Oleh: KH. Abd. Warits Anwar

Suatu ketika Nabi Ayyub AS mandi telanjang. Mandi sendirian penuh khidmat.Ditengah keasyikan mandi, datanglah seekor belalang istimewa, belalang luar biasa, belalang emas. Beliau begitu tertarik dengan belalang yang tak biasa itu.

Segeralah Beliau mengambil baju untuk menangkapnya. Namun sebelum Beliau beraksi, datanglah suatu “teguran” dari Yang Maha Rahim : “Wahai Ayyub, masih belum cukupkah engkau dari apa yang Aku berikan padamu?”

Ayyub AS menjawab. : “Demi kemulyaan-Mu ya Allah. Sudah cukup. Namun ada satu yg aku tak akan merasa cukup.”

“Apa itu?”

Ayyub menjawab, “Barokah-Mu. Barokah yg ada pada belalang emas-Mu.”

Rupanya, yang nampak bagi Nabi Ayyub AS bukan emasnya, tapi barokah yg ada didalam belalang emas. Aw kama qaala.

Catatan : Begitukah ketika kita berhadapan dg makanan? Uang? Atau yang lain-lain?

Diambil dari kitab At-Tajriidus Shorih, bab Al Ghusli

Mekkah-Pada hari ini, Jumat, 29 Mei 2026, yang bertepatan dengan 12 Dzulhijjah 1447 H, posisi jamaah haji Indonesia sedang berada dalam fase Hari Tasyrik kedua.

Hasil kontak dengan Ramli (Ranting NU Pragaan Daya I), ia menyampaikan bahwa, berdasarkan Rencana Perjalanan Haji (RPH) 2026 resmi dari kementerian terkait, jamaah akan melaksanakan ibadah sesuai dengan jadwal dan ketentuan yang berlaku. berikut adalah aktivitas dan agenda utama para jamaah haji saat ini:

Agenda Jamaah Haji Hari Ini (29 Mei 2026)

  • Melanjutkan Lontar Jumrah: Jamaah haji berada di Mina untuk melaksanakan prosesi melontar tiga jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah).
  • Nafar Awal: Bagi jamaah haji yang mengambil pilihan Nafar Awal (meninggalkan Mina lebih cepat), hari ini adalah batas akhir bagi mereka untuk meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam. Mereka kemudian bergerak kembali menuju hotel di Makkah.
  • Persiapan Nafar Tsani: Bagi jamaah yang mengambil Nafar Tsani, mereka masih akan menetap di Mina hingga esok hari (13 Dzulhijjah) untuk menyelesaikan seluruh rangkaian melontar jumrah.

Fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) sudah berlangsung sejak awal minggu ini, dan fase kepulangan akan segera dimulai:

  • 26 Mei 2026 (9 Dzulhijjah): Wukuf di Arafah.
  • 27 Mei 2026 (10 Dzulhijjah): Hari Raya Idul Adha / Nahr (Melontar Jumrah Aqabah & Tahallul).
  • 28–30 Mei 2026 (11–13 Dzulhijjah): Hari Tasyrik (Melontar Jumrah Ula, Wustha, Aqabah).
  • 1 Juni 2026 (15 Dzulhijjah): Awal pemulangan jamaah haji Gelombang I dari Makkah ke Tanah Air melalui bandara Jeddah.

Saat ini fokus utama petugas di lapangan adalah memastikan kesehatan jamaah tetap terjaga selama di Mina serta mengatur pergerakan transportasi untuk pendorong jamaah yang melakukan Nafar Awal kembali ke Makkah.

Selain kegiatan tersebut, Ramli juga menegaskan bahwa segala bentuk kegiatan ibadah yang dilaksanakan di Makkah juga dikondisikan oleh cuaca yang sangata Ekstrem. sehingga terdapat beberapa waktu larangan melontar jumrah di siang hari

Suhu udara di kawasan Mina hari ini dilaporkan mencapai 41°C. Demi keselamatan, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mengeluarkan larangan keras bagi jamaah Indonesia untuk keluar melontar jumrah pada siang hari (pukul 11.00 hingga 16.00 waktu setempat). Jamaah diminta memanfaatkan waktu utama (afdhal) lainnya pada sore atau malam hari saat cuaca jauh lebih sejuk.

