Menulis tentang KeNU-an (ke-Nahdlatul Ulama-an) berarti berbicara tentang bagaimana Islam dijalankan secara ramah, moderat, dan menyatu dengan budaya Nusantara. Bagi warga Nahdliyin (sebutan untuk warga NU), KeNU-an bukan sekadar identitas organisasi, melainkan sebuah cara pandang (manhaj) dalam beragama, berbangsa, dan bermasyarakat.

Mari kita bedah esensi dari KeNU-an ini ke dalam tiga pilar utama:

1. Pilar Keagamaan (Fikrah Aswaja)

Secara teologis dan metodologis, NU mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Dalam praktiknya, pemikiran keagamaan NU dicirikan oleh empat sikap kemasyarakatan yang utama:

  • Tawassuth (Moderat): Mengambil jalan tengah, tidak ekstrem kanan (radikal) dan tidak ekstrem kiri (liberal).
  • Tawazun (Seimbang): Seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadis) serta dalil aqli (akal/konteks zaman).
  • I’tidal (Tegak Lurus/Adil): Bertindak proporsional dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.
  • Tasamuh (Toleran): Menghargai perbedaan, baik perbedaan dalam masalah keagamaan (khilafiyah) maupun perbedaan suku, ras, dan agama.

2. Tradisi dan Amaliah (Kultur)

Salah satu keunikan KeNU-an adalah kemampuannya merawat tradisi Islam yang telah berakulturasi dengan budaya lokal. NU tidak datang untuk memberangus tradisi lokal, melainkan mewarnainya dengan nilai-nilai Islam (pribumisasi Islam).

Beberapa amaliah khas NU yang sangat lekat di masyarakat antara lain:

  • Tahlilan dan Yasinan: Ruang spiritual sekaligus silaturahmi sosial mendoakan orang yang wafat.
  • Ziarah Kubur: Sarana mengingat kematian sekaligus menghormati jasa para ulama dan leluhur.
  • Shalawatan dan Maulid Nabi: Ekspresi cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW melalui syair dan pujian.
  • Sistem Pesantren: Pusat sanad keilmuan NU yang melahirkan santri-santri berakhlak mulia dan berwawasan luas.

3. Komitmen Kebangsaan (Nasionalisme)

Bagi NU, agama dan negara tidak saling bertentangan. Hubungan ini dirangkum indah dalam jargon yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari: “Hubbul Wathan minal Iman” (Cinta tanah air adalah sebagian dari iman).

NU memandang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai bentuk final kesepakatan bangsa (Darussalam atau Darul Ahdi), bukan negara teokrasi maupun sekuler. Karena itulah, menjaga kedaulatan bangsa adalah bagian dari menjalankan perintah agama.

Kesimpulan: KeNU-an adalah rumusan Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam). Ia mengajarkan kita untuk menjadi muslim yang taat tanpa harus kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia, serta menjadi warga negara yang baik tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip agama.

Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) di Surabaya merupakan kisah perjuangan yang memadukan respons terhadap geopolitik Islam global dan kebutuhan menjaga tradisi lokal di Nusantara.

Bila diibaratkan sebuah kelahiran, para ulama sering menyebut KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai bidannya, sedangkan KH Hasyim Asy’ari adalah dokternya. Keduanya berbagi peran yang sangat presisi dan saling melengkapi.

1. Latar Belakang Sejarah & Komite Hijaz

Pemicu utama lahirnya NU tidak bisa dilepaskan dari peristiwa di Timur Tengah pada tahun 1924–1925. Saat itu, Ibnu Saud berhasil menguasai wilayah Hijaz (Mekah dan Madinah) dan menerapkan paham Wahabi yang cenderung kaku. Pemerintah baru tersebut berencana melarang praktik bermazhab dan bahkan berniat membongkar situs-situs sejarah Islam, termasuk makam Nabi Muhammad SAW, demi mencegah apa yang mereka anggap sebagai syirik.

Melihat kondisi tersebut, kelompok Islam modernis di Indonesia yang mengadakan Kongres Islam Internasional tidak mengakomodasi aspirasi kaum pesantren untuk membela tradisi bermazhab.

Merasa kepentingan Islam tradisionalis terpinggirkan, KH Abdul Wahab Hasbullah berinisiatif mengumpulkan para kiai dan membentuk Komite Hijaz. Komite ini bertujuan mengirimkan delegasi langsung ke Mekah untuk menghadap Raja Ibnu Saud. Guna memberikan payung hukum dan wadah yang formal bagi delegasi ini, para kiai akhirnya sepakat mendirikan sebuah jam’iyyah (organisasi) yang dinamakan Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama).

2. Peran Penting Dua Tokoh Sentral

Dalam proses pendirian tersebut, KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah memainkan peran yang sangat krusial:

KH Hasyim Asy’ari: Pemegang Legitimasi Spiritual & Rais Akbar

Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Hasyim Asy’ari adalah ulama yang sangat dihormati dan menjadi episentrum sanad keilmuan para kiai di tanah Jawa.

  • Pemberi Restu Spiritual: Kiai Hasyim tidak terburu-buru menyetujui ide pendirian organisasi yang diusulkan Kiai Wahab. Beliau melakukan salat istikharah dan meminta petunjuk Allah SWT. Legitimasi berdirinya NU menjadi mantap setelah beliau menerima tasbih dan tongkat dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, melalui perantara KH As’ad Syamsul Arifin, sebagai simbol restu spiritual.
  • Perumus Doktrin Utama: Kiai Hasyim merumuskan Muqaddimah Qanun Asasi (konstitusi dasar) NU dan kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Doktrin ini menjadi panduan teologis bagi warga NU dalam beragama.
  • Rais Akbar Pertama: Beliau menempati posisi tertinggi sebagai Rais Akbar (Pemimpin Tertinggi) pertama, yang menakhodai arah pemikiran kegamaan NU.

KH Abdul Wahab Hasbullah: Motor Penggerak & Arsitek Organisasi

Jika Kiai Hasyim adalah jangkar spiritualnya, maka Kiai Wahab adalah motor penggerak, konseptor, sekaligus diplomat ulung di lapangan.

  • Inisiator Komite Hijaz: Kiai Wahab adalah tokoh yang mengoordinasi para kiai, menyediakan kediamannya di Kertopaten, Surabaya sebagai tempat pertemuan, dan berangkat langsung ke Arab Saudi untuk bernegosiasi dengan Raja Ibnu Saud. Berkat diplomasi beliau, kebebasan bermazhab dijamin dan makam Nabi Muhammad SAW batal digusur.
  • Membangun Fondasi Organisasi: Sebelum NU lahir, Kiai Wahab telah menanam benih pergerakan dengan mendirikan kelompok diskusi Taswirul Afkar (1914), sekolah kebangsaan Nahdlatul Wathan (1916), dan koperasi dagang Nahdlatut Tujjar (1918). Ketiga elemen ini (pemikiran, pendidikan, ekonomi) menjadi cetak biru kekuatan NU di kemudian hari.
  • Katib ‘Am Pertama: Beliau menduduki posisi sebagai Katib ‘Am (Sekretaris Umum) pertama yang bertugas mengonsolidasikan, menggerakkan roda organisasi, dan memperluas jaringan NU ke berbagai daerah.

Oleh : K. Harir Hidayat
Sekretaris MWCNU Pragaan

iklan

Bagi para ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), bulan Dzulhijjah bukan sekadar bulan biasa, melainkan salah satu momentum spiritual terbesar dalam Islam. Keistimewaan bulan ini sering kali diulas mendalam oleh para syekh dan kiai NU, baik melalui kitab-kitab klasik maupun tausiyah mereka.

Berikut adalah keistimewaan bulan Dzulhijjah menurut pandangan dan ajaran para tokoh NU:

1. Puncak dari “Asyhurul Hurum” (Bulan-Bulan Mulia)

Para tokoh NU sering mengingatkan bahwa Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan yang disucikan (Asyhurul Hurum), bersama dengan Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab. Di bulan-bulan ini, Allah melarang manusia berbuat zalim dan melipatgandakan pahala amal saleh. KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) dalam beberapa ngajinya sering menekankan bahwa menghormati bulan mulia ini cukup dengan tidak melakukan maksiat dan memperbanyak rasa syukur.

2. Sepuluh Hari Pertama yang Mengalahkan Pahala Jihad

Salah satu hadis yang paling sering dikutip oleh para kiai NU saat memasuki bulan ini adalah keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah. Amal saleh di waktu ini disebut lebih dicintai Allah daripada jihad di jalan Allah, kecuali jihadnya orang yang menyerahkan seluruh jiwa dan hartanya tanpa sisa. Oleh karena itu, warga NU (Nahdliyin) diajak untuk memaksimalkannya dengan:

  • Puasa Sunah: Khususnya puasa sunah dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah.
  • Memperbanyak Zikir: Membaca tahlil, tahmid, dan takbir.

