NU

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Sumenep, Ainul Yaqin, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya dilihat dari banyaknya program yang terlaksana, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan generasi penerus yang lebih baik dari periode sebelumnya.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada pembukaan Konferensi Anak Cabang (Konferancab) VIII PAC IPNU-IPPNU Pragaan di Aula LPI Arrahmah, Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan, Jumat (7/8/2026).

Menurut Ainul Yaqin, perjalanan PAC IPNU-IPPNU Pragaan menunjukkan perkembangan yang cukup baik sejak kembali aktif pada 2012. Kini organisasi tersebut telah memasuki periode kepengurusan kedelapan dengan berbagai capaian yang diraih para kader di berbagai bidang.

“PAC IPNU-IPPNU Pragaan kembali aktif pada tahun 2012. Hari ini kita memasuki periode kepengurusan yang kedelapan. Ini menunjukkan bahwa proses kaderisasi terus berjalan dan organisasi tetap mampu menjaga keberlanjutannya,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan kaderisasi tidak hanya tercermin dari aktivitas organisasi, tetapi juga dari kiprah kader setelah selesai menjalani proses pengkaderan. Menurutnya, kader IPNU dan IPPNU Pragaan kini telah tersebar di berbagai bidang pengabdian, mulai dari dunia pendidikan, pemerintahan, hingga dunia usaha.

“Alhamdulillah, kader-kader IPNU-IPPNU Pragaan hari ini telah mengambil peran di berbagai sektor. Ada yang mengabdi di dunia pendidikan, pemerintahan, menjadi wirausahawan, dan bidang lainnya. Ini menjadi bukti bahwa kaderisasi memberikan manfaat nyata, bukan hanya bagi organisasi, tetapi juga bagi masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Ainul Yaqin memberikan apresiasi kepada kepengurusan PAC IPNU Pragaan di bawah kepemimpinan Ach. Abrori bersama jajaran pengurus yang dinilainya berhasil merealisasikan sejumlah program yang belum sempat diwujudkan pada periode sebelumnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap periode memiliki kontribusi yang berbeda dalam perjalanan organisasi. Menurutnya, keberhasilan kepengurusan sebelumnya justru menjadi fondasi yang memungkinkan lahirnya kepengurusan berikutnya dengan capaian yang lebih baik.

“Periode Rekan Abrori bisa dikatakan lebih baik karena ada beberapa program yang berhasil diwujudkan. Namun, kepengurusan sebelumnya juga patut diapresiasi karena telah melahirkan generasi penerus yang mampu membawa organisasi berkembang. Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ainul Yaqin juga menyampaikan bahwa PC IPNU-IPPNU Kabupaten Sumenep terus berupaya memperluas akses pendidikan bagi kader. Salah satu ikhtiar yang dilakukan ialah menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan empat perguruan tinggi sebagai bentuk dukungan agar para pelajar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ia berharap langkah tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh kader IPNU dan IPPNU, sehingga organisasi tidak hanya mencetak pemimpin muda yang aktif berorganisasi, tetapi juga melahirkan generasi yang unggul dalam bidang akademik dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Menurut Ainul Yaqin, semangat regenerasi harus terus dijaga agar IPNU dan IPPNU tetap menjadi ruang pembelajaran, pengabdian, sekaligus tempat lahirnya calon-calon pemimpin masa depan yang berkarakter, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan zaman.

SUMENEP, PRAGAAN — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Pragaan secara resmi menggelar perhelatan tertinggi tingkat kecamatan, yakni Konferensi PAC IPNU IPPNU Pragaan, pada Jumat (07/08/2026). Bertempat di Aula K. Ahmad Basyir, Kompleks Pondok Pesantren Arrahmah, Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, perhelatan permusyawaratan tertinggi pelajar NU ini berlangsung dengan sangat khidmat, tertib, dan penuh semangat keorganisasian.

