Fase Puncak Haji, Jemaah Asal Madura Harus Menghadapi Berbagai Rintangan

Jemaah haji asal Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura tergabung dalam gelombang awal keberangkatan dari Madura menuju Embarkasi Surabaya (SUB) menuju ke Tanah Suci. di tanah Suci Mekkah dan Madinah, mereka tak luput dari berbagai rintangan dan persyaratan yang tak boleh dilanggar. Dan harus menghadapi berbagai iklim dan cuaca yang bukan lagi seperti di tanah kelahiran mereka.

Dalam percakapan Via Video Call , Berikut penjelasan Wartik memgenai kabar dan kondisi terkini mengenai rombongan jemaah haji asal Sumenep, termasuk dari wilayah Pragaan, selama menjalani fase puncak haji:

1. Posisi Terkini di Fase Armuzna

Secara umum, jemaah dari Pragaan beserta rombongan dari Kabupaten Sumenep lainnya saat ini telah menyelesaikan rangkaian utama wukuf di Arafah. Berdasarkan pimpinan kloter dan bimbingan ibadah setempat, jemaah diarahkan untuk fokus menyelesaikan rangkaian Mina (mabit dan lempar jumrah ula, wustha, dan aqabah) dengan memanfaatkan waktu-waktu yang dinilai lebih aman (tidak terlalu terik).

2. Mayoritas Lansia Mengambil Skema Badala atau Murur

Kecamatan Pragaan dikenal memiliki proporsi jemaah lansia dan risti (risiko tinggi) yang cukup signifikan pada musim haji kali ini.

  • Demi keselamatan jemaah, para ketua regu (Karu) dan ketua rombongan (Karom) asal Sumenep menerapkan koordinasi ketat agar jemaah lansia tidak memaksakan diri berjalan kaki ke Jamarat untuk melempar jumrah secara langsung.
  • Prosesi lempar jumrah bagi jemaah lansia asal Pragaan mayoritas dibadalkan (diwakilkan) kepada jemaah lain yang lebih muda atau petugas kloter yang kondisinya prima.

3. Kekompakan Khas Warga Madura

Salah satu poin positif yang dilaporkan dari kloter-kloter asal Madura (termasuk Sumenep) adalah tingginya rasa solidaritas antardesa dan antarkecamatan. Sistem kekerabatan yang erat membuat para jemaah muda secara sukarela membantu jemaah lansia asal Pragaan saat berada di tenda Mina, baik dalam hal membagikan katering, membantu mobilitas ke toilet maktab, hingga saling mengingatkan untuk menjaga hidrasi (minum air putih dicampur oralit).

4. Tantangan Cuaca Ekstrem

Tim kesehatan kloter yang mendampingi jemaah Madura terus melakukan sweeping berkala di dalam tenda-tenda Mina. Jemaah asal Pragaan diimbau secara personal untuk menahan diri dari aktivitas berbelanja atau sekadar keluar tenda jika tidak ada keperluan ibadah yang mendesak, mengingat suhu ekstrem di sekitar maktab Mina rentan memicu kelelahan akut.

Secara keseluruhan, hingga laporan dari maktab di Mina diterima, rombongan jemaah haji asal Pragaan, Sumenep terpantau dalam kondisi aman dan terorganisir dengan baik di bawah pengawasan ketat para petugas PPIH kloter.

Selain itu, Warga Pragaan laok tersebut menyampaikna bahwa, ada beberapa kabar terbaru dan kebijakan spesifik yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi khusus untuk jemaah asal Indonesia:

1. Penerapan Skema Murur Massal di Muzdalifah

Untuk pertama kalinya, Kemenag menerapkan skema murur secara masif bagi sekitar 55.000 jemaah haji reguler risiko tinggi, lansia, dan disabilitas.

  • Mekanisme: Jemaah yang masuk dalam kategori ini tidak turun dari bus untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah. Bus yang membawa mereka dari Arafah langsung melintas menuju tenda maktab di Mina.
  • Tujuan: Kebijakan ini sukses mengurai kepadatan luar biasa di area Muzdalifah yang tahun-tahun sebelumnya sering memicu kelelahan ekstrem pada lansia.

2. Fasilitas Tenda Mina “Mina Jadid” dan Area Perluasan

Sebagian jemaah haji Indonesia ditempatkan di wilayah perluasan Mina (sering disebut Mina Jadid). Kemenag terus mengedukasi jemaah mengenai aspek syar’i mabit di wilayah ini guna meredam polemik, serta memastikan logistik dan posko kesehatan di area perluasan ini tetap sama lengkapnya dengan Mina utama.

3. Layanan Katering Penuh Selama Fase Puncak

Berbeda dengan beberapa tahun lalu di mana katering sempat dihentikan menjelang puncak haji karena kendala lalu lintas di Mekkah, tahun ini jemaah Indonesia mendapatkan layanan katering penuh secara berkala. Paket makanan yang diberikan disesuaikan dengan lidah Indonesia dan dikemas dalam boks siap saji demi menjaga asupan nutrisi jemaah di tengah cuaca panas ekstrem.

4. Pengetatan Razia Jemaah Non-Visa Haji

Pihak otoritas keamanan Arab Saudi tahun ini sangat memperketat pemeriksaan (check point) di jalur-jalur masuk Mekkah dan Armuzna. PPIH mengonfirmasi ada beberapa kasus WNI non-kuota (menggunakan visa ziarah atau visa ummal/pekerja) yang terjaring razia, didenda, hingga dideportasi karena mencoba masuk ke area ibadah tanpa smart card (kartu Nusuk) resmi. Pemerintah terus mengimbau agar pihak keluarga di tanah air memastikan legalitas visa yang digunakan kerabatnya.

5. Posko Kesehatan Satgas Heartstroke

Mengingat suhu menyentuh 47°C, Tim Kesehatan Haji Indonesia menyiagakan posko khusus di sepanjang jalur jamarat (tempat melontar jumrah). Petugas dibekali dengan alat penyemprot air (water sprayer) portable, oralit, dan cairan hidrasi untuk langsung dibagikan kepada jemaah Indonesia yang terlihat mulai kelelahan saat berjalan kaki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *