NU Pragaan memahami bahwa dakwah tidak hanya dilakukan di atas mimbar, melainkan juga melalui aksi nyata dalam mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup warga. Prinsip mabadi khaira ummah diterjemahkan secara konkret melalui tiga pilar layanan utama:

  • Pelayanan Kesehatan: Klinik NU Pragaan
    Kesehatan adalah hak dasar setiap warga. Melalui Klinik NU, NU Pragaan hadir memberikan pelayanan medis yang inklusif, profesional, dan penuh kasih. Klinik ini menjadi wujud nyata bahwa NU hadir untuk memberikan ketenangan, baik secara spiritual maupun fisik, bagi masyarakat yang membutuhkan.
  • Kemandirian Finansial: BMTNU Pragaan
    Bergerak di sektor ekonomi makro dan mikro, BMTNU Pragaan menjadi solusi keuangan syariah yang tepercaya. BMTNU berhasil memutus mata rantai rentenir, membantu modal usaha wong cilik, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya tata kelola keuangan yang berkah dan mandiri.
  • Ketahanan Pangan & Ritel: Swalayan NU
    Sebagai simbol kedaulatan ekonomi, Swalayan NU Pragaan hadir memenuhi kebutuhan sehari-hari warga. Dari warga, oleh warga, dan untuk warga—keberadaan swalayan ini membuktikan bahwa perputaran ekonomi lokal bisa dikelola secara mandiri dan profesional oleh kader-kader NU.

“NU Pragaan adalah bukti hidup bahwa ketika harakah (gerakan), fikrah (pemikiran), dan amaliyah (tindakan) berpadu dengan kemandirian ekonomi serta kepedulian sosial, maka kemaslahatan umat bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang terus dirasakan manfaatnya setiap hari.”

Dengan sinergi Banom yang solid serta institusi ekonomi dan kesehatan yang kuat, MWC NU Pragaan siap melangkah jauh ke depan, merawat jagat, dan membangun peradaban yang berkeadilan.

Oleh : Gus Herman
Wakil Ketua MWCNU Pragaan

iklan

Menulis tentang KeNU-an (ke-Nahdlatul Ulama-an) berarti berbicara tentang bagaimana Islam dijalankan secara ramah, moderat, dan menyatu dengan budaya Nusantara. Bagi warga Nahdliyin (sebutan untuk warga NU), KeNU-an bukan sekadar identitas organisasi, melainkan sebuah cara pandang (manhaj) dalam beragama, berbangsa, dan bermasyarakat.

Mari kita bedah esensi dari KeNU-an ini ke dalam tiga pilar utama:

1. Pilar Keagamaan (Fikrah Aswaja)

Secara teologis dan metodologis, NU mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Dalam praktiknya, pemikiran keagamaan NU dicirikan oleh empat sikap kemasyarakatan yang utama:

  • Tawassuth (Moderat): Mengambil jalan tengah, tidak ekstrem kanan (radikal) dan tidak ekstrem kiri (liberal).
  • Tawazun (Seimbang): Seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadis) serta dalil aqli (akal/konteks zaman).
  • I’tidal (Tegak Lurus/Adil): Bertindak proporsional dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.
  • Tasamuh (Toleran): Menghargai perbedaan, baik perbedaan dalam masalah keagamaan (khilafiyah) maupun perbedaan suku, ras, dan agama.

2. Tradisi dan Amaliah (Kultur)

Salah satu keunikan KeNU-an adalah kemampuannya merawat tradisi Islam yang telah berakulturasi dengan budaya lokal. NU tidak datang untuk memberangus tradisi lokal, melainkan mewarnainya dengan nilai-nilai Islam (pribumisasi Islam).

