NU

Malam di Muzdalifah terasa berbeda. Langit padang pasir tampak gelap, tetapi bumi justru dipenuhi cahaya. Jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia duduk, berbaring, berzikir, dan berdoa di hamparan tanah terbuka setelah menyelesaikan wukuf di Arafah.

Di antara jutaan jamaah itu, terdapat seorang kader Nahdlatul Ulama asal Pragaan, Sumenep, KH. Subaidi Ismael, yang tengah menjalankan rangkaian ibadah haji tahun ini.

Pada malam 10 Dzulhijjah sekitar pukul 23.30 Waktu Arab Saudi, Subaidi mengirimkan video melalui aplikasi WhatsApp kepada keluarga, sahabat, dan warga kampung halamannya. Dari tengah lautan manusia di Muzdalifah, ia merekam suasana mabit dengan suara lirih bercampur haru.

“Subhanallah walhamdulillah, walailahaillallah wallahu akbar. Jutaan umat manusia dari berbagai penjuru dunia sudah berkumpul melakukan mabit di Muzdalifah yang sebentar lagi akan menuju Mina,” tuturnya dalam video tersebut.

Suara talbiyah, zikir, dan doa terdengar bersahutan dari berbagai arah. Tidak ada sekat bahasa, negara, maupun warna kulit. Semua larut dalam satu panggilan yang sama sebagai tamu Allah SWT.

Ketua Ranting NU Jaddung tersebut menggambarkan bagaimana para jamaah memadati bumi Muzdalifah setelah menuntaskan wukuf di Arafah. Di tengah suasana spiritual yang mendalam itu, ia tidak lupa memanjatkan doa untuk keselamatan seluruh jamaah haji.

“Semoga para jamaah diberikan keselamatan dan mendapatkan pahala serta keridaan dari Allah SWT. Mereka semuanya diberikan gelar haji makbul dan mabrur, diampuni segala dosanya dan dikabulkan semua maksud-maksud hatinya,” ucapnya.


Pagi harinya, suasana perjalanan haji kembali berlanjut. Setelah bergerak dari Muzdalifah menuju Mina dan melaksanakan lempar jumrah Aqabah, Subaidi menjalani tahallul awal dengan menggundul rambutnya.

Usai tahallul, ia kembali mengirimkan video penuh doa dan harapan. Kali ini bukan lagi sekadar menceritakan perjalanan ibadahnya, melainkan menyisipkan kerinduan agar keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat kampungnya juga mendapat kesempatan menjadi tamu Allah.

Dengan nada pelan dan penuh penghayatan, ia mengisahkan tahapan demi tahapan ibadah haji yang telah dilaluinya: mulai ihram dari miqat, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melempar jumrah di Mina.

“Harapan kedua, semoga rambut anak cucu abdhi dalem bisa qabul hajat juga untuk bertahallul setelah Jumratul Aqabah,” tuturnya.

Bagi Subaidi, tahallul bukan hanya prosesi menggundul rambut semata. Ia meyakini dawuh para guru bahwa setiap helai rambut yang dipotong menjadi sebab ampunan dosa dan doa malaikat bagi orang yang berhaji.

Karena itu, di tengah ribuan jamaah yang bergerak menuju rangkaian ibadah berikutnya, pikirannya justru melayang jauh ke kampung halaman. Kepada saudara, tetangga, para keponakan, hingga sahabat-sahabatnya, ia memanjatkan doa yang sama: semoga suatu hari mereka juga dipanggil Allah ke Tanah Suci.

“Saudara-saudara saya, para tetangga sekalian, ponakan-ponakan saya, semoga disempatkan oleh Allah untuk bercukur atau bertahallul setelah melaksanakan Jumratul Aqabah,” katanya.

Doa itu mengalir sederhana, tetapi terasa hangat dan dekat. Tidak hanya memohon keselamatan bagi dirinya sendiri, melainkan juga mengajak orang-orang yang ia cintai untuk ikut merasakan perjalanan spiritual yang sama.

Di penghujung videonya, Subaidi menengadahkan harapan kepada Allah SWT agar seluruh keluarga, kerabat, dan teman-temannya diberi kesempatan menunaikan ibadah haji.

“Ya Allah Ya Karim, Ya Rahman, Ya Rahim… tolong kabulkan hajat seluruh keluarga, kerabat, dan teman untuk menunaikan ibadah haji,” ucapnya.

Di tanah suci, ribuan kilometer dari Desa Jaddung, seorang kader NU Pragaan itu tidak hanya menjalani perjalanan ibadah pribadi. Ia membawa pulang doa-doa untuk kampung halamannya—doa yang lahir dari padang Muzdalifah dan gema talbiyah jutaan manusia. (Ilunk)

Editor : Fauzan

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pragaan hadir bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai episentrum gerakan sosial, keumatan, dan kemandirian ekonomi. Berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, NU Pragaan terus bergerak dinamis, menyentuh setiap lini kehidupan masyarakat melalui struktur yang kokoh dan program yang berdampak nyata.

Revitalisasi Kaderisasi melalui Badan Otonom (Banom)
Kekuatan utama NU Pragaan terletak pada denyut nadi badan otonomnya yang bergerak selaras, saling mengisi dari generasi ke generasi:

IPNU & IPPNU: Menjadi kawah candradimuka bagi pelajar dan santri, membentengi generasi muda Pragaan dengan pemikiran yang moderat, kreatif, dan berwawasan luas.

GP Ansor & Fatayat NU: Sebagai motor penggerak pemuda dan perempuan muda. Ansor dengan ketegasannya menjaga ulama dan NKRI, bersanding harmonis dengan Fatayat yang fokus pada pemberdayaan perempuan, kesehatan keluarga, dan ketahanan sosial.

Muslimat NU: Tiang pancang peradaban di tingkat keluarga dan majelis taklim, yang tak pernah lelah merawat moralitas dan spiritualitas masyarakat.

Pergunu (Persatuan Guru NU): Berjuang di garis depan pendidikan, memastikan mencerdaskan kehidupan bangsa yang berbasis karakter karimah.

JQH (Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh): Membumikan Al-Qur’an di bumi Pragaan, menjaga keluhuran sanad, serta mencetak generasi yang cinta dan hafal Al-Qur’an.

Pilar Kesehatan dan Kemandirian Ekonomi
NU Pragaan memahami bahwa dakwah tidak hanya dilakukan di atas mimbar, melainkan juga melalui aksi nyata dalam mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup warga. Prinsip mabadi khaira ummah diterjemahkan secara konkret melalui tiga pilar layanan utama:

  • Pelayanan Kesehatan: Klinik NU Pragaan
    Kesehatan adalah hak dasar setiap warga. Melalui Klinik NU, NU Pragaan hadir memberikan pelayanan medis yang inklusif, profesional, dan penuh kasih. Klinik ini menjadi wujud nyata bahwa NU hadir untuk memberikan ketenangan, baik secara spiritual maupun fisik, bagi masyarakat yang membutuhkan.
  • Kemandirian Finansial: BMTNU Pragaan
    Bergerak di sektor ekonomi makro dan mikro, BMTNU Pragaan menjadi solusi keuangan syariah yang tepercaya. BMTNU berhasil memutus mata rantai rentenir, membantu modal usaha wong cilik, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya tata kelola keuangan yang berkah dan mandiri.
  • Ketahanan Pangan & Ritel: Swalayan NU
    Sebagai simbol kedaulatan ekonomi, Swalayan NU Pragaan hadir memenuhi kebutuhan sehari-hari warga. Dari warga, oleh warga, dan untuk warga—keberadaan swalayan ini membuktikan bahwa perputaran ekonomi lokal bisa dikelola secara mandiri dan profesional oleh kader-kader NU.

“NU Pragaan adalah bukti hidup bahwa ketika harakah (gerakan), fikrah (pemikiran), dan amaliyah (tindakan) berpadu dengan kemandirian ekonomi serta kepedulian sosial, maka kemaslahatan umat bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang terus dirasakan manfaatnya setiap hari.”

Dengan sinergi Banom yang solid serta institusi ekonomi dan kesehatan yang kuat, MWC NU Pragaan siap melangkah jauh ke depan, merawat jagat, dan membangun peradaban yang berkeadilan.

Oleh : Gus Herman
Wakil Ketua MWCNU Pragaan

iklan

Bagi para ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), bulan Dzulhijjah bukan sekadar bulan biasa, melainkan salah satu momentum spiritual terbesar dalam Islam. Keistimewaan bulan ini sering kali diulas mendalam oleh para syekh dan kiai NU, baik melalui kitab-kitab klasik maupun tausiyah mereka.

