Pragaan – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pragaan Daya 1, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, kembali menggelar kegiatan Majelis Jum’at Pon pada Kamis (4/6/2026) di Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang.

Kegiatan rutin tersebut diikuti pengurus dan warga Nahdliyin dengan rangkaian acara berupa pembacaan tahlil, shalawat Barzanji, sambutan organisasi, mauidah hasanah, serta ditutup dengan doa bersama.

Ketua MWCNU Pragaan, K. Hambali Makhtum, dalam sambutannya mengajak warga Nahdlatul Ulama untuk memperkuat semangat berkhidmat kepada organisasi di abad kedua NU.

Menurutnya, memasuki satu abad lebih usia Nahdlatul Ulama, seluruh kader dan warga NU harus memiliki semangat baru dalam mengembangkan organisasi dan melayani umat.

“Kita berada di abad kedua NU, di abad baru, semangat baru. Kalau bisa kita harus kerasukan NU,” ujarnya yang disambut antusias para jamaah.

Sementara itu, Wakil Rais Syuriyah MWCNU Pragaan, KH Jamali Salim, dalam mauidah hasanahnya menekankan pentingnya membangun karakter pribadi yang baik melalui lingkungan yang baik pula.

Menurutnya, salah satu cara paling mudah untuk menjadi pribadi saleh adalah dengan selalu mendekat kepada orang-orang saleh dan meneladani perilaku mereka secara istiqamah.

“Orang baik pasti melakukan kebaikan. Cara yang mudah dan mungkin bisa kita lakukan untuk menjadi orang baik adalah selalu dekat dengan orang-orang baik (saleh) dan meniru secara istiqamah semua kebaikan tersebut,” tuturnya.

Majelis Jum’at Pon merupakan salah satu kegiatan rutin PRNU Pragaan Daya 1 yang bertujuan memperkuat ukhuwah Nahdliyah, menjaga tradisi amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah, serta menjadi sarana penguatan ideologi dan semangat berorganisasi di kalangan warga NU.

Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan hingga ditutup dengan pembacaan doa bersama untuk keselamatan bangsa, kemaslahatan umat, dan keberkahan Nahdlatul Ulama.

Pragaan – Dalam rangka meningkatkan efektivitas pengelolaan serta memperkuat program-program kemaslahatan umat, LAZISNU MWCNU Pragaan menggelar rapat penguatan kelembagaan yang bertempat di Tabun Aeng Panas.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Ketua MWCNU Pragaan, K. Hambali Mahtum, serta Wakil Rais MWCNU Pragaan, K. Zubairi Karim. Turut hadir pula Ketua LAZISNU Pragaan, M. Mahdi, bersama jajaran pengurus LAZISNU lainnya yang ikut berpartisipasi aktif dalam pembahasan dan penguatan program organisasi.

Rapat ini menjadi momentum penting untuk mempererat koordinasi antar pengurus sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mengembangkan peran LAZISNU sebagai lembaga yang bergerak di bidang penghimpunan dan pendayagunaan zakat, infak, sedekah, serta dana sosial keagamaan lainnya.

Dalam forum tersebut dibahas berbagai langkah strategis untuk meningkatkan kinerja organisasi, memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat, serta membangun sistem kerja yang lebih tertata, transparan, dan profesional. Selain itu, penguatan sinergi antara LAZISNU dengan struktur Nahdlatul Ulama di tingkat MWCNU hingga ranting juga menjadi perhatian penting dalam rapat tersebut.

Tidak hanya sebagai ajang koordinasi, kegiatan ini juga menjadi ruang evaluasi terhadap program-program yang telah berjalan selama ini, sekaligus merumuskan langkah ke depan agar keberadaan LAZISNU semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, khususnya dalam bidang sosial, pendidikan, kemanusiaan, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Dengan semangat kebersamaan dan khidmah Nahdlatul Ulama, seluruh peserta rapat berharap agar LAZISNU MWCNU Pragaan dapat terus berkembang menjadi lembaga yang amanah, profesional, dan mampu menjadi jembatan kebaikan bagi masyarakat yang membutuhkan. Penguatan kelembagaan ini diharapkan menjadi langkah nyata untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas serta memperkuat gerakan sosial keumatan di wilayah Pragaan dan sekitarnya.

PRAGAAN – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Pragaan kembali menggelar kegiatan rutin Kompolan Bulen Poernama di kediaman Sahabat Abdullah, Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Selasa (2/6/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri Pembina Ansor-Banser Pragaan, KH. Hayatul Islam, serta jajaran pengurus PAC Ansor dan Banser Pragaan.

Ketua PAC Ansor Pragaan, Sahabat Khalili Hasbullah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan pertemuan rutin perdana setelah jeda panjang akibat libur Hari Raya Idulfitri dan Iduladha.

“Alhamdulillah, malam ini kami kembali dapat melaksanakan kegiatan rutin Kompolan Bulen Poernama di Desa Prenduan. Semoga kegiatan ini terus menjadi sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat semangat khidmat para kader Ansor dan Banser,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Kasatkoryon) Banser Pragaan, Sahabat Zubaidi, berharap kegiatan rutin tersebut dapat terus dilaksanakan secara istiqamah.

“Semoga kegiatan ini senantiasa membawa keberkahan, mempererat persaudaraan, serta menambah kedekatan kita kepada Allah SWT melalui pembacaan Shalawat Burdah dan berbagai amaliah keagamaan lainnya,” tuturnya.