Sejak pagi hari, suasana di sekitar area Aula K. Ahmad Basyir telah dipadati oleh puluhan kader muda Nahdlatul Ulama dari berbagai Pimpinan Ranting (PR) dan Pimpinan Komisariat (PK) se-Kecamatan Pragaan. Forum ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi laporan pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya, melainkan juga wadah perumusan garis-garis besar program kerja strategis serta momentum regenerasi estafet kepemimpinan baru untuk masa khidmat berikutnya.

Dihadiri Tokoh Agama, Pengasuh Pesantren, hingga Unsur FORKOPIMKA
Langkah pembukaan Konferensi PAC IPNU IPPNU Pragaan ini ditandai dengan hadirnya sejumlah tokoh kunci di tingkat kecamatan dan tokoh ulama setempat. Kehadiran para pimpinan lembaga dan jajaran pemerintahan ini menegaskan betapa strategisnya posisi IPNU dan IPPNU sebagai garda terdepan pembinaan generasi muda Islam di wilayah Pragaan.

Hadir secara langsung di barisan tamu undangan utama antara lain Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan, K. Hambali Makhtum, MM, beserta jajaran pengurus harian MWCNU Pragaan. Selain itu, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (FORKOPIMKA) Pragaan—terdiri dari unsur Camat, Kepolisian Sektor (Polsek), serta Komando Rayon Militer (Koramil)—turut hadir memberikan dukungan penuh terhadap perjalanan organisasi kepemudaan ini. Tampak pula hadir Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Jaddung yang bertindak sebagai tuan rumah penyelenggaraan acara, memberikan restu serta arahan spiritual bagi seluruh peserta konferensi.

Kehadiran lintas sektor ini membuktikan bahwa sinergi antara ulama, umara (pemerintah), dan pemuda di Kecamatan Pragaan terjalin dengan sangat harmonis. Langkah kolaboratif tersebut dipandang penting guna membentengi para pelajar dari arus modernisasi yang tidak menyaring nilai-nilai agama serta kebangsaan.

Apresiasi Tinggi untuk Kepengurusan Masa Khidmat 2024–2026
Dalam panggung Pidato Sambutan dan Pengarahan, Ketua MWCNU Pragaan, K. HAMBALI MAKHTUM, MM, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran pengurus PAC IPNU IPPNU Pragaan periode 2024–2026 atas dedikasi tanpa henti selama dua tahun masa bakti. Menurutnya, rekam jejak kerja yang telah ditunjukkan oleh kepengurusan ini terbukti membawa dampak sosial dan keagamaan yang konkret di tengah-tengah masyarakat pelajar.

“IPNU IPPNU Pragaan masa khidmat 2024–2026 telah memberikan cerminan positif dengan baik,” tegas K. Hambali Makhtum di hadapan ratusan pasang mata peserta konferensi yang menyimak dengan penuh perhatian.

Beliau menambahkan bahwa keberhasilan kepengurusan periode 2024–2026 dalam menjaga konsistensi kaderisasi, menyatukan potensi pelajar pesantren maupun sekolah formal, serta aktif membumikan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah adalah bukti nyata dari kematangan berorganisasi para kader muda NU di Pragaan.

Pesan Kepemimpinan: Wajib Miliki Tiga Karakter Utama
Di tengah gelombang dinamika zaman yang terus berkembang pesat, tantangan organisasi kepemudaan di masa mendatang diakui akan jauh lebih kompleks. Oleh karena itu, K. Hambali Makhtum menaruh harapan besar kepada seluruh kader, khususnya para calon pemimpin dan ketua terpilih yang nantinya akan memegang estafet kepemimpinan baru PAC IPNU IPPNU Pragaan.

Dalam amanat resminya, beliau memberikan pesan mendalam mengenai fondasi penting yang harus dimiliki oleh seorang jajaran pimpinan organisasi. Beliau menegaskan bahwa seorang pemimpin yang sukses wajib memiliki tiga karakter dasar:

Bisa Memimpin Diri Sendiri: Sebelum seorang kader mampu mengarahkan orang lain, ia harus terlebih dahulu menundukkan hawa nafsu, menjaga kedisiplinan pribadi, memiliki integritas moral, serta konsisten dalam menjalankan kewajiban agama dan organisasi.