Hari ini adalah puncak pergerakan Nafar Awal. Sebagian besar jamaah Indonesia yang memilih opsi ini dijadwalkan harus sudah meninggalkan tenda-tenda di Mina menuju hotel mereka di Makkah sebelum matahari terbenam. Bus-bus shalawat dan angkutan khusus telah disiagakan di jalur-jalur evakuasi Mina untuk menghindari penumpukan massa.

Wakil Menteri Agama sekaligus anggota Amirul Hajj, Romo Muhammad Syafii, yang meninjau langsung tenda misi haji di Mina menyatakan bahwa pelayanan haji tahun 1447 H / 2026 M ini mengalami peningkatan kualitas yang sangat signifikan (lompatan besar).

  • Ketepatan Jadwal & Istitaah: Ketepatan penerbangan dinilai jauh lebih baik, didukung oleh pengetatan syarat kesehatan sejak di tanah air. Tercatat ada 345 calon jamaah yang sempat dipulangkan/dibatalkan berangkat di bandara embarkasi demi keselamatan jiwa mereka karena kondisi fisik yang drop saat pemeriksaan akhir.
  • Akomodasi: Keluhan mengenai hotel jauh (seperti di Sektor 10 Al-Hidayah) berhasil diredam karena fasilitas kamar yang sangat baik serta manajemen bus penjemputan yang dinilai jemaah layaknya layanan VIP.

Hingga memasuki fase akhir di Mina ini, dilaporkan jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci tercatat sebanyak 24 orang. Mayoritas disebabkan oleh faktor kelelahan akut, serangan jantung, dan penyakit bawaan (komorbid) yang dipicu oleh cuaca panas ekstrem selama fase Armuzna. Petugas kesehatan terus menyisir tenda-tenda untuk memantau jamaah lansia dan risiko tinggi (risti).

Bagi jamaah yang telah kembali ke Makkah hari ini dan menyelesaikan Thawaf Ifadhah serta Sai, bersiap untuk fase pemulangan. Asrama Haji Embarkasi di tanah air (salah satunya Debarkasi Makassar) sudah merilis jadwal resmi penjemputan. Pemulangan jamaah Gelombang I akan dimulai serentak pada 1 Juni 2026 melalui Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. (Zan)

Jemaah haji asal Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura tergabung dalam gelombang awal keberangkatan dari Madura menuju Embarkasi Surabaya (SUB) menuju ke Tanah Suci. di tanah Suci Mekkah dan Madinah, mereka tak luput dari berbagai rintangan dan persyaratan yang tak boleh dilanggar. Dan harus menghadapi berbagai iklim dan cuaca yang bukan lagi seperti di tanah kelahiran mereka.

Dalam percakapan Via Video Call , Berikut penjelasan Wartik memgenai kabar dan kondisi terkini mengenai rombongan jemaah haji asal Sumenep, termasuk dari wilayah Pragaan, selama menjalani fase puncak haji:

1. Posisi Terkini di Fase Armuzna

Secara umum, jemaah dari Pragaan beserta rombongan dari Kabupaten Sumenep lainnya saat ini telah menyelesaikan rangkaian utama wukuf di Arafah. Berdasarkan pimpinan kloter dan bimbingan ibadah setempat, jemaah diarahkan untuk fokus menyelesaikan rangkaian Mina (mabit dan lempar jumrah ula, wustha, dan aqabah) dengan memanfaatkan waktu-waktu yang dinilai lebih aman (tidak terlalu terik).

2. Mayoritas Lansia Mengambil Skema Badala atau Murur

Kecamatan Pragaan dikenal memiliki proporsi jemaah lansia dan risti (risiko tinggi) yang cukup signifikan pada musim haji kali ini.

  • Demi keselamatan jemaah, para ketua regu (Karu) dan ketua rombongan (Karom) asal Sumenep menerapkan koordinasi ketat agar jemaah lansia tidak memaksakan diri berjalan kaki ke Jamarat untuk melempar jumrah secara langsung.
  • Prosesi lempar jumrah bagi jemaah lansia asal Pragaan mayoritas dibadalkan (diwakilkan) kepada jemaah lain yang lebih muda atau petugas kloter yang kondisinya prima.