Sementara itu, KH. Hayatul Islam dalam tausiyah singkatnya menekankan pentingnya menjaga ketakwaan dengan menjauhi segala hal yang diharamkan oleh Allah SWT.

“Alhamdulillah, kegiatan ini kembali terlaksana setelah libur panjang. Semoga menjadi wasilah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, memperkuat keimanan, serta membimbing kita agar senantiasa menjauhi segala sesuatu yang telah diharamkan-Nya,” pungkasnya.

Kegiatan Kompolan Bulen Poernama merupakan agenda rutin PAC Ansor-Banser Pragaan yang diisi dengan pembacaan Shalawat Burdah, doa bersama, tausiyah keagamaan, serta konsolidasi organisasi guna memperkuat ukhuwah dan semangat pengabdian kader di tengah masyarakat. (Zy)

iklan

Oleh: KH. Abd. Warits Anwar

Pada masa dahulu, sebagian Bani Israil memiliki kebiasaan mandi bersama dalam keadaan tanpa busana sehingga mereka dapat saling melihat aurat satu sama lain. Nabi Musa AS merasa tidak nyaman dengan kebiasaan tersebut. Beliau lebih memilih mandi seorang diri sebagai wujud penjagaan kehormatan, kemuliaan diri, dan sifat muruah yang dimilikinya.

Namun, sikap beliau yang berbeda dari kebiasaan umum justru memunculkan prasangka dan isu yang tidak sedap. Sebagian Bani Israil menuduh bahwa Nabi Musa AS enggan mandi bersama mereka karena memiliki cacat atau penyakit tertentu. Mereka berkata, “Musa tidak mau mandi bersama kita karena ia memiliki penyakit hernia atau penyakit pada kemaluannya.”

Allah SWT tidak membiarkan tuduhan tersebut berkembang menjadi fitnah yang merusak kehormatan seorang nabi. Dia berkehendak menampakkan kebenaran dan membersihkan nama Nabi Musa AS dari segala prasangka buruk.

Pada suatu hari, Nabi Musa AS mandi sendirian. Sebelum mandi, beliau meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Ketika beliau sedang mandi, atas kehendak Allah SWT batu tersebut bergerak membawa lari pakaian beliau. Nabi Musa AS pun segera keluar dan mengejarnya sambil berseru, “Pakaianku, wahai batu! Pakaianku, wahai batu!”

Saat itu, sejumlah Bani Israil sedang berada di sekitar tempat tersebut. Mereka melihat Nabi Musa AS dengan jelas dan menjadi saksi bahwa beliau sama sekali tidak memiliki penyakit sebagaimana yang selama ini mereka tuduhkan. Dengan demikian, terbantahlah seluruh prasangka dan isu yang beredar di tengah masyarakat.

Setelah orang-orang Bani Israil menyaksikan kenyataan tersebut, batu itu berhenti. Nabi Musa AS kemudian mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut berkali-kali sebagai ungkapan kekesalan atas peristiwa yang baru saja terjadi. Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa bekas pukulan Nabi Musa AS masih tampak pada batu itu, sekitar enam atau tujuh bekas pukulan.

Kisah ini mengajarkan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri. Isu dan prasangka buruk mungkin dapat menyebar dengan cepat, tetapi ketika fakta terungkap, fitnah akan runtuh dengan sendirinya. Karena itu, sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu kabar, sudah sepatutnya kita meneliti kebenarannya agar tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran fitnah.

Sumber: Kitab Fathul Mubdi’ Syarh Mukhtashar Az-Zabidi, Juz 1.

Nuonline.pragaan — Pengurus Ranting Fatayat Nahdlatul Ulama Jaddung menggelar pertemuan rutin triwulan yang dirangkai dengan pembacaan dan kajian Kitab Maulid Ad-Diba’i pada Sabtu (30/5/2026) di kediaman Sahabat Rohami, Dusun Bulu, Desa Jaddung.

Kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan dihadiri oleh pengurus serta anggota Fatayat NU Jaddung. Acara diawali dengan pembacaan istighasah yang dipimpin oleh Sahabat Uswatun Hasanah, S.E., dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Nahdlatul Ulama, Syubbanul Wathan, dan Mars Fatayat yang dipandu oleh Sahabat Arifah, S.Pd.

Selanjutnya, peserta mengikuti pembacaan Surah Yasin dan doa bersama yang dipimpin oleh Sahabat Ny. St. Aisyah, S.Pd.I. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kajian Kitab Maulid Ad-Diba’i yang diasuh oleh Kiai Fathor Rohman Hasbullah.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Fathor mengulas isi kitab halaman 97–98 yang menjelaskan keteguhan Rasulullah SAW dalam menghadapi berbagai bentuk penolakan, hinaan, dan cemoohan dari kaum yang tidak beriman. Meski menghadapi tekanan yang berat, Rasulullah SAW tetap mengedepankan kesabaran karena belum ada perintah dari Allah SWT untuk melakukan perlawanan. Dalam kondisi tersebut, Rasulullah SAW mengarahkan para sahabat untuk berhijrah ke Habasyah sebagai upaya menjaga keimanan dan keselamatan mereka.

Melalui kegiatan rutin ini, PRFNU Jaddung berupaya menjaga tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah, mempererat tali silaturahmi antaranggota, serta menanamkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah dalam suasana penuh kekeluargaan. (MQ)