Bisa Memimpin Tim dan Anggota: Pemimpin tidak dapat berjalan sendirian. Kemampuan merangkul, mendengarkan, memotivasi, dan mengayomi seluruh jajaran pengurus serta anggota tanpa membeda-bedakan latar belakang adalah kunci terciptanya soliditas tim yang kuat.

Bisa Memimpin Organisasi dengan Baik: Seorang ketua harus menguasai tata kelola administratif, manajemen strategis, tata kerja kelembagaan, serta mampu membaca peta kebutuhan pelajar zaman sekarang agar roda organisasi berjalan sistematis dan terarah.

“Tiga karakter tersebut menjamin kesuksesan dalam mengendalikan organisasi. Jika seorang pemimpin mampu memadukan ketiganya, maka organisasi tidak akan kehilangan arah dan akan selalu relevan menjawab kebutuhan zaman,” papar Ketua MWCNU Pragaan tersebut.

Stimulus Inovasi: Berani Mencoba Tanpa Mengenal Lelah
Tidak hanya berhenti pada penyampaian kriteria kepemimpinan ideal, K. Hambali Makhtum juga memberikan dorongan stimulus mental yang membakar semangat para kader muda agar tidak terjebak dalam rasa takut akan kegagalan saat menyusun gagasan-gagasan besar.

Menurut beliau, salah satu musuh terbesar dalam pergerakan organisasi adalah sikap ragu-ragu dan terlalu banyak menimbang rencana tanpa pernah mengeksekusinya di lapangan. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus bergerak dinamis dan berani mengambil langkah-langkah inovatif.

“Namun dari semua karakter yang telah disebutkan, para pengurus dan kader harus memiliki stimulus agar organisasi tetap bisa berkembang, yakni dengan cara mencoba tanpa mengenal lelah. Karena lebih baik gagal disaat mencoba daripada gagal disaat baru berencana,” pungkas K. Hambali Makhtum mengakhiri orasi kebangsaan dan keIslamannya.

Pesan penutup tersebut disambut tepuk tangan riuh dari seluruh jajaran pengurus, delegasi ranting, serta tamu undangan yang hadir di Aula K. Ahmad Basyir. Kalimat filosofis tersebut dinilai menjadi suntikan moral berharga bagi generasi muda NU Pragaan agar tidak alergi terhadap eksperimen program kerja yang kreatif dan solutif di masa depan.

Menatap Masa Depan Pelajar NU Pragaan
Pelaksanaan Konferensi PAC IPNU IPPNU Pragaan di Pondok Pesantren Arrahmah Jaddung ini dilanjutkan dengan rangkaian sidang-sidang pleno, mulai dari Sidang Pleno Tata Tertib, Sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), Sidang Komisi (Komisi Program Kerja, Komisi Rekomendasi, dan Komisi Keorganisasian), hingga puncaknya yakni Sidang Pleno Pemilihan Ketua Baru PAC IPNU dan PAC IPPNU Pragaan.

Melalui perhelatan ini, diharapkan estafet kepemimpinan baru yang terpilih kelak mampu membawa angin segar, menjaga nilai-nilai ke-NU-an, memperluas jejaring kaderisasi hingga ke pelosok desa, serta menjadikan IPNU dan IPPNU sebagai wadah inkubasi potensi pelajar yang inklusif, modern, dan berkarakter mulia di Kecamatan Pragaan.

Oleh: KH. Abd. Warits Anwar

Suatu ketika Nabi Ayyub AS mandi telanjang. Mandi sendirian penuh khidmat.Ditengah keasyikan mandi, datanglah seekor belalang istimewa, belalang luar biasa, belalang emas. Beliau begitu tertarik dengan belalang yang tak biasa itu.

Segeralah Beliau mengambil baju untuk menangkapnya. Namun sebelum Beliau beraksi, datanglah suatu “teguran” dari Yang Maha Rahim : “Wahai Ayyub, masih belum cukupkah engkau dari apa yang Aku berikan padamu?”

