NU Online Pragaan resmi diluncurkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, pada Sabtu (16/5/2026). Peresmian dilakukan secara simbolis melalui pelepasan balon di halaman Kantor MWCNU Pragaan.

Kehadiran NU Online Pragaan menjadi catatan tersendiri dalam pengembangan media digital Nahdlatul Ulama. Media ini tercatat sebagai NU Online pertama di Jawa Timur untuk tingkat Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), sekaligus menjadi NU Online tingkat MWC kedua di Indonesia.

Direktur NU Online Pragaan, Ach Khalilurrahman, menyampaikan bahwa kehadiran media tersebut diharapkan mampu menjadi ruang dakwah dan penyebaran informasi yang membawa nilai-nilai positif di tengah perkembangan dunia digital.

“NU Online Pragaan siap meramaikan dunia maya dengan pemberitaan yang positif ala Ahlussunah wal Jamaah,” ujarnya.

Menurutnya, media digital memiliki peran penting dalam membangun narasi keislaman yang moderat, ramah, dan menyejukkan. Karena itu, NU Online Pragaan diharapkan dapat menjadi wadah informasi sekaligus media edukasi masyarakat berbasis nilai-nilai ke-NU-an.

Peresmian tersebut juga menjadi penanda keseriusan warga Nahdlatul Ulama di Pragaan dalam mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya di bidang jurnalistik digital.

Dengan hadirnya NU Online Pragaan, diharapkan dakwah dan informasi keislaman ala Ahlussunah wal Jamaah semakin luas menjangkau masyarakat, khususnya generasi muda di ruang digital. (Zan)

Editor : Ach Fauzi

Pragaan — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan menggelar kegiatan istighatsah dalam rangka mengawal instruksi menyambut pelantikan Pengurus PCNU Sumenep. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara bertahap di sejumlah titik wilayah Pragaan mulai tanggal 13 hingga 15 Mei 2026.

Kegiatan bertajuk “Kawal Instruksi Istighatsah Menuju Pelantikan Pengurus PCNU Sumenep” itu menjadi bagian dari ikhtiar spiritual warga Nahdliyin untuk memohon kelancaran, keberkahan, dan kekuatan dalam proses kepengurusan NU ke depan.

Pelaksanaan istighatsah dibagi di beberapa lokasi. Pada 13 Mei 2026 kegiatan dilaksanakan di Kantor MWCNU serta PRNU Prenduan. Kemudian pada 14 Mei 2026 dilanjutkan di Kantor MWCNU bersama Banom dan lembaga NU. Sementara pada 15 Mei 2026 kegiatan dipusatkan di Kantor MWCNU, PRNU Pragaan Laok, dan PRNU Pakamban Laok.

Kegiatan ini menunjukkan semangat kebersamaan dan kekompakan warga Nahdlatul Ulama di wilayah Pragaan dalam menyambut momentum pelantikan pengurus PCNU Sumenep. Selain menjadi agenda keagamaan, istighatsah juga menjadi sarana mempererat ukhuwah antar pengurus, banom, serta masyarakat Nahdliyin.

MWCNU Pragaan berharap rangkaian istighatsah tersebut mampu membawa keberkahan bagi organisasi dan seluruh masyarakat, sekaligus memperkuat khidmat NU dalam menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan persatuan umat. (MQ)

Pragaan — LPI Arrahmah Jaddung resmi melaunching kegiatan AKSARA 2026 (Ajang Kreasi Siswa Arrahmah) sebagai wadah pengembangan kreativitas dan bakat siswa-siswi Arrahmah. Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi MI, MTs, dan MA Arrahmah Jaddung dengan penuh semangat dan antusiasme.

Kegiatan dibuka oleh K. Fazabinal Alim selaku jajaran pengasuh LPI Arrahmah Jaddung. Pembukaan berlangsung khidmat dan menjadi awal dimulainya kegiatan mingguan AKSARA yang diharapkan mampu menjadi ruang kreativitas dan pengembangan potensi siswa.

Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua PK IPPNU Arrahmah, Nailatul Izzah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan AKSARA. Ia juga berharap seluruh siswa-siswi aktif dalam setiap kegiatan lembaga selama kegiatan tersebut memberikan manfaat dan dampak positif, termasuk kegiatan mingguan seperti AKSARA ini.

Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh K. Fazabinal Alim. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa tujuan dari kegiatan AKSARA adalah untuk menggali bakat dan potensi siswa-siswi Arrahmah agar terus berkembang melalui kegiatan yang kreatif dan bermanfaat.

Beliau juga menyampaikan pesan motivasi dengan mengangkat ungkapan “Syubbanul yaum rijalul ghad” yang berarti pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Menurut beliau, mempersiapkan generasi emas harus dimulai sejak dini.

“Kalau mau menjadi orang besar, harus dimulai dari sekarang,” ungkap beliau di hadapan para peserta.

Kegiatan launching AKSARA berlangsung dengan lancar dan penuh semangat kebersamaan. Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh K. Moh Khalish Munib dengan harapan kegiatan AKSARA dapat menjadi sarana lahirnya generasi Arrahmah yang kreatif, aktif, dan berprestasi. (MQ)

Editor : Khalilurrahman

Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s.

PRAGAAN – Menjelang prosesi pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep masa khidmat 2026-2031, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan bergerak masif mengawal instruksi organisasi. Sejak tanggal 13 Mei hingga 15 Mei 2026, rangkaian istighatsah digelar secara maraton di berbagai tingkatan mulai dari tingkat MWC hingga Ranting.

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya spiritual untuk memohon kelancaran bagi nakhoda baru PCNU Sumenep.

Rangkaian Safari Istighatsah

Rangkaian agenda spiritual ini dilaksanakan secara bertahap di beberapa lokasi strategis di wilayah Pragaan:

  • 13 Mei: Diawali oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Prenduan.
  • 14 Mei: Terpusat di Kantor MWCNU Pragaan, yang melibatkan seluruh jajaran pengurus MWC, lembaga, hingga Badan Otonom (Banom) di tingkat kecamatan.
  • 15 Mei: Dilanjutkan secara serentak oleh PRNU Pakamban Laok dan PRNU Pragaan Laok.

Acara inti dari setiap pertemuan ini adalah pembacaan Tawassul dan Istighatsah yang ditujukan khusus kepada para Muassis (pendiri) NU di tingkat Nusantara, tokoh-tokoh penggerak NU di Sumenep, serta para sesepuh NU di wilayah Pragaan.

“Istighatsah ini adalah bentuk ketaatan kami terhadap instruksi organisasi sekaligus ikhtiar batin agar pelantikan PCNU Sumenep membawa berkah dan kemajuan bagi umat,” ungkap Sekretaris MWCNU Pragaan di sela-sela kegiatan.

Pantauan di lapangan menunjukkan antusiasme yang tinggi. Agenda ini tidak hanya dihadiri oleh jajaran syuriyah dan tanfidziyah di tingkat ranting, tetapi juga melibatkan seluruh elemen Badan Otonom (Banom) setempat, seperti PR GP Ansor, PR IPNU, dan PK IPNU.

Sinergi antara pengurus struktural dan Banom ini mempertegas soliditas warga nahdliyin di Pragaan dalam menyongsong kepemimpinan baru di tingkat cabang. Dengan selesainya rangkaian istighatsah ini, MWCNU Pragaan menyatakan kesiapannya untuk mensukseskan dan menghadiri pelantikan PCNU Sumenep dengan semangat Satu Komando. (MQ)

Editor : Fauzan

Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s.