Beberapa amaliah khas NU yang sangat lekat di masyarakat antara lain:

  • Tahlilan dan Yasinan: Ruang spiritual sekaligus silaturahmi sosial mendoakan orang yang wafat.
  • Ziarah Kubur: Sarana mengingat kematian sekaligus menghormati jasa para ulama dan leluhur.
  • Shalawatan dan Maulid Nabi: Ekspresi cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW melalui syair dan pujian.
  • Sistem Pesantren: Pusat sanad keilmuan NU yang melahirkan santri-santri berakhlak mulia dan berwawasan luas.

3. Komitmen Kebangsaan (Nasionalisme)

Bagi NU, agama dan negara tidak saling bertentangan. Hubungan ini dirangkum indah dalam jargon yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari: “Hubbul Wathan minal Iman” (Cinta tanah air adalah sebagian dari iman).

NU memandang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai bentuk final kesepakatan bangsa (Darussalam atau Darul Ahdi), bukan negara teokrasi maupun sekuler. Karena itulah, menjaga kedaulatan bangsa adalah bagian dari menjalankan perintah agama.

Kesimpulan: KeNU-an adalah rumusan Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam). Ia mengajarkan kita untuk menjadi muslim yang taat tanpa harus kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia, serta menjadi warga negara yang baik tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip agama.

Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) di Surabaya merupakan kisah perjuangan yang memadukan respons terhadap geopolitik Islam global dan kebutuhan menjaga tradisi lokal di Nusantara.

Bila diibaratkan sebuah kelahiran, para ulama sering menyebut KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai bidannya, sedangkan KH Hasyim Asy’ari adalah dokternya. Keduanya berbagi peran yang sangat presisi dan saling melengkapi.

1. Latar Belakang Sejarah & Komite Hijaz

Pemicu utama lahirnya NU tidak bisa dilepaskan dari peristiwa di Timur Tengah pada tahun 1924–1925. Saat itu, Ibnu Saud berhasil menguasai wilayah Hijaz (Mekah dan Madinah) dan menerapkan paham Wahabi yang cenderung kaku. Pemerintah baru tersebut berencana melarang praktik bermazhab dan bahkan berniat membongkar situs-situs sejarah Islam, termasuk makam Nabi Muhammad SAW, demi mencegah apa yang mereka anggap sebagai syirik.

Melihat kondisi tersebut, kelompok Islam modernis di Indonesia yang mengadakan Kongres Islam Internasional tidak mengakomodasi aspirasi kaum pesantren untuk membela tradisi bermazhab.

Merasa kepentingan Islam tradisionalis terpinggirkan, KH Abdul Wahab Hasbullah berinisiatif mengumpulkan para kiai dan membentuk Komite Hijaz. Komite ini bertujuan mengirimkan delegasi langsung ke Mekah untuk menghadap Raja Ibnu Saud. Guna memberikan payung hukum dan wadah yang formal bagi delegasi ini, para kiai akhirnya sepakat mendirikan sebuah jam’iyyah (organisasi) yang dinamakan Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama).

2. Peran Penting Dua Tokoh Sentral

Dalam proses pendirian tersebut, KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah memainkan peran yang sangat krusial:

KH Hasyim Asy’ari: Pemegang Legitimasi Spiritual & Rais Akbar

Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Hasyim Asy’ari adalah ulama yang sangat dihormati dan menjadi episentrum sanad keilmuan para kiai di tanah Jawa.

  • Pemberi Restu Spiritual: Kiai Hasyim tidak terburu-buru menyetujui ide pendirian organisasi yang diusulkan Kiai Wahab. Beliau melakukan salat istikharah dan meminta petunjuk Allah SWT. Legitimasi berdirinya NU menjadi mantap setelah beliau menerima tasbih dan tongkat dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, melalui perantara KH As’ad Syamsul Arifin, sebagai simbol restu spiritual.
  • Perumus Doktrin Utama: Kiai Hasyim merumuskan Muqaddimah Qanun Asasi (konstitusi dasar) NU dan kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Doktrin ini menjadi panduan teologis bagi warga NU dalam beragama.
  • Rais Akbar Pertama: Beliau menempati posisi tertinggi sebagai Rais Akbar (Pemimpin Tertinggi) pertama, yang menakhodai arah pemikiran kegamaan NU.