Ayyub AS menjawab. : “Demi kemulyaan-Mu ya Allah. Sudah cukup. Namun ada satu yg aku tak akan merasa cukup.”

“Apa itu?”

Ayyub menjawab, “Barokah-Mu. Barokah yg ada pada belalang emas-Mu.”

Rupanya, yang nampak bagi Nabi Ayyub AS bukan emasnya, tapi barokah yg ada didalam belalang emas. Aw kama qaala.

Catatan : Begitukah ketika kita berhadapan dg makanan? Uang? Atau yang lain-lain?

Diambil dari kitab At-Tajriidus Shorih, bab Al Ghusli

Mekkah-Pada hari ini, Jumat, 29 Mei 2026, yang bertepatan dengan 12 Dzulhijjah 1447 H, posisi jamaah haji Indonesia sedang berada dalam fase Hari Tasyrik kedua.

Hasil kontak dengan Ramli (Ranting NU Pragaan Daya I), ia menyampaikan bahwa, berdasarkan Rencana Perjalanan Haji (RPH) 2026 resmi dari kementerian terkait, jamaah akan melaksanakan ibadah sesuai dengan jadwal dan ketentuan yang berlaku. berikut adalah aktivitas dan agenda utama para jamaah haji saat ini:

Agenda Jamaah Haji Hari Ini (29 Mei 2026)

  • Melanjutkan Lontar Jumrah: Jamaah haji berada di Mina untuk melaksanakan prosesi melontar tiga jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah).
  • Nafar Awal: Bagi jamaah haji yang mengambil pilihan Nafar Awal (meninggalkan Mina lebih cepat), hari ini adalah batas akhir bagi mereka untuk meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam. Mereka kemudian bergerak kembali menuju hotel di Makkah.
  • Persiapan Nafar Tsani: Bagi jamaah yang mengambil Nafar Tsani, mereka masih akan menetap di Mina hingga esok hari (13 Dzulhijjah) untuk menyelesaikan seluruh rangkaian melontar jumrah.

Fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) sudah berlangsung sejak awal minggu ini, dan fase kepulangan akan segera dimulai:

  • 26 Mei 2026 (9 Dzulhijjah): Wukuf di Arafah.
  • 27 Mei 2026 (10 Dzulhijjah): Hari Raya Idul Adha / Nahr (Melontar Jumrah Aqabah & Tahallul).
  • 28–30 Mei 2026 (11–13 Dzulhijjah): Hari Tasyrik (Melontar Jumrah Ula, Wustha, Aqabah).
  • 1 Juni 2026 (15 Dzulhijjah): Awal pemulangan jamaah haji Gelombang I dari Makkah ke Tanah Air melalui bandara Jeddah.

Saat ini fokus utama petugas di lapangan adalah memastikan kesehatan jamaah tetap terjaga selama di Mina serta mengatur pergerakan transportasi untuk pendorong jamaah yang melakukan Nafar Awal kembali ke Makkah.

Selain kegiatan tersebut, Ramli juga menegaskan bahwa segala bentuk kegiatan ibadah yang dilaksanakan di Makkah juga dikondisikan oleh cuaca yang sangata Ekstrem. sehingga terdapat beberapa waktu larangan melontar jumrah di siang hari

Suhu udara di kawasan Mina hari ini dilaporkan mencapai 41°C. Demi keselamatan, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mengeluarkan larangan keras bagi jamaah Indonesia untuk keluar melontar jumrah pada siang hari (pukul 11.00 hingga 16.00 waktu setempat). Jamaah diminta memanfaatkan waktu utama (afdhal) lainnya pada sore atau malam hari saat cuaca jauh lebih sejuk.

Hari ini adalah puncak pergerakan Nafar Awal. Sebagian besar jamaah Indonesia yang memilih opsi ini dijadwalkan harus sudah meninggalkan tenda-tenda di Mina menuju hotel mereka di Makkah sebelum matahari terbenam. Bus-bus shalawat dan angkutan khusus telah disiagakan di jalur-jalur evakuasi Mina untuk menghindari penumpukan massa.