Membahas dinamika warga Nahdliyin di pelosok desa memang selalu menarik, karena di sanalah “akar rumput” sesungguhnya berada. Namun, harus diakui ada semacam diskoneksi antara program-program besar yang dirancang oleh pengurus pusat (PCNU) atau wilayah (MWCNU) dengan realitas masyarakat di tingkat ranting (desa).

Berikut adalah opini mengenai faktor-faktor yang menyebabkan lemahnya respons atau keterlibatan warga NU di pelosok terhadap program-program formal organisasi:


1. Masalah “Bahasa” dan Elitisme Program

Seringkali, program yang diturunkan dari pusat menggunakan narasi yang terlalu akademis, teknis, atau bersifat makro (seperti digitalisasi organisasi, kemandirian ekonomi skala besar, atau isu geopolitik).

  • Realitas di Desa: Warga lebih membutuhkan solusi praktis untuk gagal panen, akses kesehatan, atau sekadar keberlangsungan pengajian rutin.
  • Dampaknya: Program dianggap sebagai “milik orang kota” atau pengurus saja, bukan milik warga.

2. Lemahnya Jalur Komunikasi Organisasi (Struktural vs Kultural)

NU memiliki dua kekuatan: Struktural (pengurus dari pusat sampai desa) dan Kultural (kiai kampung, pengasuh langgar, dan tokoh masyarakat).

  • Banyak program hanya berhenti di level Cabang (Kabupaten) atau Majelis Wakil Cabang (Kecamatan) karena keterbatasan SDM untuk melakukan sosialisasi ke tingkat Ranting (Desa).
  • Warga di pelosok jauh lebih patuh pada instruksi Kiai Kampung secara langsung daripada membaca surat edaran atau mengikuti kampanye di media sosial. Jika pengurus struktural tidak menggandeng kiai lokal, program tersebut akan “layu sebelum berkembang.”

3. Kendala Ekonomi dan Logistik

Warga NU di pelosok umumnya bekerja di sektor agraris atau buruh kasar.

  • Prioritas Hidup: Bagi mereka, mengikuti program organisasi yang menyita waktu seringkali berbenturan dengan waktu mencari nafkah.
  • Infrastruktur: Akses internet yang tidak merata membuat program-program berbasis aplikasi atau digital seringkali tidak menyentuh warga desa, sehingga mereka merasa teralienasi dari perkembangan terbaru organisasi.

4. Pola Pikir “NU adalah Amaliah, Bukan Administrasi”

Bagi warga di pelosok, menjadi NU adalah tentang cara beribadah (tahlilan, manaqiban, diba’an), bukan tentang kartu anggota (Kartanu) atau tertib administrasi organisasi.

  • Mereka merasa sudah “sangat NU” meski tidak tahu apa program kerja pengurusnya.
  • Hal ini membuat loyalitas mereka bersifat emosional-spiritual, bukan organisatoris-praktis.

Solusi dan Harapan ke Depan

Untuk memperkuat keterlibatan warga desa, pengurus NU dan jajarannya perlu melakukan Redesain Program dengan pendekatan:

  • Bottom-Up: Mendengarkan kebutuhan desa sebelum meluncurkan program.
  • Pendekatan Kesejahteraan: Program harus menyentuh urusan “perut” dan “kantong” warga, seperti koperasi tani atau distribusi pupuk, bukan sekadar seremonial.
  • Memperkuat Ranting: Menjadikan pengurus tingkat desa sebagai ujung tombak, bukan sekadar penonton dari kebijakan pusat.

Kesimpulan: Lemahnya warga desa terhadap program NU bukanlah karena kurangnya rasa memiliki (sense of belonging), melainkan karena kurangnya relevansi program tersebut dengan denyut nadi kehidupan mereka sehari-hari. Jika NU ingin kuat secara organisasi, maka desa harus dijadikan subjek pembangunan, bukan sekadar objek sosialisasi.

Penulis : Ach Zainurrizal
Editor :
Novas

Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s.

Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s.

mwcnupragaan