3. Hari Arafah (9 Dzulhijjah): Penghapusan Dosa Dua Tahun

Bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, para tokoh NU sangat menganjurkan pelaksanaan Puasa Arafah. Keistimewaan hari ini, sebagaimana sering disampaikan dalam khotbah-khotbah resmi NU, adalah kemampuannya menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Hari ini juga merupakan waktu di mana Allah paling banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka.

4. Simbol Ketaatan Total Melalui Ibadah Qurban

Idul Adha dan hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah waktu pelaksanaan ibadah qurban. Tokoh-tokoh NU, termasuk para Rais ‘Aam sepanjang sejarah NU, selalu menekankan bahwa qurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan simbol taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dan kepedulian sosial. Hewan qurban yang disembelih menjadi bukti keikhlasan dalam mengorbankan ego dan harta demi meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Pesan Spiritual Tokoh NU:

“Bulan Dzulhijjah adalah waktu terbaik untuk menata kembali hubungan kita dengan Allah melalui takwa, dan hubungan dengan sesama manusia melalui berbagi daging qurban. Jangan biarkan hari-hari mulia ini berlalu tanpa bekas.”

Oleh : Muhamnad Alimudin
Wakil Bendahara MWCNU Pragaan


SUMENEP — Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) MWCNU Pragaan membuat terobosan baru dengan menggelar Lomba Melukis dan Nasyid Islami tingkat regional se-Kabupaten Sumenep. Acara yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Raya Iduladha 1447 H ini ditempatkan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Unggulan Sains Alquran Insan Kamil, Aeng Panas, Pragaan, Sumenep.
​Kegiatan ini lahir dari kolaborasi solid antara Lesbumi MWCNU Pragaan, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), dan Yayasan Ikhtiar Insan Kamil.
​Inovasi Unik dan Pelestarian Budaya
​Ketua Tanfidziah MWCNU Pragaan, K. Hambali Makhtum, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif ini. Menurut beliau, Lesbumi merupakan salah satu lembaga yang paling aktif (“gacor”) dan penuh inovasi.
​”Biasanya peringatan hari besar Islam hanya terfokus pada Tahun Baru Hijriah, Isra Mikraj, atau Maulid Nabi. Namun, Lesbumi kali ini menghadirkan terobosan baru menyambut Iduladha. Ini bisa disebut sebagai bid’ah hasanah (tradisi baru yang baik) dari Lesbumi,” ujar K. Hambali. Beliau juga berharap Lesbumi dapat menjadi rumah besar bagi para seniman di Sumenep agar tetap berkarya di bawah panji NU serta koridor norma agama.
​Senada dengan hal itu, Ketua Panitia, Ibrohim Musyfiq, menjelaskan bahwa alasan pemilihan momen Iduladha adalah untuk memberikan warna yang berbeda dari biasanya. Ia menekankan bahwa tujuan utama lomba melukis ini adalah untuk menggali kembali kreativitas anak-anak di tingkat sekolah dasar.
​”Seni melukis saat ini sudah hampir terkikis oleh arus modernisasi, karena itu kita perlu wadah seperti ini,” kata Ibrohim.
​Antusiasme Peserta Melampaui Target
​Meskipun panitia sempat merasa khawatir target peserta tidak akan tercapai, pelaksanaan acara justru dibanjiri oleh antusiasme yang luar biasa dari ratusan peserta yang mendaftar. Secara keseluruhan, total peserta melonjak dari perkiraan awal, dengan rincian:
​100 peserta untuk Lomba Melukis (jenjang MI/SD se-Sumenep).
​20-an peserta/grup untuk Lomba Nasyid Islami (jenjang MTs se-Sumenep).
​Melihat tingginya partisipasi warga Nahdliyin, Ketua Yayasan Ikhtiar Insan Kamil, Dr. H. Mohammad Hasbi, M.Pd, menyatakan dukungan penuhnya. Ia menilai sektor seni lukis sudah berjalan sangat optimal dengan hasil yang bagus. Sementara untuk cabang nasyid, ia memberikan catatan positif untuk dieksplorasi lebih jauh di masa mendatang.
​”Kerja sama melalui event seperti ini harus terus dikembangkan di lembaga pendidikan bawah naungan NU. Ini membuktikan bahwa NU, melalui Lesbumi, benar-benar hadir secara nyata di tengah masyarakat,” tutur Dr. Hasbi. (Fz)

Editor : Z

PRAGAAN-Pimpinan Komisariat IPNU dan IPPNU LPI Nurul Ihsan menggelar kegiatan Majelis Pelajar di Aula LPI Nurul Ihsan, Sentol Daya, Pragaan, Sumenep, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk kajian dan diskusi pelajar yang membahas berbagai isu aktual seputar dunia pendidikan dan kondisi sosial masyarakat. Pada pertemuan kali ini, tema yang diangkat adalah “Makan Gratis atau Pendidikan Gratis: Mana yang Lebih Prioritas?”

