BERITA

PRAGAAN-Pimpinan Komisariat IPNU dan IPPNU LPI Nurul Ihsan menggelar kegiatan Majelis Pelajar di Aula LPI Nurul Ihsan, Sentol Daya, Pragaan, Sumenep, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk kajian dan diskusi pelajar yang membahas berbagai isu aktual seputar dunia pendidikan dan kondisi sosial masyarakat. Pada pertemuan kali ini, tema yang diangkat adalah “Makan Gratis atau Pendidikan Gratis: Mana yang Lebih Prioritas?”

Ketua PK IPPNU LPI Nurul Ihsan, Olifia, berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang pengembangan wawasan sekaligus mempererat silaturahim antarpelajar.

“Semoga kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk menambah wawasan, memperoleh silaturahim, dan menumbuhkan kepedulian kita terhadap kondisi pendidikan dan kesejahteraan masyarakat saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, pemantik diskusi, Nuril Faizin, mengaku bangga atas terselenggaranya Majelis Pelajar tersebut. Menurutnya, pelajar harus tetap kritis dan peka terhadap berbagai persoalan sosial di sekitarnya.

“Bagaimanapun, pelajar harus tetap kritis dan peka terhadap kondisi sosial yang terjadi di sekitar,” tuturnya.

Ia juga menilai bahwa kegiatan di tingkat komisariat menjadi langkah positif dalam membangun budaya intelektual di lingkungan pelajar NU sekaligus memperkuat kebanggaan kader terhadap organisasi di tingkat PAC.

“Kegiatan seperti ini secara tidak langsung akan menambah kebanggaan terhadap PAC,” tambahnya.

Diskusi berlangsung aktif dan penuh antusiasme. Para peserta tidak hanya menyampaikan pandangan terkait prioritas pendidikan dan kesejahteraan, tetapi juga diajak membangun sikap kritis serta kepedulian sosial sebagai bagian dari karakter pelajar Nahdlatul Ulama. (Zan)

Editor : Fauziyah

Pragaan-Pimpinan Cabang Muslimat NU Sumenep menggelar kegiatan Turba (Turun ke Bawah) sekaligus silaturahim ke Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Pragaan, Jumat (22/5/2026), bertempat di Kantor MWCNU Pragaan.

Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat organisasi, baik secara jamaah maupun jam’iyah, mulai dari tingkat PAC, ranting, hingga anak ranting.

Turut hadir dalam kegiatan itu Sekretaris PC Muslimat NU Sumenep, Siti Asiyah, bersama sejumlah pengurus koordinator bidang PC Muslimat NU Sumenep.

Ketua PAC Muslimat NU Pragaan, Siti Aminah, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran jajaran pengurus PC Muslimat NU Sumenep ke Pragaan.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran pengurus PC ke PAC Pragaan. Semoga ini menjadi motivasi bagi Muslimat NU Pragaan untuk semakin baik,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat hal-hal dalam pengelolaan organisasi yang belum sepenuhnya sesuai dengan aturan yang berlaku, khususnya terkait penambahan struktur bidang di tubuh PAC Muslimat NU Pragaan yang tidak tercantum dalam PD/PRT organisasi.

“Tambahan bidang itu kami lakukan demi kebutuhan gerakan organisasi di tingkat PAC,” ujarnya sambil tersenyum hangat.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian laporan program kerja PAC Muslimat NU Pragaan yang dipandu Sekretaris PAC Muslimat NU Pragaan, Muthmainnah Imron. Laporan tersebut disertai penayangan video dokumentasi berbagai kegiatan organisasi.

Sementara itu, Sekretaris PC Muslimat NU Sumenep, Nyai Siti Asiyah, memberikan apresiasi atas berbagai program dan dinamika organisasi yang berjalan di PAC Muslimat NU Pragaan.

“Saya sangat bangga dan kagum dengan PAC Muslimat NU Pragaan yang gerakannya sangat luar biasa. Strukturnya lengkap, bahkan lebih dari yang ada di PD/PRT. Namun itu tidak masalah demi keberlangsungan organisasi selama bukan aturan yang mengikat,” ungkapnya.

Ia juga menilai bahwa PAC Muslimat NU Pragaan termasuk salah satu PAC yang aktif dan solid di Kabupaten Sumenep.

“Semua program kerjanya luar biasa dan berjalan. Anggotanya aktif hingga tingkat anak ranting, bahkan menjadi PAC dengan jumlah pengurus terbanyak se-Kabupaten Sumenep,” katanya disambut tepuk tangan para peserta.

Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh keakraban. Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Wakil Ketua PC Muslimat NU Sumenep, Alfiatun.

PRAGAAN – Lembaga Seni Budaya Muslimi Indonesia (Lesbumi) MWCNU Pragaan menghadirkan inovasi menarik dalam merespons isu kesehatan mental yang tengah marak belakangan ini. Bukan sekadar mengajarkan teknik dasar seni rupa, Lesbumi NU Pragaan resmi membuka program kelas atau les lukis yang dirancang khusus sebagai media terapi kesehatan mental (art therapy).