Wakil Menteri Agama sekaligus anggota Amirul Hajj, Romo Muhammad Syafii, yang meninjau langsung tenda misi haji di Mina menyatakan bahwa pelayanan haji tahun 1447 H / 2026 M ini mengalami peningkatan kualitas yang sangat signifikan (lompatan besar).

  • Ketepatan Jadwal & Istitaah: Ketepatan penerbangan dinilai jauh lebih baik, didukung oleh pengetatan syarat kesehatan sejak di tanah air. Tercatat ada 345 calon jamaah yang sempat dipulangkan/dibatalkan berangkat di bandara embarkasi demi keselamatan jiwa mereka karena kondisi fisik yang drop saat pemeriksaan akhir.
  • Akomodasi: Keluhan mengenai hotel jauh (seperti di Sektor 10 Al-Hidayah) berhasil diredam karena fasilitas kamar yang sangat baik serta manajemen bus penjemputan yang dinilai jemaah layaknya layanan VIP.

Hingga memasuki fase akhir di Mina ini, dilaporkan jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci tercatat sebanyak 24 orang. Mayoritas disebabkan oleh faktor kelelahan akut, serangan jantung, dan penyakit bawaan (komorbid) yang dipicu oleh cuaca panas ekstrem selama fase Armuzna. Petugas kesehatan terus menyisir tenda-tenda untuk memantau jamaah lansia dan risiko tinggi (risti).

Bagi jamaah yang telah kembali ke Makkah hari ini dan menyelesaikan Thawaf Ifadhah serta Sai, bersiap untuk fase pemulangan. Asrama Haji Embarkasi di tanah air (salah satunya Debarkasi Makassar) sudah merilis jadwal resmi penjemputan. Pemulangan jamaah Gelombang I akan dimulai serentak pada 1 Juni 2026 melalui Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. (Zan)

Jemaah haji asal Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura tergabung dalam gelombang awal keberangkatan dari Madura menuju Embarkasi Surabaya (SUB) menuju ke Tanah Suci. di tanah Suci Mekkah dan Madinah, mereka tak luput dari berbagai rintangan dan persyaratan yang tak boleh dilanggar. Dan harus menghadapi berbagai iklim dan cuaca yang bukan lagi seperti di tanah kelahiran mereka.

Dalam percakapan Via Video Call , Berikut penjelasan Wartik memgenai kabar dan kondisi terkini mengenai rombongan jemaah haji asal Sumenep, termasuk dari wilayah Pragaan, selama menjalani fase puncak haji:

1. Posisi Terkini di Fase Armuzna

Secara umum, jemaah dari Pragaan beserta rombongan dari Kabupaten Sumenep lainnya saat ini telah menyelesaikan rangkaian utama wukuf di Arafah. Berdasarkan pimpinan kloter dan bimbingan ibadah setempat, jemaah diarahkan untuk fokus menyelesaikan rangkaian Mina (mabit dan lempar jumrah ula, wustha, dan aqabah) dengan memanfaatkan waktu-waktu yang dinilai lebih aman (tidak terlalu terik).

2. Mayoritas Lansia Mengambil Skema Badala atau Murur

Kecamatan Pragaan dikenal memiliki proporsi jemaah lansia dan risti (risiko tinggi) yang cukup signifikan pada musim haji kali ini.

  • Demi keselamatan jemaah, para ketua regu (Karu) dan ketua rombongan (Karom) asal Sumenep menerapkan koordinasi ketat agar jemaah lansia tidak memaksakan diri berjalan kaki ke Jamarat untuk melempar jumrah secara langsung.
  • Prosesi lempar jumrah bagi jemaah lansia asal Pragaan mayoritas dibadalkan (diwakilkan) kepada jemaah lain yang lebih muda atau petugas kloter yang kondisinya prima.

