Menghabisi Isu Negatif dengan Bijak

Oleh: KH. Abd. Warits Anwar

Pada masa dahulu, sebagian Bani Israil memiliki kebiasaan mandi bersama dalam keadaan tanpa busana sehingga mereka dapat saling melihat aurat satu sama lain. Nabi Musa AS merasa tidak nyaman dengan kebiasaan tersebut. Beliau lebih memilih mandi seorang diri sebagai wujud penjagaan kehormatan, kemuliaan diri, dan sifat muruah yang dimilikinya.

Namun, sikap beliau yang berbeda dari kebiasaan umum justru memunculkan prasangka dan isu yang tidak sedap. Sebagian Bani Israil menuduh bahwa Nabi Musa AS enggan mandi bersama mereka karena memiliki cacat atau penyakit tertentu. Mereka berkata, “Musa tidak mau mandi bersama kita karena ia memiliki penyakit hernia atau penyakit pada kemaluannya.”

Allah SWT tidak membiarkan tuduhan tersebut berkembang menjadi fitnah yang merusak kehormatan seorang nabi. Dia berkehendak menampakkan kebenaran dan membersihkan nama Nabi Musa AS dari segala prasangka buruk.

Pada suatu hari, Nabi Musa AS mandi sendirian. Sebelum mandi, beliau meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Ketika beliau sedang mandi, atas kehendak Allah SWT batu tersebut bergerak membawa lari pakaian beliau. Nabi Musa AS pun segera keluar dan mengejarnya sambil berseru, “Pakaianku, wahai batu! Pakaianku, wahai batu!”

Saat itu, sejumlah Bani Israil sedang berada di sekitar tempat tersebut. Mereka melihat Nabi Musa AS dengan jelas dan menjadi saksi bahwa beliau sama sekali tidak memiliki penyakit sebagaimana yang selama ini mereka tuduhkan. Dengan demikian, terbantahlah seluruh prasangka dan isu yang beredar di tengah masyarakat.

Setelah orang-orang Bani Israil menyaksikan kenyataan tersebut, batu itu berhenti. Nabi Musa AS kemudian mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut berkali-kali sebagai ungkapan kekesalan atas peristiwa yang baru saja terjadi. Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa bekas pukulan Nabi Musa AS masih tampak pada batu itu, sekitar enam atau tujuh bekas pukulan.

Kisah ini mengajarkan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri. Isu dan prasangka buruk mungkin dapat menyebar dengan cepat, tetapi ketika fakta terungkap, fitnah akan runtuh dengan sendirinya. Karena itu, sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu kabar, sudah sepatutnya kita meneliti kebenarannya agar tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran fitnah.

Sumber: Kitab Fathul Mubdi’ Syarh Mukhtashar Az-Zabidi, Juz 1.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *