OPINI

Oleh: Ach. Khalilurrahman

Dalam beberapa tahun terakhir, media di lingkungan Nahdlatul Ulama mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hampir setiap tingkatan kepengurusan memiliki akun media sosial sendiri, lengkap dengan tim publikasi yang aktif memproduksi berbagai jenis konten. Kegiatan organisasi dipublikasikan secara rutin, momentum-momentum penting dibuatkan flyer, dan berbagai aktivitas didokumentasikan lalu disebarluaskan melalui beragam platform digital. Di satu sisi, perkembangan ini patut disyukuri karena menunjukkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya media sebagai sarana dakwah dan komunikasi organisasi.

Namun, di tengah derasnya arus publikasi tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan bersama: apakah media NU saat ini sedang membangun pengetahuan, atau sekadar memproduksi euforia sesaat?

Dalam banyak kasus, sebagian besar energi media NU masih terserap untuk memproduksi konten-konten seremonial yang nilai manfaatnya relatif pendek. Tidak sedikit pengelola media yang meyakini bahwa semakin banyak konten dipublikasikan, semakin besar pula eksistensi organisasi di ruang digital. Akibatnya, hampir setiap aktivitas organisasi didorong untuk dipublikasikan seluas mungkin demi meningkatkan visibilitas dan jangkauan media sosial.

Tentu saja, pendekatan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Publikasi kegiatan tetap diperlukan sebagai bentuk akuntabilitas organisasi sekaligus sarana informasi bagi masyarakat. Akan tetapi, media Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya hadir di beranda media sosial. Ia juga harus hidup dalam memori kader melalui dokumentasi sejarah, tulisan bermutu, kajian keilmuan, serta arsip pengetahuan yang dapat diwariskan lintas generasi.

Jika perhatian kita hanya tertuju pada produksi flyer, dokumentasi kegiatan, dan pemberitaan seremonial, maka ada risiko besar yang mengintai: hilangnya jejak sejarah organisasi. Banyak tokoh yang berjasa, banyak peristiwa penting yang pernah terjadi, dan banyak gagasan berharga yang pernah lahir dari rahim NU, tetapi tidak terdokumentasikan dengan baik. Akibatnya, generasi mendatang mungkin mengenal organisasi ini melalui logo dan atributnya, tetapi tidak memahami sejarah, perjuangan, dan nilai-nilai yang membesarkannya.

Padahal sejak awal berdirinya, NU bukan hanya organisasi sosial-keagamaan. NU juga merupakan rumah besar tradisi intelektual Islam Nusantara. Kitab-kitab karya ulama, hasil-hasil Bahtsul Masail, manuskrip pesantren, karya tulis para kiai, hingga biografi para masyayikh merupakan bagian dari khazanah keilmuan yang sangat kaya. Tradisi ini telah menjadi fondasi penting bagi perjalanan NU selama hampir satu abad.

Ironisnya, sebagian warisan intelektual tersebut belum terdokumentasikan dan dipublikasikan secara optimal melalui media digital yang dimiliki NU saat ini. Di tengah kemajuan teknologi informasi, masih banyak sejarah lokal, profil ulama daerah, dinamika pesantren, maupun perjalanan organisasi yang tersimpan di lemari arsip atau bahkan hanya hidup dalam ingatan para sesepuh.

Padahal potensi untuk membangun media pengetahuan sebenarnya sangat besar. NU memiliki ribuan kader akademisi, penulis, peneliti, guru, dosen, dan pegiat literasi yang tersebar di berbagai daerah. Selain itu, terdapat banyak lembaga dan badan otonom yang memiliki kompetensi sesuai bidang masing-masing.

LP Ma’arif, misalnya, dapat mengembangkan konten pendidikan berupa buku Aswaja, media pembelajaran, animasi edukatif, lagu anak, maupun poster ke-NU-an yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan. Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) memiliki kapasitas untuk menerbitkan buku, mendokumentasikan karya-karya ulama, menyusun biografi tokoh lokal, serta mengarsipkan naskah-naskah penting yang selama ini tercecer.

Di sisi lain, Lakpesdam dapat memperkuat tradisi riset dan kajian sosial untuk menjawab persoalan-persoalan warga NU secara ilmiah. Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) berpeluang menjadi garda depan dalam mendokumentasikan sejarah dan perkembangan pesantren. Sementara Lembaga Bahtsul Masail dapat membukukan hasil-hasil kajian fiqih agar lebih mudah diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Badan otonom NU pun memiliki ruang kontribusi yang tidak kalah besar. Ansor dan Banser dapat mengembangkan konten kebangsaan, kepemimpinan, dan pengabdian sosial. Fatayat dan Muslimat dapat memperkaya ruang digital dengan konten keperempuanan, pendidikan keluarga, serta pengasuhan anak. IPNU dan IPPNU dapat menjadi pelopor lahirnya konten kreatif yang dekat dengan generasi muda. Jika seluruh potensi ini disinergikan, media NU tidak hanya menjadi ruang publikasi kegiatan, tetapi juga pusat produksi pengetahuan yang hidup dan berkelanjutan.