KH Abdul Wahab Hasbullah: Motor Penggerak & Arsitek Organisasi

Jika Kiai Hasyim adalah jangkar spiritualnya, maka Kiai Wahab adalah motor penggerak, konseptor, sekaligus diplomat ulung di lapangan.

  • Inisiator Komite Hijaz: Kiai Wahab adalah tokoh yang mengoordinasi para kiai, menyediakan kediamannya di Kertopaten, Surabaya sebagai tempat pertemuan, dan berangkat langsung ke Arab Saudi untuk bernegosiasi dengan Raja Ibnu Saud. Berkat diplomasi beliau, kebebasan bermazhab dijamin dan makam Nabi Muhammad SAW batal digusur.
  • Membangun Fondasi Organisasi: Sebelum NU lahir, Kiai Wahab telah menanam benih pergerakan dengan mendirikan kelompok diskusi Taswirul Afkar (1914), sekolah kebangsaan Nahdlatul Wathan (1916), dan koperasi dagang Nahdlatut Tujjar (1918). Ketiga elemen ini (pemikiran, pendidikan, ekonomi) menjadi cetak biru kekuatan NU di kemudian hari.
  • Katib ‘Am Pertama: Beliau menduduki posisi sebagai Katib ‘Am (Sekretaris Umum) pertama yang bertugas mengonsolidasikan, menggerakkan roda organisasi, dan memperluas jaringan NU ke berbagai daerah.

Oleh : K. Harir Hidayat
Sekretaris MWCNU Pragaan

iklan

Bagi para ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), bulan Dzulhijjah bukan sekadar bulan biasa, melainkan salah satu momentum spiritual terbesar dalam Islam. Keistimewaan bulan ini sering kali diulas mendalam oleh para syekh dan kiai NU, baik melalui kitab-kitab klasik maupun tausiyah mereka.

Berikut adalah keistimewaan bulan Dzulhijjah menurut pandangan dan ajaran para tokoh NU:

1. Puncak dari “Asyhurul Hurum” (Bulan-Bulan Mulia)

Para tokoh NU sering mengingatkan bahwa Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan yang disucikan (Asyhurul Hurum), bersama dengan Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab. Di bulan-bulan ini, Allah melarang manusia berbuat zalim dan melipatgandakan pahala amal saleh. KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) dalam beberapa ngajinya sering menekankan bahwa menghormati bulan mulia ini cukup dengan tidak melakukan maksiat dan memperbanyak rasa syukur.

2. Sepuluh Hari Pertama yang Mengalahkan Pahala Jihad

Salah satu hadis yang paling sering dikutip oleh para kiai NU saat memasuki bulan ini adalah keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah. Amal saleh di waktu ini disebut lebih dicintai Allah daripada jihad di jalan Allah, kecuali jihadnya orang yang menyerahkan seluruh jiwa dan hartanya tanpa sisa. Oleh karena itu, warga NU (Nahdliyin) diajak untuk memaksimalkannya dengan:

  • Puasa Sunah: Khususnya puasa sunah dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah.
  • Memperbanyak Zikir: Membaca tahlil, tahmid, dan takbir.

3. Hari Arafah (9 Dzulhijjah): Penghapusan Dosa Dua Tahun

Bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, para tokoh NU sangat menganjurkan pelaksanaan Puasa Arafah. Keistimewaan hari ini, sebagaimana sering disampaikan dalam khotbah-khotbah resmi NU, adalah kemampuannya menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Hari ini juga merupakan waktu di mana Allah paling banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka.