Berikut adalah keistimewaan bulan Dzulhijjah menurut pandangan dan ajaran para tokoh NU:

1. Puncak dari “Asyhurul Hurum” (Bulan-Bulan Mulia)

Para tokoh NU sering mengingatkan bahwa Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan yang disucikan (Asyhurul Hurum), bersama dengan Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab. Di bulan-bulan ini, Allah melarang manusia berbuat zalim dan melipatgandakan pahala amal saleh. KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) dalam beberapa ngajinya sering menekankan bahwa menghormati bulan mulia ini cukup dengan tidak melakukan maksiat dan memperbanyak rasa syukur.

2. Sepuluh Hari Pertama yang Mengalahkan Pahala Jihad

Salah satu hadis yang paling sering dikutip oleh para kiai NU saat memasuki bulan ini adalah keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah. Amal saleh di waktu ini disebut lebih dicintai Allah daripada jihad di jalan Allah, kecuali jihadnya orang yang menyerahkan seluruh jiwa dan hartanya tanpa sisa. Oleh karena itu, warga NU (Nahdliyin) diajak untuk memaksimalkannya dengan:

  • Puasa Sunah: Khususnya puasa sunah dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah.
  • Memperbanyak Zikir: Membaca tahlil, tahmid, dan takbir.

3. Hari Arafah (9 Dzulhijjah): Penghapusan Dosa Dua Tahun

Bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, para tokoh NU sangat menganjurkan pelaksanaan Puasa Arafah. Keistimewaan hari ini, sebagaimana sering disampaikan dalam khotbah-khotbah resmi NU, adalah kemampuannya menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Hari ini juga merupakan waktu di mana Allah paling banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka.

4. Simbol Ketaatan Total Melalui Ibadah Qurban

Idul Adha dan hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah waktu pelaksanaan ibadah qurban. Tokoh-tokoh NU, termasuk para Rais ‘Aam sepanjang sejarah NU, selalu menekankan bahwa qurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan simbol taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dan kepedulian sosial. Hewan qurban yang disembelih menjadi bukti keikhlasan dalam mengorbankan ego dan harta demi meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Pesan Spiritual Tokoh NU:

“Bulan Dzulhijjah adalah waktu terbaik untuk menata kembali hubungan kita dengan Allah melalui takwa, dan hubungan dengan sesama manusia melalui berbagi daging qurban. Jangan biarkan hari-hari mulia ini berlalu tanpa bekas.”

Oleh : Muhamnad Alimudin
Wakil Bendahara MWCNU Pragaan


SUMENEP — Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) MWCNU Pragaan membuat terobosan baru dengan menggelar Lomba Melukis dan Nasyid Islami tingkat regional se-Kabupaten Sumenep. Acara yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Raya Iduladha 1447 H ini ditempatkan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Unggulan Sains Alquran Insan Kamil, Aeng Panas, Pragaan, Sumenep.
​Kegiatan ini lahir dari kolaborasi solid antara Lesbumi MWCNU Pragaan, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), dan Yayasan Ikhtiar Insan Kamil.
​Inovasi Unik dan Pelestarian Budaya
​Ketua Tanfidziah MWCNU Pragaan, K. Hambali Makhtum, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif ini. Menurut beliau, Lesbumi merupakan salah satu lembaga yang paling aktif (“gacor”) dan penuh inovasi.
​”Biasanya peringatan hari besar Islam hanya terfokus pada Tahun Baru Hijriah, Isra Mikraj, atau Maulid Nabi. Namun, Lesbumi kali ini menghadirkan terobosan baru menyambut Iduladha. Ini bisa disebut sebagai bid’ah hasanah (tradisi baru yang baik) dari Lesbumi,” ujar K. Hambali. Beliau juga berharap Lesbumi dapat menjadi rumah besar bagi para seniman di Sumenep agar tetap berkarya di bawah panji NU serta koridor norma agama.
​Senada dengan hal itu, Ketua Panitia, Ibrohim Musyfiq, menjelaskan bahwa alasan pemilihan momen Iduladha adalah untuk memberikan warna yang berbeda dari biasanya. Ia menekankan bahwa tujuan utama lomba melukis ini adalah untuk menggali kembali kreativitas anak-anak di tingkat sekolah dasar.
​”Seni melukis saat ini sudah hampir terkikis oleh arus modernisasi, karena itu kita perlu wadah seperti ini,” kata Ibrohim.
​Antusiasme Peserta Melampaui Target
​Meskipun panitia sempat merasa khawatir target peserta tidak akan tercapai, pelaksanaan acara justru dibanjiri oleh antusiasme yang luar biasa dari ratusan peserta yang mendaftar. Secara keseluruhan, total peserta melonjak dari perkiraan awal, dengan rincian:
​100 peserta untuk Lomba Melukis (jenjang MI/SD se-Sumenep).
​20-an peserta/grup untuk Lomba Nasyid Islami (jenjang MTs se-Sumenep).
​Melihat tingginya partisipasi warga Nahdliyin, Ketua Yayasan Ikhtiar Insan Kamil, Dr. H. Mohammad Hasbi, M.Pd, menyatakan dukungan penuhnya. Ia menilai sektor seni lukis sudah berjalan sangat optimal dengan hasil yang bagus. Sementara untuk cabang nasyid, ia memberikan catatan positif untuk dieksplorasi lebih jauh di masa mendatang.
​”Kerja sama melalui event seperti ini harus terus dikembangkan di lembaga pendidikan bawah naungan NU. Ini membuktikan bahwa NU, melalui Lesbumi, benar-benar hadir secara nyata di tengah masyarakat,” tutur Dr. Hasbi. (Fz)

