Lesbumi


SUMENEP — Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) MWCNU Pragaan membuat terobosan baru dengan menggelar Lomba Melukis dan Nasyid Islami tingkat regional se-Kabupaten Sumenep. Acara yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Raya Iduladha 1447 H ini ditempatkan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Unggulan Sains Alquran Insan Kamil, Aeng Panas, Pragaan, Sumenep.
​Kegiatan ini lahir dari kolaborasi solid antara Lesbumi MWCNU Pragaan, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), dan Yayasan Ikhtiar Insan Kamil.
​Inovasi Unik dan Pelestarian Budaya
​Ketua Tanfidziah MWCNU Pragaan, K. Hambali Makhtum, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif ini. Menurut beliau, Lesbumi merupakan salah satu lembaga yang paling aktif (“gacor”) dan penuh inovasi.
​”Biasanya peringatan hari besar Islam hanya terfokus pada Tahun Baru Hijriah, Isra Mikraj, atau Maulid Nabi. Namun, Lesbumi kali ini menghadirkan terobosan baru menyambut Iduladha. Ini bisa disebut sebagai bid’ah hasanah (tradisi baru yang baik) dari Lesbumi,” ujar K. Hambali. Beliau juga berharap Lesbumi dapat menjadi rumah besar bagi para seniman di Sumenep agar tetap berkarya di bawah panji NU serta koridor norma agama.
​Senada dengan hal itu, Ketua Panitia, Ibrohim Musyfiq, menjelaskan bahwa alasan pemilihan momen Iduladha adalah untuk memberikan warna yang berbeda dari biasanya. Ia menekankan bahwa tujuan utama lomba melukis ini adalah untuk menggali kembali kreativitas anak-anak di tingkat sekolah dasar.
​”Seni melukis saat ini sudah hampir terkikis oleh arus modernisasi, karena itu kita perlu wadah seperti ini,” kata Ibrohim.
​Antusiasme Peserta Melampaui Target
​Meskipun panitia sempat merasa khawatir target peserta tidak akan tercapai, pelaksanaan acara justru dibanjiri oleh antusiasme yang luar biasa dari ratusan peserta yang mendaftar. Secara keseluruhan, total peserta melonjak dari perkiraan awal, dengan rincian:
​100 peserta untuk Lomba Melukis (jenjang MI/SD se-Sumenep).
​20-an peserta/grup untuk Lomba Nasyid Islami (jenjang MTs se-Sumenep).
​Melihat tingginya partisipasi warga Nahdliyin, Ketua Yayasan Ikhtiar Insan Kamil, Dr. H. Mohammad Hasbi, M.Pd, menyatakan dukungan penuhnya. Ia menilai sektor seni lukis sudah berjalan sangat optimal dengan hasil yang bagus. Sementara untuk cabang nasyid, ia memberikan catatan positif untuk dieksplorasi lebih jauh di masa mendatang.
​”Kerja sama melalui event seperti ini harus terus dikembangkan di lembaga pendidikan bawah naungan NU. Ini membuktikan bahwa NU, melalui Lesbumi, benar-benar hadir secara nyata di tengah masyarakat,” tutur Dr. Hasbi. (Fz)

Editor : Z

PRAGAAN – Lembaga Seni Budaya Muslimi Indonesia (Lesbumi) MWCNU Pragaan menghadirkan inovasi menarik dalam merespons isu kesehatan mental yang tengah marak belakangan ini. Bukan sekadar mengajarkan teknik dasar seni rupa, Lesbumi NU Pragaan resmi membuka program kelas atau les lukis yang dirancang khusus sebagai media terapi kesehatan mental (art therapy).

Kegiatan positif ini dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat sore, bertempat di Kantor MWCNU Pragaan. Program ini terbuka bagi siapa saja yang ingin melepas penat sekaligus mengeksplorasi potensi diri lewat goresan warna di atas kanvas.

Melukis sebagai Katarsis Jiwa

Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, tekanan akademis, maupun beban pekerjaan, kesehatan mental kerap kali terabaikan. Memahami fenomena tersebut, Lesbumi NU Pragaan mengemas kelas melukis ini dengan pendekatan yang berbeda. Fokus utamanya bukan mencetak pelukis profesional dalam semalam, melainkan memberikan ruang aman bagi peserta untuk menuangkan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Pelatih program ini, Sahabat Musyfiq, menjelaskan bahwa seni rupa memiliki kekuatan magis sebagai media katarsis atau penyucian jiwa.

“Saat seseorang mulai mengayunkan kuas dan memilih warna, di situlah proses dialog dengan diri sendiri terjadi. Kami ingin mengubah stigma bahwa les lukis itu kaku. Di sini, melukis adalah sarana rekonsiliasi hati, meredakan kecemasan, dan memulihkan energi positif setelah sepekan beraktivitas,” ujar Sahabat Musyfiq.

Memanfaatkan Ruang Publik NU untuk Kemaslahatan

Pemilihan Kantor MWCNU Pragaan sebagai lokasi pelaksanaan juga bukan tanpa alasan. Lesbumi NU Pragaan ingin menjadikan ruang organisasi sebagai pusat peradaban yang inklusif, ramah, dan solutif terhadap kebutuhan warganya, termasuk dalam aspek kesehatan mental.

Suasana Jumat sore yang tenang di sekitar kantor MWCNU diubah menjadi ruang kreatif yang hangat. Para peserta diajak mematikan sejenak gawai mereka, fokus pada kanvas masing-masing, dan menikmati proses penciptaan karya tanpa perlu takut dihakimi hasilnya.