Ketua PK IPPNU LPI Nurul Ihsan, Olifia, berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang pengembangan wawasan sekaligus mempererat silaturahim antarpelajar.

“Semoga kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk menambah wawasan, memperoleh silaturahim, dan menumbuhkan kepedulian kita terhadap kondisi pendidikan dan kesejahteraan masyarakat saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, pemantik diskusi, Nuril Faizin, mengaku bangga atas terselenggaranya Majelis Pelajar tersebut. Menurutnya, pelajar harus tetap kritis dan peka terhadap berbagai persoalan sosial di sekitarnya.

“Bagaimanapun, pelajar harus tetap kritis dan peka terhadap kondisi sosial yang terjadi di sekitar,” tuturnya.

Ia juga menilai bahwa kegiatan di tingkat komisariat menjadi langkah positif dalam membangun budaya intelektual di lingkungan pelajar NU sekaligus memperkuat kebanggaan kader terhadap organisasi di tingkat PAC.

“Kegiatan seperti ini secara tidak langsung akan menambah kebanggaan terhadap PAC,” tambahnya.

Diskusi berlangsung aktif dan penuh antusiasme. Para peserta tidak hanya menyampaikan pandangan terkait prioritas pendidikan dan kesejahteraan, tetapi juga diajak membangun sikap kritis serta kepedulian sosial sebagai bagian dari karakter pelajar Nahdlatul Ulama. (Zan)

Editor : Fauziyah

Pragaan-Pimpinan Cabang Muslimat NU Sumenep menggelar kegiatan Turba (Turun ke Bawah) sekaligus silaturahim ke Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Pragaan, Jumat (22/5/2026), bertempat di Kantor MWCNU Pragaan.

Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat organisasi, baik secara jamaah maupun jam’iyah, mulai dari tingkat PAC, ranting, hingga anak ranting.

Turut hadir dalam kegiatan itu Sekretaris PC Muslimat NU Sumenep, Siti Asiyah, bersama sejumlah pengurus koordinator bidang PC Muslimat NU Sumenep.

Ketua PAC Muslimat NU Pragaan, Siti Aminah, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran jajaran pengurus PC Muslimat NU Sumenep ke Pragaan.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran pengurus PC ke PAC Pragaan. Semoga ini menjadi motivasi bagi Muslimat NU Pragaan untuk semakin baik,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat hal-hal dalam pengelolaan organisasi yang belum sepenuhnya sesuai dengan aturan yang berlaku, khususnya terkait penambahan struktur bidang di tubuh PAC Muslimat NU Pragaan yang tidak tercantum dalam PD/PRT organisasi.

“Tambahan bidang itu kami lakukan demi kebutuhan gerakan organisasi di tingkat PAC,” ujarnya sambil tersenyum hangat.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian laporan program kerja PAC Muslimat NU Pragaan yang dipandu Sekretaris PAC Muslimat NU Pragaan, Muthmainnah Imron. Laporan tersebut disertai penayangan video dokumentasi berbagai kegiatan organisasi.

Sementara itu, Sekretaris PC Muslimat NU Sumenep, Nyai Siti Asiyah, memberikan apresiasi atas berbagai program dan dinamika organisasi yang berjalan di PAC Muslimat NU Pragaan.

“Saya sangat bangga dan kagum dengan PAC Muslimat NU Pragaan yang gerakannya sangat luar biasa. Strukturnya lengkap, bahkan lebih dari yang ada di PD/PRT. Namun itu tidak masalah demi keberlangsungan organisasi selama bukan aturan yang mengikat,” ungkapnya.

Ia juga menilai bahwa PAC Muslimat NU Pragaan termasuk salah satu PAC yang aktif dan solid di Kabupaten Sumenep.

“Semua program kerjanya luar biasa dan berjalan. Anggotanya aktif hingga tingkat anak ranting, bahkan menjadi PAC dengan jumlah pengurus terbanyak se-Kabupaten Sumenep,” katanya disambut tepuk tangan para peserta.

Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh keakraban. Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Wakil Ketua PC Muslimat NU Sumenep, Alfiatun.