4. Simbol Ketaatan Total Melalui Ibadah Qurban

Idul Adha dan hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah waktu pelaksanaan ibadah qurban. Tokoh-tokoh NU, termasuk para Rais ‘Aam sepanjang sejarah NU, selalu menekankan bahwa qurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan simbol taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dan kepedulian sosial. Hewan qurban yang disembelih menjadi bukti keikhlasan dalam mengorbankan ego dan harta demi meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Pesan Spiritual Tokoh NU:

“Bulan Dzulhijjah adalah waktu terbaik untuk menata kembali hubungan kita dengan Allah melalui takwa, dan hubungan dengan sesama manusia melalui berbagi daging qurban. Jangan biarkan hari-hari mulia ini berlalu tanpa bekas.”

Oleh : Muhamnad Alimudin
Wakil Bendahara MWCNU Pragaan


SUMENEP — Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) MWCNU Pragaan membuat terobosan baru dengan menggelar Lomba Melukis dan Nasyid Islami tingkat regional se-Kabupaten Sumenep. Acara yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Raya Iduladha 1447 H ini ditempatkan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Unggulan Sains Alquran Insan Kamil, Aeng Panas, Pragaan, Sumenep.
​Kegiatan ini lahir dari kolaborasi solid antara Lesbumi MWCNU Pragaan, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), dan Yayasan Ikhtiar Insan Kamil.
​Inovasi Unik dan Pelestarian Budaya
​Ketua Tanfidziah MWCNU Pragaan, K. Hambali Makhtum, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif ini. Menurut beliau, Lesbumi merupakan salah satu lembaga yang paling aktif (“gacor”) dan penuh inovasi.
​”Biasanya peringatan hari besar Islam hanya terfokus pada Tahun Baru Hijriah, Isra Mikraj, atau Maulid Nabi. Namun, Lesbumi kali ini menghadirkan terobosan baru menyambut Iduladha. Ini bisa disebut sebagai bid’ah hasanah (tradisi baru yang baik) dari Lesbumi,” ujar K. Hambali. Beliau juga berharap Lesbumi dapat menjadi rumah besar bagi para seniman di Sumenep agar tetap berkarya di bawah panji NU serta koridor norma agama.
​Senada dengan hal itu, Ketua Panitia, Ibrohim Musyfiq, menjelaskan bahwa alasan pemilihan momen Iduladha adalah untuk memberikan warna yang berbeda dari biasanya. Ia menekankan bahwa tujuan utama lomba melukis ini adalah untuk menggali kembali kreativitas anak-anak di tingkat sekolah dasar.
​”Seni melukis saat ini sudah hampir terkikis oleh arus modernisasi, karena itu kita perlu wadah seperti ini,” kata Ibrohim.
​Antusiasme Peserta Melampaui Target
​Meskipun panitia sempat merasa khawatir target peserta tidak akan tercapai, pelaksanaan acara justru dibanjiri oleh antusiasme yang luar biasa dari ratusan peserta yang mendaftar. Secara keseluruhan, total peserta melonjak dari perkiraan awal, dengan rincian:
​100 peserta untuk Lomba Melukis (jenjang MI/SD se-Sumenep).
​20-an peserta/grup untuk Lomba Nasyid Islami (jenjang MTs se-Sumenep).
​Melihat tingginya partisipasi warga Nahdliyin, Ketua Yayasan Ikhtiar Insan Kamil, Dr. H. Mohammad Hasbi, M.Pd, menyatakan dukungan penuhnya. Ia menilai sektor seni lukis sudah berjalan sangat optimal dengan hasil yang bagus. Sementara untuk cabang nasyid, ia memberikan catatan positif untuk dieksplorasi lebih jauh di masa mendatang.
​”Kerja sama melalui event seperti ini harus terus dikembangkan di lembaga pendidikan bawah naungan NU. Ini membuktikan bahwa NU, melalui Lesbumi, benar-benar hadir secara nyata di tengah masyarakat,” tutur Dr. Hasbi. (Fz)

Editor : Z