3. Kekompakan Khas Warga Madura

Salah satu poin positif yang dilaporkan dari kloter-kloter asal Madura (termasuk Sumenep) adalah tingginya rasa solidaritas antardesa dan antarkecamatan. Sistem kekerabatan yang erat membuat para jemaah muda secara sukarela membantu jemaah lansia asal Pragaan saat berada di tenda Mina, baik dalam hal membagikan katering, membantu mobilitas ke toilet maktab, hingga saling mengingatkan untuk menjaga hidrasi (minum air putih dicampur oralit).

4. Tantangan Cuaca Ekstrem

Tim kesehatan kloter yang mendampingi jemaah Madura terus melakukan sweeping berkala di dalam tenda-tenda Mina. Jemaah asal Pragaan diimbau secara personal untuk menahan diri dari aktivitas berbelanja atau sekadar keluar tenda jika tidak ada keperluan ibadah yang mendesak, mengingat suhu ekstrem di sekitar maktab Mina rentan memicu kelelahan akut.

Secara keseluruhan, hingga laporan dari maktab di Mina diterima, rombongan jemaah haji asal Pragaan, Sumenep terpantau dalam kondisi aman dan terorganisir dengan baik di bawah pengawasan ketat para petugas PPIH kloter.

Selain itu, Warga Pragaan laok tersebut menyampaikna bahwa, ada beberapa kabar terbaru dan kebijakan spesifik yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi khusus untuk jemaah asal Indonesia:

1. Penerapan Skema Murur Massal di Muzdalifah

Untuk pertama kalinya, Kemenag menerapkan skema murur secara masif bagi sekitar 55.000 jemaah haji reguler risiko tinggi, lansia, dan disabilitas.

  • Mekanisme: Jemaah yang masuk dalam kategori ini tidak turun dari bus untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah. Bus yang membawa mereka dari Arafah langsung melintas menuju tenda maktab di Mina.
  • Tujuan: Kebijakan ini sukses mengurai kepadatan luar biasa di area Muzdalifah yang tahun-tahun sebelumnya sering memicu kelelahan ekstrem pada lansia.

2. Fasilitas Tenda Mina “Mina Jadid” dan Area Perluasan

Sebagian jemaah haji Indonesia ditempatkan di wilayah perluasan Mina (sering disebut Mina Jadid). Kemenag terus mengedukasi jemaah mengenai aspek syar’i mabit di wilayah ini guna meredam polemik, serta memastikan logistik dan posko kesehatan di area perluasan ini tetap sama lengkapnya dengan Mina utama.

3. Layanan Katering Penuh Selama Fase Puncak

Berbeda dengan beberapa tahun lalu di mana katering sempat dihentikan menjelang puncak haji karena kendala lalu lintas di Mekkah, tahun ini jemaah Indonesia mendapatkan layanan katering penuh secara berkala. Paket makanan yang diberikan disesuaikan dengan lidah Indonesia dan dikemas dalam boks siap saji demi menjaga asupan nutrisi jemaah di tengah cuaca panas ekstrem.

4. Pengetatan Razia Jemaah Non-Visa Haji

Pihak otoritas keamanan Arab Saudi tahun ini sangat memperketat pemeriksaan (check point) di jalur-jalur masuk Mekkah dan Armuzna. PPIH mengonfirmasi ada beberapa kasus WNI non-kuota (menggunakan visa ziarah atau visa ummal/pekerja) yang terjaring razia, didenda, hingga dideportasi karena mencoba masuk ke area ibadah tanpa smart card (kartu Nusuk) resmi. Pemerintah terus mengimbau agar pihak keluarga di tanah air memastikan legalitas visa yang digunakan kerabatnya.

5. Posko Kesehatan Satgas Heartstroke

Mengingat suhu menyentuh 47°C, Tim Kesehatan Haji Indonesia menyiagakan posko khusus di sepanjang jalur jamarat (tempat melontar jumrah). Petugas dibekali dengan alat penyemprot air (water sprayer) portable, oralit, dan cairan hidrasi untuk langsung dibagikan kepada jemaah Indonesia yang terlihat mulai kelelahan saat berjalan kaki.