Editor : Z

PRAGAAN – Lembaga Seni Budaya Muslimi Indonesia (Lesbumi) MWCNU Pragaan menghadirkan inovasi menarik dalam merespons isu kesehatan mental yang tengah marak belakangan ini. Bukan sekadar mengajarkan teknik dasar seni rupa, Lesbumi NU Pragaan resmi membuka program kelas atau les lukis yang dirancang khusus sebagai media terapi kesehatan mental (art therapy).

Kegiatan positif ini dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat sore, bertempat di Kantor MWCNU Pragaan. Program ini terbuka bagi siapa saja yang ingin melepas penat sekaligus mengeksplorasi potensi diri lewat goresan warna di atas kanvas.

Melukis sebagai Katarsis Jiwa

Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, tekanan akademis, maupun beban pekerjaan, kesehatan mental kerap kali terabaikan. Memahami fenomena tersebut, Lesbumi NU Pragaan mengemas kelas melukis ini dengan pendekatan yang berbeda. Fokus utamanya bukan mencetak pelukis profesional dalam semalam, melainkan memberikan ruang aman bagi peserta untuk menuangkan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Pelatih program ini, Sahabat Musyfiq, menjelaskan bahwa seni rupa memiliki kekuatan magis sebagai media katarsis atau penyucian jiwa.

“Saat seseorang mulai mengayunkan kuas dan memilih warna, di situlah proses dialog dengan diri sendiri terjadi. Kami ingin mengubah stigma bahwa les lukis itu kaku. Di sini, melukis adalah sarana rekonsiliasi hati, meredakan kecemasan, dan memulihkan energi positif setelah sepekan beraktivitas,” ujar Sahabat Musyfiq.

Memanfaatkan Ruang Publik NU untuk Kemaslahatan

Pemilihan Kantor MWCNU Pragaan sebagai lokasi pelaksanaan juga bukan tanpa alasan. Lesbumi NU Pragaan ingin menjadikan ruang organisasi sebagai pusat peradaban yang inklusif, ramah, dan solutif terhadap kebutuhan warganya, termasuk dalam aspek kesehatan mental.

Suasana Jumat sore yang tenang di sekitar kantor MWCNU diubah menjadi ruang kreatif yang hangat. Para peserta diajak mematikan sejenak gawai mereka, fokus pada kanvas masing-masing, dan menikmati proses penciptaan karya tanpa perlu takut dihakimi hasilnya.

Respons masyarakat dan kader muda NU terhadap program ini pun sangat positif. Banyak yang menilai kegiatan ini sebagai alternatif ngabuburit atau pengisian waktu luang akhir pekan yang jauh lebih produktif dan menenangkan.

Bagi Anda yang ingin merasakan langsung kedamaian di balik palet warna, kelas lukis bersama Sahabat Musyfiq ini siap menyambut Anda setiap Jumat sore di Kantor MWCNU Pragaan. Karena sejatinya, merawat pikiran dan hati juga merupakan bagian dari merawat titipan Ilahi. (ZIY)

Editor : Fauziyah