Di era media sosial yang bergerak sangat cepat, organisasi membutuhkan lebih dari sekadar konten yang viral. Organisasi membutuhkan memori kolektif. Ia membutuhkan dokumentasi yang mampu menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sebab organisasi yang besar bukan hanya organisasi yang ramai dibicarakan hari ini, melainkan organisasi yang mampu mewariskan gagasan dan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Tulisan ini bukan bermaksud menyalahkan publikasi kegiatan yang selama ini telah berjalan. Flyer, berita, dan dokumentasi tetap memiliki fungsi penting dalam kehidupan organisasi. Namun, sudah saatnya media NU menyeimbangkan antara kebutuhan publikasi jangka pendek dengan pembangunan warisan pengetahuan jangka panjang.

NU telah mewariskan peradaban melalui tulisan para ulama, tradisi pesantren, dan khazanah keilmuan yang terus hidup hingga hari ini. Karena itu, media NU tidak boleh hanya menjadi mesin publikasi, melainkan juga ruang dokumentasi, edukasi, dan produksi pengetahuan. Flyer ucapan mungkin hanya bertahan sehari di layar ponsel, tetapi tulisan yang bermutu dapat hidup puluhan tahun dalam ingatan kader dan menjadi bekal berharga bagi generasi yang akan datang.

Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s.

Membahas dinamika warga Nahdliyin di pelosok desa memang selalu menarik, karena di sanalah “akar rumput” sesungguhnya berada. Namun, harus diakui ada semacam diskoneksi antara program-program besar yang dirancang oleh pengurus pusat (PCNU) atau wilayah (MWCNU) dengan realitas masyarakat di tingkat ranting (desa).

Berikut adalah opini mengenai faktor-faktor yang menyebabkan lemahnya respons atau keterlibatan warga NU di pelosok terhadap program-program formal organisasi:


1. Masalah “Bahasa” dan Elitisme Program

Seringkali, program yang diturunkan dari pusat menggunakan narasi yang terlalu akademis, teknis, atau bersifat makro (seperti digitalisasi organisasi, kemandirian ekonomi skala besar, atau isu geopolitik).

  • Realitas di Desa: Warga lebih membutuhkan solusi praktis untuk gagal panen, akses kesehatan, atau sekadar keberlangsungan pengajian rutin.
  • Dampaknya: Program dianggap sebagai “milik orang kota” atau pengurus saja, bukan milik warga.

2. Lemahnya Jalur Komunikasi Organisasi (Struktural vs Kultural)

NU memiliki dua kekuatan: Struktural (pengurus dari pusat sampai desa) dan Kultural (kiai kampung, pengasuh langgar, dan tokoh masyarakat).

  • Banyak program hanya berhenti di level Cabang (Kabupaten) atau Majelis Wakil Cabang (Kecamatan) karena keterbatasan SDM untuk melakukan sosialisasi ke tingkat Ranting (Desa).
  • Warga di pelosok jauh lebih patuh pada instruksi Kiai Kampung secara langsung daripada membaca surat edaran atau mengikuti kampanye di media sosial. Jika pengurus struktural tidak menggandeng kiai lokal, program tersebut akan “layu sebelum berkembang.”

3. Kendala Ekonomi dan Logistik

Warga NU di pelosok umumnya bekerja di sektor agraris atau buruh kasar.

  • Prioritas Hidup: Bagi mereka, mengikuti program organisasi yang menyita waktu seringkali berbenturan dengan waktu mencari nafkah.
  • Infrastruktur: Akses internet yang tidak merata membuat program-program berbasis aplikasi atau digital seringkali tidak menyentuh warga desa, sehingga mereka merasa teralienasi dari perkembangan terbaru organisasi.

4. Pola Pikir “NU adalah Amaliah, Bukan Administrasi”

Bagi warga di pelosok, menjadi NU adalah tentang cara beribadah (tahlilan, manaqiban, diba’an), bukan tentang kartu anggota (Kartanu) atau tertib administrasi organisasi.

  • Mereka merasa sudah “sangat NU” meski tidak tahu apa program kerja pengurusnya.
  • Hal ini membuat loyalitas mereka bersifat emosional-spiritual, bukan organisatoris-praktis.

Solusi dan Harapan ke Depan

Untuk memperkuat keterlibatan warga desa, pengurus NU dan jajarannya perlu melakukan Redesain Program dengan pendekatan:

  • Bottom-Up: Mendengarkan kebutuhan desa sebelum meluncurkan program.
  • Pendekatan Kesejahteraan: Program harus menyentuh urusan “perut” dan “kantong” warga, seperti koperasi tani atau distribusi pupuk, bukan sekadar seremonial.
  • Memperkuat Ranting: Menjadikan pengurus tingkat desa sebagai ujung tombak, bukan sekadar penonton dari kebijakan pusat.

Kesimpulan: Lemahnya warga desa terhadap program NU bukanlah karena kurangnya rasa memiliki (sense of belonging), melainkan karena kurangnya relevansi program tersebut dengan denyut nadi kehidupan mereka sehari-hari. Jika NU ingin kuat secara organisasi, maka desa harus dijadikan subjek pembangunan, bukan sekadar objek sosialisasi.

Penulis : Ach Zainurrizal
Editor :
Novas

Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s.

Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s.

mwcnupragaan