Malam di Muzdalifah terasa berbeda. Langit padang pasir tampak gelap, tetapi bumi justru dipenuhi cahaya. Jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia duduk, berbaring, berzikir, dan berdoa di hamparan tanah terbuka setelah menyelesaikan wukuf di Arafah.

Di antara jutaan jamaah itu, terdapat seorang kader Nahdlatul Ulama asal Pragaan, Sumenep, KH. Subaidi Ismael, yang tengah menjalankan rangkaian ibadah haji tahun ini.

Pada malam 10 Dzulhijjah sekitar pukul 23.30 Waktu Arab Saudi, Subaidi mengirimkan video melalui aplikasi WhatsApp kepada keluarga, sahabat, dan warga kampung halamannya. Dari tengah lautan manusia di Muzdalifah, ia merekam suasana mabit dengan suara lirih bercampur haru.

“Subhanallah walhamdulillah, walailahaillallah wallahu akbar. Jutaan umat manusia dari berbagai penjuru dunia sudah berkumpul melakukan mabit di Muzdalifah yang sebentar lagi akan menuju Mina,” tuturnya dalam video tersebut.

Suara talbiyah, zikir, dan doa terdengar bersahutan dari berbagai arah. Tidak ada sekat bahasa, negara, maupun warna kulit. Semua larut dalam satu panggilan yang sama sebagai tamu Allah SWT.

Ketua Ranting NU Jaddung tersebut menggambarkan bagaimana para jamaah memadati bumi Muzdalifah setelah menuntaskan wukuf di Arafah. Di tengah suasana spiritual yang mendalam itu, ia tidak lupa memanjatkan doa untuk keselamatan seluruh jamaah haji.

“Semoga para jamaah diberikan keselamatan dan mendapatkan pahala serta keridaan dari Allah SWT. Mereka semuanya diberikan gelar haji makbul dan mabrur, diampuni segala dosanya dan dikabulkan semua maksud-maksud hatinya,” ucapnya.


Pagi harinya, suasana perjalanan haji kembali berlanjut. Setelah bergerak dari Muzdalifah menuju Mina dan melaksanakan lempar jumrah Aqabah, Subaidi menjalani tahallul awal dengan menggundul rambutnya.

Usai tahallul, ia kembali mengirimkan video penuh doa dan harapan. Kali ini bukan lagi sekadar menceritakan perjalanan ibadahnya, melainkan menyisipkan kerinduan agar keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat kampungnya juga mendapat kesempatan menjadi tamu Allah.

Dengan nada pelan dan penuh penghayatan, ia mengisahkan tahapan demi tahapan ibadah haji yang telah dilaluinya: mulai ihram dari miqat, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melempar jumrah di Mina.

“Harapan kedua, semoga rambut anak cucu abdhi dalem bisa qabul hajat juga untuk bertahallul setelah Jumratul Aqabah,” tuturnya.

Bagi Subaidi, tahallul bukan hanya prosesi menggundul rambut semata. Ia meyakini dawuh para guru bahwa setiap helai rambut yang dipotong menjadi sebab ampunan dosa dan doa malaikat bagi orang yang berhaji.

Karena itu, di tengah ribuan jamaah yang bergerak menuju rangkaian ibadah berikutnya, pikirannya justru melayang jauh ke kampung halaman. Kepada saudara, tetangga, para keponakan, hingga sahabat-sahabatnya, ia memanjatkan doa yang sama: semoga suatu hari mereka juga dipanggil Allah ke Tanah Suci.

“Saudara-saudara saya, para tetangga sekalian, ponakan-ponakan saya, semoga disempatkan oleh Allah untuk bercukur atau bertahallul setelah melaksanakan Jumratul Aqabah,” katanya.

Doa itu mengalir sederhana, tetapi terasa hangat dan dekat. Tidak hanya memohon keselamatan bagi dirinya sendiri, melainkan juga mengajak orang-orang yang ia cintai untuk ikut merasakan perjalanan spiritual yang sama.

Di penghujung videonya, Subaidi menengadahkan harapan kepada Allah SWT agar seluruh keluarga, kerabat, dan teman-temannya diberi kesempatan menunaikan ibadah haji.