Respons masyarakat dan kader muda NU terhadap program ini pun sangat positif. Banyak yang menilai kegiatan ini sebagai alternatif ngabuburit atau pengisian waktu luang akhir pekan yang jauh lebih produktif dan menenangkan.

Bagi Anda yang ingin merasakan langsung kedamaian di balik palet warna, kelas lukis bersama Sahabat Musyfiq ini siap menyambut Anda setiap Jumat sore di Kantor MWCNU Pragaan. Karena sejatinya, merawat pikiran dan hati juga merupakan bagian dari merawat titipan Ilahi. (ZIY)

Editor : Fauziyah

SUMENEP — Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, semangat berkesenian mulai terasa di kawasan Pragaan, Kabupaten Sumenep. Anak-anak sekolah dasar menyiapkan cat dan kuas, sementara para pelajar tingkat SMP mulai melatih harmoni suara serta tabuhan rebana mereka. Semua itu menuju satu panggung yang sama: Lomba Lukis dan Lomba Nasyid yang akan digelar pada Minggu, 24 Mei 2026.
Kegiatan tersebut diprakarsai oleh Lesbumi MWCNU Pragaan bekerja sama dengan PP Ikhtiar Insan Kamil yang menaungi MTs Unggulan Sains Al-Qur’an Aeng Panas.
Namun tahun ini, gaung kegiatan terasa lebih besar dibanding sebelumnya. Dukungan dari berbagai elemen mulai berdatangan. Salah satu yang paling menonjol ialah keterlibatan Pergunu Pragaan atau Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Pragaan yang ikut membangun jejaring partisipasi sekolah dan madrasah di wilayah Pragaan serta sekitarnya.
Kehadiran Pergunu membuat informasi lomba bergerak cepat dari ruang guru ke ruang kelas. Banyak guru mulai mendorong murid-muridnya untuk ikut ambil bagian, bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan kreativitas pelajar.
Di tengah dunia pendidikan yang semakin padat dengan target akademik, kegiatan seni seperti ini dianggap penting sebagai ruang ekspresi yang sehat bagi siswa.
Panitia membuka dua kategori lomba. Pertama, Lomba Lukis tingkat SD/MI se-Kabupaten Sumenep dengan tema “Menyambut Iduladha”. Kedua, Lomba Nasyid tingkat MTs/SMP se-Kabupaten Sumenep.
Acara akan dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai. Sementara proses lomba melukis dijadwalkan berlangsung sampai pukul 13.00 WIB.


Peserta disebut datang dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sumenep. Tidak hanya dari kawasan kota, tetapi juga dari daerah-daerah pinggiran yang selama ini cukup aktif dalam kegiatan seni Islami di lingkungan sekolah dan pesantren.
Suasana perlombaan diperkirakan berlangsung meriah. Anak-anak SD akan menuangkan imajinasi mereka tentang Iduladha melalui gambar-gambar penuh warna: masjid desa, hewan kurban, suasana takbiran, hingga aktivitas masyarakat saat pembagian daging kurban.
Di sisi lain, para pelajar MTs dan SMP akan memenuhi panggung nasyid dengan syair-syair Islami yang berpadu dengan irama rebana dan harmoni vokal.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya mendapatkan dukungan dari lembaga pendidikan dan organisasi guru. Dunia media lokal juga ikut mengambil bagian.
Radio Pragaan Station resmi menjadi media partner dalam kegiatan tersebut. Kehadiran radio lokal itu dinilai penting untuk membantu menyebarluaskan informasi acara kepada masyarakat luas, khususnya di wilayah Pragaan dan sekitarnya.
Radio lokal memang memiliki kedekatan tersendiri dengan masyarakat. Ia tidak sekadar menjadi saluran informasi, tetapi juga bagian dari denyut sosial warga. Karena itu, keterlibatan Radio Pragaan Station memberi warna tersendiri bagi pelaksanaan kegiatan ini.
Tak hanya itu, dukungan juga datang dari TVNU Pragaan yang menyatakan kesediaannya untuk menyiarkan langsung jalannya acara.
Rencana siaran langsung tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi banyak sekolah dan wali murid. Sebab tidak semua orang tua dan masyarakat dapat hadir langsung ke lokasi acara. Dengan adanya siaran langsung, masyarakat tetap dapat menyaksikan penampilan para peserta dari berbagai tempat.
Bagi panitia, siaran langsung ini bukan hanya soal publikasi. Lebih dari itu, ada harapan agar karya dan keberanian anak-anak muda Sumenep mendapat ruang apresiasi yang lebih luas.
Kegiatan ini memang perlahan berkembang menjadi lebih dari sekadar lomba tahunan. Ia mulai berubah menjadi ruang pertemuan antara pendidikan, seni, media, dan tradisi keislaman masyarakat Madura.
Di tangan anak-anak muda itu, Iduladha diterjemahkan bukan hanya sebagai perayaan ritual, tetapi juga sebagai sumber inspirasi kreatif.
Ada yang melukis tentang kebersamaan warga desa saat kurban. Ada yang menyanyikan syair tentang pengorbanan dan kasih sayang. Semua bergerak dalam suasana yang hangat dan penuh semangat.
Bagi Lesbumi MWCNU Pragaan, kegiatan seni seperti ini merupakan bagian dari ikhtiar menjaga hubungan antara Islam dan kebudayaan agar tetap hidup di tengah generasi muda.
Sebab seni, dalam banyak hal, sering kali menjadi bahasa paling lembut untuk menyampaikan nilai-nilai sosial dan religius.
Dan di Pragaan nanti, bahasa itu akan hadir dalam bentuk warna-warna lukisan, suara nasyid, tepuk tangan penonton, serta wajah-wajah anak muda yang sedang belajar percaya pada karya mereka sendiri.

Editor : Fauzan