3. Kekompakan Khas Warga Madura

Salah satu poin positif yang dilaporkan dari kloter-kloter asal Madura (termasuk Sumenep) adalah tingginya rasa solidaritas antardesa dan antarkecamatan. Sistem kekerabatan yang erat membuat para jemaah muda secara sukarela membantu jemaah lansia asal Pragaan saat berada di tenda Mina, baik dalam hal membagikan katering, membantu mobilitas ke toilet maktab, hingga saling mengingatkan untuk menjaga hidrasi (minum air putih dicampur oralit).

4. Tantangan Cuaca Ekstrem

Tim kesehatan kloter yang mendampingi jemaah Madura terus melakukan sweeping berkala di dalam tenda-tenda Mina. Jemaah asal Pragaan diimbau secara personal untuk menahan diri dari aktivitas berbelanja atau sekadar keluar tenda jika tidak ada keperluan ibadah yang mendesak, mengingat suhu ekstrem di sekitar maktab Mina rentan memicu kelelahan akut.

Secara keseluruhan, hingga laporan dari maktab di Mina diterima, rombongan jemaah haji asal Pragaan, Sumenep terpantau dalam kondisi aman dan terorganisir dengan baik di bawah pengawasan ketat para petugas PPIH kloter.

Selain itu, Warga Pragaan laok tersebut menyampaikna bahwa, ada beberapa kabar terbaru dan kebijakan spesifik yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi khusus untuk jemaah asal Indonesia:

1. Penerapan Skema Murur Massal di Muzdalifah

Untuk pertama kalinya, Kemenag menerapkan skema murur secara masif bagi sekitar 55.000 jemaah haji reguler risiko tinggi, lansia, dan disabilitas.

  • Mekanisme: Jemaah yang masuk dalam kategori ini tidak turun dari bus untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah. Bus yang membawa mereka dari Arafah langsung melintas menuju tenda maktab di Mina.
  • Tujuan: Kebijakan ini sukses mengurai kepadatan luar biasa di area Muzdalifah yang tahun-tahun sebelumnya sering memicu kelelahan ekstrem pada lansia.

2. Fasilitas Tenda Mina “Mina Jadid” dan Area Perluasan

Sebagian jemaah haji Indonesia ditempatkan di wilayah perluasan Mina (sering disebut Mina Jadid). Kemenag terus mengedukasi jemaah mengenai aspek syar’i mabit di wilayah ini guna meredam polemik, serta memastikan logistik dan posko kesehatan di area perluasan ini tetap sama lengkapnya dengan Mina utama.

3. Layanan Katering Penuh Selama Fase Puncak

Berbeda dengan beberapa tahun lalu di mana katering sempat dihentikan menjelang puncak haji karena kendala lalu lintas di Mekkah, tahun ini jemaah Indonesia mendapatkan layanan katering penuh secara berkala. Paket makanan yang diberikan disesuaikan dengan lidah Indonesia dan dikemas dalam boks siap saji demi menjaga asupan nutrisi jemaah di tengah cuaca panas ekstrem.

4. Pengetatan Razia Jemaah Non-Visa Haji

Pihak otoritas keamanan Arab Saudi tahun ini sangat memperketat pemeriksaan (check point) di jalur-jalur masuk Mekkah dan Armuzna. PPIH mengonfirmasi ada beberapa kasus WNI non-kuota (menggunakan visa ziarah atau visa ummal/pekerja) yang terjaring razia, didenda, hingga dideportasi karena mencoba masuk ke area ibadah tanpa smart card (kartu Nusuk) resmi. Pemerintah terus mengimbau agar pihak keluarga di tanah air memastikan legalitas visa yang digunakan kerabatnya.

5. Posko Kesehatan Satgas Heartstroke

Mengingat suhu menyentuh 47°C, Tim Kesehatan Haji Indonesia menyiagakan posko khusus di sepanjang jalur jamarat (tempat melontar jumrah). Petugas dibekali dengan alat penyemprot air (water sprayer) portable, oralit, dan cairan hidrasi untuk langsung dibagikan kepada jemaah Indonesia yang terlihat mulai kelelahan saat berjalan kaki.