“Ya Allah Ya Karim, Ya Rahman, Ya Rahim… tolong kabulkan hajat seluruh keluarga, kerabat, dan teman untuk menunaikan ibadah haji,” ucapnya.

Di tanah suci, ribuan kilometer dari Desa Jaddung, seorang kader NU Pragaan itu tidak hanya menjalani perjalanan ibadah pribadi. Ia membawa pulang doa-doa untuk kampung halamannya—doa yang lahir dari padang Muzdalifah dan gema talbiyah jutaan manusia. (Ilunk)

Editor : Fauzan

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pragaan hadir bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai episentrum gerakan sosial, keumatan, dan kemandirian ekonomi. Berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, NU Pragaan terus bergerak dinamis, menyentuh setiap lini kehidupan masyarakat melalui struktur yang kokoh dan program yang berdampak nyata.

Revitalisasi Kaderisasi melalui Badan Otonom (Banom)
Kekuatan utama NU Pragaan terletak pada denyut nadi badan otonomnya yang bergerak selaras, saling mengisi dari generasi ke generasi:

IPNU & IPPNU: Menjadi kawah candradimuka bagi pelajar dan santri, membentengi generasi muda Pragaan dengan pemikiran yang moderat, kreatif, dan berwawasan luas.

GP Ansor & Fatayat NU: Sebagai motor penggerak pemuda dan perempuan muda. Ansor dengan ketegasannya menjaga ulama dan NKRI, bersanding harmonis dengan Fatayat yang fokus pada pemberdayaan perempuan, kesehatan keluarga, dan ketahanan sosial.

Muslimat NU: Tiang pancang peradaban di tingkat keluarga dan majelis taklim, yang tak pernah lelah merawat moralitas dan spiritualitas masyarakat.

Pergunu (Persatuan Guru NU): Berjuang di garis depan pendidikan, memastikan mencerdaskan kehidupan bangsa yang berbasis karakter karimah.

JQH (Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh): Membumikan Al-Qur’an di bumi Pragaan, menjaga keluhuran sanad, serta mencetak generasi yang cinta dan hafal Al-Qur’an.

Pilar Kesehatan dan Kemandirian Ekonomi
NU Pragaan memahami bahwa dakwah tidak hanya dilakukan di atas mimbar, melainkan juga melalui aksi nyata dalam mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup warga. Prinsip mabadi khaira ummah diterjemahkan secara konkret melalui tiga pilar layanan utama:

  • Pelayanan Kesehatan: Klinik NU Pragaan
    Kesehatan adalah hak dasar setiap warga. Melalui Klinik NU, NU Pragaan hadir memberikan pelayanan medis yang inklusif, profesional, dan penuh kasih. Klinik ini menjadi wujud nyata bahwa NU hadir untuk memberikan ketenangan, baik secara spiritual maupun fisik, bagi masyarakat yang membutuhkan.
  • Kemandirian Finansial: BMTNU Pragaan
    Bergerak di sektor ekonomi makro dan mikro, BMTNU Pragaan menjadi solusi keuangan syariah yang tepercaya. BMTNU berhasil memutus mata rantai rentenir, membantu modal usaha wong cilik, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya tata kelola keuangan yang berkah dan mandiri.
  • Ketahanan Pangan & Ritel: Swalayan NU
    Sebagai simbol kedaulatan ekonomi, Swalayan NU Pragaan hadir memenuhi kebutuhan sehari-hari warga. Dari warga, oleh warga, dan untuk warga—keberadaan swalayan ini membuktikan bahwa perputaran ekonomi lokal bisa dikelola secara mandiri dan profesional oleh kader-kader NU.

“NU Pragaan adalah bukti hidup bahwa ketika harakah (gerakan), fikrah (pemikiran), dan amaliyah (tindakan) berpadu dengan kemandirian ekonomi serta kepedulian sosial, maka kemaslahatan umat bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang terus dirasakan manfaatnya setiap hari.”

Dengan sinergi Banom yang solid serta institusi ekonomi dan kesehatan yang kuat, MWC NU Pragaan siap melangkah jauh ke depan, merawat jagat, dan membangun peradaban yang berkeadilan.

Oleh : Gus Herman
Wakil Ketua MWCNU Pragaan

iklan