IPNU

opini

Oleh : Ach Zainurrizal

Membahas dinamika warga Nahdliyin di pelosok desa memang selalu menarik, karena di sanalah "akar rumput" sesungguhnya berada. Namun, harus diakui ada semacam diskoneksi antara program-program besar yang dirancang oleh pengurus pusat (PCNU) atau wilayah (MWCNU) dengan realitas masyarakat di tingkat ranting (desa).

Berikut adalah opini mengenai faktor-faktor yang menyebabkan lemahnya respons atau keterlibatan warga NU di pelosok terhadap program-program formal organisasi:


1. Masalah "Bahasa" dan Elitisme Program

Seringkali, program yang diturunkan dari pusat menggunakan narasi yang terlalu akademis, teknis, atau bersifat makro (seperti digitalisasi organisasi, kemandirian ekonomi skala besar, atau isu geopolitik).

  • Realitas di Desa: Warga lebih membutuhkan solusi praktis untuk gagal panen, akses kesehatan, atau sekadar keberlangsungan pengajian rutin.
  • Dampaknya: Program dianggap sebagai "milik orang kota" atau pengurus saja, bukan milik warga.

2. Lemahnya Jalur Komunikasi Organisasi (Struktural vs Kultural)

NU memiliki dua kekuatan: Struktural (pengurus dari pusat sampai desa) dan Kultural (kiai kampung, pengasuh langgar, dan tokoh masyarakat).

  • Banyak program hanya berhenti di level Cabang (Kabupaten) atau Majelis Wakil Cabang (Kecamatan) karena keterbatasan SDM untuk melakukan sosialisasi ke tingkat Ranting (Desa).
  • Warga di pelosok jauh lebih patuh pada instruksi Kiai Kampung secara langsung daripada membaca surat edaran atau mengikuti kampanye di media sosial. Jika pengurus struktural tidak menggandeng kiai lokal, program tersebut akan "layu sebelum berkembang."

3. Kendala Ekonomi dan Logistik

Warga NU di pelosok umumnya bekerja di sektor agraris atau buruh kasar.

  • Prioritas Hidup: Bagi mereka, mengikuti program organisasi yang menyita waktu seringkali berbenturan dengan waktu mencari nafkah.
  • Infrastruktur: Akses internet yang tidak merata membuat program-program berbasis aplikasi atau digital seringkali tidak menyentuh warga desa, sehingga mereka merasa teralienasi dari perkembangan terbaru organisasi.

4. Pola Pikir "NU adalah Amaliah, Bukan Administrasi"

Bagi warga di pelosok, menjadi NU adalah tentang cara beribadah (tahlilan, manaqiban, diba'an), bukan tentang kartu anggota (Kartanu) atau tertib administrasi organisasi.

  • Mereka merasa sudah "sangat NU" meski tidak tahu apa program kerja pengurusnya.
  • Hal ini membuat loyalitas mereka bersifat emosional-spiritual, bukan organisatoris-praktis.

Solusi dan Harapan ke Depan

Untuk memperkuat keterlibatan warga desa, pengurus NU dan jajarannya perlu melakukan Redesain Program dengan pendekatan:

  • Bottom-Up: Mendengarkan kebutuhan desa sebelum meluncurkan program.
  • Pendekatan Kesejahteraan: Program harus menyentuh urusan "perut" dan "kantong" warga, seperti koperasi tani atau distribusi pupuk, bukan sekadar seremonial.
  • Memperkuat Ranting: Menjadikan pengurus tingkat desa sebagai ujung tombak, bukan sekadar penonton dari kebijakan pusat.

Kesimpulan: Lemahnya warga desa terhadap program NU bukanlah karena kurangnya rasa memiliki (sense of belonging), melainkan karena kurangnya relevansi program tersebut dengan denyut nadi kehidupan mereka sehari-hari. Jika NU ingin kuat secara organisasi, maka desa harus dijadikan subjek pembangunan, bukan sekadar objek sosialisasi.

Penulis : Ach Zainurrizal
Editor :
Novas

SIDEBAR
gift

Pragaan, Tongkat estafet kepemimpinan PK IPNU SMA Al-Muqri resmi berlanjut. Moh. Aryanto terpilih sebagai Ketua Mandataris PK IPNU SMA Al-Muqri masa khidmat 2026โ€“2027 dengan membawa harapan baru bagi arah gerak organisasi pelajar NU di lingkungan sekolah.

Terpilihnya Moh. Aryanto menjadi momentum penting untuk membangkitkan semangat kaderisasi, memperkuat loyalitas organisasi, serta menghadirkan gerakan pelajar yang lebih aktif, progresif, dan berdaya saing.

PR IPNU-IPPNU Prenduan turut menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas amanah yang diberikan. Kepemimpinan baru diharapkan tidak hanya menjadi simbol pergantian jabatan, tetapi juga menjadi awal lahirnya perubahan nyata dalam tubuh organisasi.

Dengan semangat โ€œLanjutkan perjuangan, wujudkan perubahan,โ€ PK IPNU SMA Al-Muqri dituntut mampu menjadi ruang pembinaan pelajar yang kuat dalam intelektual, kokoh dalam akhlak, serta siap melanjutkan perjuangan Nahdlatul Ulama di masa mendatang.

Semangat Belajar, Berjuang, dan Bertaqwa diharapkan terus menjadi nafas perjuangan dalam setiap langkah kepengurusan baru. (MQ)

Editor : Fauzan

August 2026
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Nu online pragaanโ€” Pelantikan Pengurus Komisariat (PK) IPNU-IPPNU Arrahmah bukan sekadar agenda seremonial organisasi pelajar. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kiai Ahmad Basyir Khabiron, Jumat (8/5/2026), itu menjadi momentum penting untuk membangun kader pelajar yang aktif, bermental kuat, dan siap mengabdi di tengah masyarakat.

Suasana khidmat tampak menyelimuti prosesi pelantikan yang dihadiri para pengasuh, pembina, pengurus PAC IPNU-IPPNU Pragaan, serta kader pelajar Arrahmah.

Dalam sambutannya, K. Moh. Khalis Munib menegaskan bahwa pelajar tidak cukup hanya mengandalkan pembelajaran formal di dalam kelas. Menurutnya, organisasi merupakan ruang penting untuk membentuk keberanian, karakter, serta kemampuan menghadapi kehidupan sosial.
โ€œBanyak pelajaran hidup justru lahir dari organisasi. Di sana kita belajar memimpin, berbicara, bertanggung jawab, dan memperjuangkan sesuatu,โ€ ujarnya.

Ia juga mendorong para kader agar tidak takut aktif dan berproses dalam organisasi. Sebab, pengalaman berorganisasi akan menjadi bekal penting dalam membentuk mental perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat.

Pengalaman pribadi saat aktif di PAC IPNU Guluk-Guluk ketika masih menjadi santri di Pondok Pesantren Annuqayah turut dibagikan sebagai motivasi bagi para kader muda agar terus berkembang dan berani mengambil peran.

Sementara itu, Moh. Qudsi selaku pembina PK IPNU-IPPNU Arrahmah menyampaikan kisah keteladanan almarhum K. Ahmad Basyir Khabiron dalam perjuangan organisasi Nahdlatul Ulama.

Ia mengenang bagaimana sosok pengasuh Arrahmah tersebut rela berjalan kaki sekitar enam kilometer demi menghadiri rapat organisasi di Kantor MWCNU Pragaan sekitar tahun 2005 silam.

โ€œPerjuangan organisasi tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari keikhlasan, pengorbanan, dan istiqamah,โ€ ungkapnya.
Menurutnya, kisah tersebut menjadi pelajaran penting bagi kader IPNU-IPPNU agar tidak mudah mengeluh dalam berorganisasi dan tetap menjaga semangat pengabdian.

Ketua PAC IPNU Pragaan, Rekan Ach. Abrori, juga mengapresiasi semangat para pengurus baru yang dinilai memiliki kekompakan dan antusiasme tinggi untuk membangun organisasi yang aktif dan progresif.

Rangkaian pelantikan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin K. Abdurrauf Basyir. Penuh harapan, para kader baru diharapkan mampu membawa PK IPNU-IPPNU Arrahmah menjadi organisasi pelajar yang tidak hanya aktif secara administratif, tetapi juga hadir memberi manfaat nyata bagi masyarakat. (MQ)

Editor : Ach. Fauzi

NU Pragaan โ€” Pimpinan Komisariat (PK) IPPNU Al-Muqri menggelar kegiatan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan sebagai momentum evaluasi sekaligus penegasan bahwa organisasi bukan sekadar tempat mencari nama, melainkan ruang belajar amanah, tanggung jawab, dan keberanian berkembang.

Kegiatan yang diikuti jajaran pengurus dan anggota tersebut berlangsung khidmat dengan suasana penuh refleksi terhadap perjalanan kepengurusan selama satu periode masa khidmat.

Dalam sambutannya, Pembina PK IPPNU Al-Muqri, Wasilah, menekankan bahwa menjadi pengurus berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar, bukan hanya hadir membawa status organisasi semata.

โ€œOrganisasi bukan tempat numpang nama. Di sinilah mental, tanggung jawab, dan kualitas diri seseorang diuji,โ€ tegasnya.

Ia juga mendorong kader pelajar agar tidak takut berkembang dan berani menunjukkan kemampuan diri di tengah tantangan zaman yang semakin kompetitif. Menurutnya, masa pelajar merupakan fase penting untuk membentuk karakter kepemimpinan, keberanian berpikir, dan kedewasaan sikap.

โ€œKalau pelajar hanya diam dan takut mencoba, maka ia akan tertinggal. Organisasi harus menjadi tempat melatih keberanian, bukan justru tempat merasa nyaman tanpa proses,โ€ lanjutnya.

LPJ tersebut tidak hanya menjadi forum penyampaian laporan kepengurusan, tetapi juga ruang evaluasi terhadap loyalitas, kedisiplinan, dan keseriusan kader dalam menjalankan roda organisasi.

Sebagai penutup kegiatan, panitia memberikan penghargaan kepada sejumlah pengurus yang dinilai aktif dan berdedikasi selama masa khidmat sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata terhadap organisasi.

Melalui kegiatan ini, PK IPPNU Al-Muqri berharap mampu melahirkan kader pelajar yang tidak hanya aktif secara administratif, tetapi juga memiliki mental tangguh, bertanggung jawab, dan siap menjadi generasi yang terus bertumbuh serta memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. (MQ)

Editor : Khalilurrahman