Kegiatan positif ini dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat sore, bertempat di Kantor MWCNU Pragaan. Program ini terbuka bagi siapa saja yang ingin melepas penat sekaligus mengeksplorasi potensi diri lewat goresan warna di atas kanvas.

Melukis sebagai Katarsis Jiwa

Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, tekanan akademis, maupun beban pekerjaan, kesehatan mental kerap kali terabaikan. Memahami fenomena tersebut, Lesbumi NU Pragaan mengemas kelas melukis ini dengan pendekatan yang berbeda. Fokus utamanya bukan mencetak pelukis profesional dalam semalam, melainkan memberikan ruang aman bagi peserta untuk menuangkan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Pelatih program ini, Sahabat Musyfiq, menjelaskan bahwa seni rupa memiliki kekuatan magis sebagai media katarsis atau penyucian jiwa.

“Saat seseorang mulai mengayunkan kuas dan memilih warna, di situlah proses dialog dengan diri sendiri terjadi. Kami ingin mengubah stigma bahwa les lukis itu kaku. Di sini, melukis adalah sarana rekonsiliasi hati, meredakan kecemasan, dan memulihkan energi positif setelah sepekan beraktivitas,” ujar Sahabat Musyfiq.

Memanfaatkan Ruang Publik NU untuk Kemaslahatan

Pemilihan Kantor MWCNU Pragaan sebagai lokasi pelaksanaan juga bukan tanpa alasan. Lesbumi NU Pragaan ingin menjadikan ruang organisasi sebagai pusat peradaban yang inklusif, ramah, dan solutif terhadap kebutuhan warganya, termasuk dalam aspek kesehatan mental.

Suasana Jumat sore yang tenang di sekitar kantor MWCNU diubah menjadi ruang kreatif yang hangat. Para peserta diajak mematikan sejenak gawai mereka, fokus pada kanvas masing-masing, dan menikmati proses penciptaan karya tanpa perlu takut dihakimi hasilnya.

Respons masyarakat dan kader muda NU terhadap program ini pun sangat positif. Banyak yang menilai kegiatan ini sebagai alternatif ngabuburit atau pengisian waktu luang akhir pekan yang jauh lebih produktif dan menenangkan.

Bagi Anda yang ingin merasakan langsung kedamaian di balik palet warna, kelas lukis bersama Sahabat Musyfiq ini siap menyambut Anda setiap Jumat sore di Kantor MWCNU Pragaan. Karena sejatinya, merawat pikiran dan hati juga merupakan bagian dari merawat titipan Ilahi. (ZIY)

Editor : Fauziyah

SUMENEP — Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, semangat berkesenian mulai terasa di kawasan Pragaan, Kabupaten Sumenep. Anak-anak sekolah dasar menyiapkan cat dan kuas, sementara para pelajar tingkat SMP mulai melatih harmoni suara serta tabuhan rebana mereka. Semua itu menuju satu panggung yang sama: Lomba Lukis dan Lomba Nasyid yang akan digelar pada Minggu, 24 Mei 2026.
Kegiatan tersebut diprakarsai oleh Lesbumi MWCNU Pragaan bekerja sama dengan PP Ikhtiar Insan Kamil yang menaungi MTs Unggulan Sains Al-Qur’an Aeng Panas.
Namun tahun ini, gaung kegiatan terasa lebih besar dibanding sebelumnya. Dukungan dari berbagai elemen mulai berdatangan. Salah satu yang paling menonjol ialah keterlibatan Pergunu Pragaan atau Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Pragaan yang ikut membangun jejaring partisipasi sekolah dan madrasah di wilayah Pragaan serta sekitarnya.
Kehadiran Pergunu membuat informasi lomba bergerak cepat dari ruang guru ke ruang kelas. Banyak guru mulai mendorong murid-muridnya untuk ikut ambil bagian, bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan kreativitas pelajar.
Di tengah dunia pendidikan yang semakin padat dengan target akademik, kegiatan seni seperti ini dianggap penting sebagai ruang ekspresi yang sehat bagi siswa.
Panitia membuka dua kategori lomba. Pertama, Lomba Lukis tingkat SD/MI se-Kabupaten Sumenep dengan tema “Menyambut Iduladha”. Kedua, Lomba Nasyid tingkat MTs/SMP se-Kabupaten Sumenep.
Acara akan dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai. Sementara proses lomba melukis dijadwalkan berlangsung sampai pukul 13.00 WIB.


Peserta disebut datang dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sumenep. Tidak hanya dari kawasan kota, tetapi juga dari daerah-daerah pinggiran yang selama ini cukup aktif dalam kegiatan seni Islami di lingkungan sekolah dan pesantren.
Suasana perlombaan diperkirakan berlangsung meriah. Anak-anak SD akan menuangkan imajinasi mereka tentang Iduladha melalui gambar-gambar penuh warna: masjid desa, hewan kurban, suasana takbiran, hingga aktivitas masyarakat saat pembagian daging kurban.
Di sisi lain, para pelajar MTs dan SMP akan memenuhi panggung nasyid dengan syair-syair Islami yang berpadu dengan irama rebana dan harmoni vokal.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya mendapatkan dukungan dari lembaga pendidikan dan organisasi guru. Dunia media lokal juga ikut mengambil bagian.
Radio Pragaan Station resmi menjadi media partner dalam kegiatan tersebut. Kehadiran radio lokal itu dinilai penting untuk membantu menyebarluaskan informasi acara kepada masyarakat luas, khususnya di wilayah Pragaan dan sekitarnya.
Radio lokal memang memiliki kedekatan tersendiri dengan masyarakat. Ia tidak sekadar menjadi saluran informasi, tetapi juga bagian dari denyut sosial warga. Karena itu, keterlibatan Radio Pragaan Station memberi warna tersendiri bagi pelaksanaan kegiatan ini.
Tak hanya itu, dukungan juga datang dari TVNU Pragaan yang menyatakan kesediaannya untuk menyiarkan langsung jalannya acara.
Rencana siaran langsung tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi banyak sekolah dan wali murid. Sebab tidak semua orang tua dan masyarakat dapat hadir langsung ke lokasi acara. Dengan adanya siaran langsung, masyarakat tetap dapat menyaksikan penampilan para peserta dari berbagai tempat.
Bagi panitia, siaran langsung ini bukan hanya soal publikasi. Lebih dari itu, ada harapan agar karya dan keberanian anak-anak muda Sumenep mendapat ruang apresiasi yang lebih luas.
Kegiatan ini memang perlahan berkembang menjadi lebih dari sekadar lomba tahunan. Ia mulai berubah menjadi ruang pertemuan antara pendidikan, seni, media, dan tradisi keislaman masyarakat Madura.
Di tangan anak-anak muda itu, Iduladha diterjemahkan bukan hanya sebagai perayaan ritual, tetapi juga sebagai sumber inspirasi kreatif.
Ada yang melukis tentang kebersamaan warga desa saat kurban. Ada yang menyanyikan syair tentang pengorbanan dan kasih sayang. Semua bergerak dalam suasana yang hangat dan penuh semangat.
Bagi Lesbumi MWCNU Pragaan, kegiatan seni seperti ini merupakan bagian dari ikhtiar menjaga hubungan antara Islam dan kebudayaan agar tetap hidup di tengah generasi muda.
Sebab seni, dalam banyak hal, sering kali menjadi bahasa paling lembut untuk menyampaikan nilai-nilai sosial dan religius.
Dan di Pragaan nanti, bahasa itu akan hadir dalam bentuk warna-warna lukisan, suara nasyid, tepuk tangan penonton, serta wajah-wajah anak muda yang sedang belajar percaya pada karya mereka sendiri.

Editor : Fauzan

Pragaan – Di tengah derasnya arus perubahan sosial dan perkembangan zaman, kader muda Nahdlatul Ulama terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga tradisi keilmuan dan spiritualitas pesantren. Hal itu tampak dari kelulusan sejumlah santri Pagar Nusa Pondok Pesantren Al Asy’ariyah Misbahul Munir Sentol Daya, Sumenep, sebagai delegasi PAC Pragaan dalam kegiatan Ijazah Kubro yang digelar pada Sabtu (16/05/2026).

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang seremonial kelulusan, melainkan bagian dari proses pembinaan mental, spiritual, serta penguatan loyalitas kader dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Di tengah berbagai tantangan terhadap tradisi keagamaan dan budaya pesantren, para santri hadir sebagai generasi penerus yang berupaya menjaga sanad perjuangan ulama sekaligus merawat ajaran para masyayikh.

Dengan penuh khidmat, para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga akhirnya dinyatakan lulus Ijazah Kubro. Momentum tersebut menjadi penanda bahwa tradisi pesantren tetap hidup dan terus melahirkan kader-kader yang siap menjaga agama, budaya, serta marwah organisasi.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Asy’ariyah/Misbahul Munir, K. Abd. Haq, mengaku bangga atas capaian para santri yang berhasil menyelesaikan proses tersebut.

Menurutnya, keberhasilan itu menunjukkan bahwa semangat belajar, kedisiplinan, dan loyalitas santri terhadap perjuangan ulama masih terus terawat.

“Ini bukan hanya tentang kelulusan, tetapi tentang amanah untuk terus menjaga tradisi, akhlak, dan perjuangan yang diwariskan para masyayikh,” tuturnya.

Delegasi PAC Pragaan berharap para santri yang telah dinyatakan lulus dapat menjadi pribadi yang istiqamah, berakhlak, dan siap mengabdi di tengah masyarakat dengan membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Kelulusan Ijazah Kubro ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pesantren tidak hanya melahirkan generasi yang kuat secara intelektual, tetapi juga tangguh dalam menjaga nilai, tradisi, dan perjuangan ke-NU-an di tengah dinamika zaman. (MQ)