June 2026

Oleh: Ach. Khalilurrahman

Dalam beberapa tahun terakhir, media di lingkungan Nahdlatul Ulama mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hampir setiap tingkatan kepengurusan memiliki akun media sosial sendiri, lengkap dengan tim publikasi yang aktif memproduksi berbagai jenis konten. Kegiatan organisasi dipublikasikan secara rutin, momentum-momentum penting dibuatkan flyer, dan berbagai aktivitas didokumentasikan lalu disebarluaskan melalui beragam platform digital. Di satu sisi, perkembangan ini patut disyukuri karena menunjukkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya media sebagai sarana dakwah dan komunikasi organisasi.

Namun, di tengah derasnya arus publikasi tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan bersama: apakah media NU saat ini sedang membangun pengetahuan, atau sekadar memproduksi euforia sesaat?

Dalam banyak kasus, sebagian besar energi media NU masih terserap untuk memproduksi konten-konten seremonial yang nilai manfaatnya relatif pendek. Tidak sedikit pengelola media yang meyakini bahwa semakin banyak konten dipublikasikan, semakin besar pula eksistensi organisasi di ruang digital. Akibatnya, hampir setiap aktivitas organisasi didorong untuk dipublikasikan seluas mungkin demi meningkatkan visibilitas dan jangkauan media sosial.

Tentu saja, pendekatan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Publikasi kegiatan tetap diperlukan sebagai bentuk akuntabilitas organisasi sekaligus sarana informasi bagi masyarakat. Akan tetapi, media Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya hadir di beranda media sosial. Ia juga harus hidup dalam memori kader melalui dokumentasi sejarah, tulisan bermutu, kajian keilmuan, serta arsip pengetahuan yang dapat diwariskan lintas generasi.

Jika perhatian kita hanya tertuju pada produksi flyer, dokumentasi kegiatan, dan pemberitaan seremonial, maka ada risiko besar yang mengintai: hilangnya jejak sejarah organisasi. Banyak tokoh yang berjasa, banyak peristiwa penting yang pernah terjadi, dan banyak gagasan berharga yang pernah lahir dari rahim NU, tetapi tidak terdokumentasikan dengan baik. Akibatnya, generasi mendatang mungkin mengenal organisasi ini melalui logo dan atributnya, tetapi tidak memahami sejarah, perjuangan, dan nilai-nilai yang membesarkannya.

Padahal sejak awal berdirinya, NU bukan hanya organisasi sosial-keagamaan. NU juga merupakan rumah besar tradisi intelektual Islam Nusantara. Kitab-kitab karya ulama, hasil-hasil Bahtsul Masail, manuskrip pesantren, karya tulis para kiai, hingga biografi para masyayikh merupakan bagian dari khazanah keilmuan yang sangat kaya. Tradisi ini telah menjadi fondasi penting bagi perjalanan NU selama hampir satu abad.

Ironisnya, sebagian warisan intelektual tersebut belum terdokumentasikan dan dipublikasikan secara optimal melalui media digital yang dimiliki NU saat ini. Di tengah kemajuan teknologi informasi, masih banyak sejarah lokal, profil ulama daerah, dinamika pesantren, maupun perjalanan organisasi yang tersimpan di lemari arsip atau bahkan hanya hidup dalam ingatan para sesepuh.

Padahal potensi untuk membangun media pengetahuan sebenarnya sangat besar. NU memiliki ribuan kader akademisi, penulis, peneliti, guru, dosen, dan pegiat literasi yang tersebar di berbagai daerah. Selain itu, terdapat banyak lembaga dan badan otonom yang memiliki kompetensi sesuai bidang masing-masing.

LP Ma’arif, misalnya, dapat mengembangkan konten pendidikan berupa buku Aswaja, media pembelajaran, animasi edukatif, lagu anak, maupun poster ke-NU-an yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan. Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) memiliki kapasitas untuk menerbitkan buku, mendokumentasikan karya-karya ulama, menyusun biografi tokoh lokal, serta mengarsipkan naskah-naskah penting yang selama ini tercecer.

Di sisi lain, Lakpesdam dapat memperkuat tradisi riset dan kajian sosial untuk menjawab persoalan-persoalan warga NU secara ilmiah. Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) berpeluang menjadi garda depan dalam mendokumentasikan sejarah dan perkembangan pesantren. Sementara Lembaga Bahtsul Masail dapat membukukan hasil-hasil kajian fiqih agar lebih mudah diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Badan otonom NU pun memiliki ruang kontribusi yang tidak kalah besar. Ansor dan Banser dapat mengembangkan konten kebangsaan, kepemimpinan, dan pengabdian sosial. Fatayat dan Muslimat dapat memperkaya ruang digital dengan konten keperempuanan, pendidikan keluarga, serta pengasuhan anak. IPNU dan IPPNU dapat menjadi pelopor lahirnya konten kreatif yang dekat dengan generasi muda. Jika seluruh potensi ini disinergikan, media NU tidak hanya menjadi ruang publikasi kegiatan, tetapi juga pusat produksi pengetahuan yang hidup dan berkelanjutan.

Di era media sosial yang bergerak sangat cepat, organisasi membutuhkan lebih dari sekadar konten yang viral. Organisasi membutuhkan memori kolektif. Ia membutuhkan dokumentasi yang mampu menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sebab organisasi yang besar bukan hanya organisasi yang ramai dibicarakan hari ini, melainkan organisasi yang mampu mewariskan gagasan dan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Tulisan ini bukan bermaksud menyalahkan publikasi kegiatan yang selama ini telah berjalan. Flyer, berita, dan dokumentasi tetap memiliki fungsi penting dalam kehidupan organisasi. Namun, sudah saatnya media NU menyeimbangkan antara kebutuhan publikasi jangka pendek dengan pembangunan warisan pengetahuan jangka panjang.

NU telah mewariskan peradaban melalui tulisan para ulama, tradisi pesantren, dan khazanah keilmuan yang terus hidup hingga hari ini. Karena itu, media NU tidak boleh hanya menjadi mesin publikasi, melainkan juga ruang dokumentasi, edukasi, dan produksi pengetahuan. Flyer ucapan mungkin hanya bertahan sehari di layar ponsel, tetapi tulisan yang bermutu dapat hidup puluhan tahun dalam ingatan kader dan menjadi bekal berharga bagi generasi yang akan datang.

Pragaan – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pragaan Daya 1, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, kembali menggelar kegiatan Majelis Jum’at Pon pada Kamis (4/6/2026) di Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang.

Kegiatan rutin tersebut diikuti pengurus dan warga Nahdliyin dengan rangkaian acara berupa pembacaan tahlil, shalawat Barzanji, sambutan organisasi, mauidah hasanah, serta ditutup dengan doa bersama.

Ketua MWCNU Pragaan, K. Hambali Makhtum, dalam sambutannya mengajak warga Nahdlatul Ulama untuk memperkuat semangat berkhidmat kepada organisasi di abad kedua NU.

Menurutnya, memasuki satu abad lebih usia Nahdlatul Ulama, seluruh kader dan warga NU harus memiliki semangat baru dalam mengembangkan organisasi dan melayani umat.

“Kita berada di abad kedua NU, di abad baru, semangat baru. Kalau bisa kita harus kerasukan NU,” ujarnya yang disambut antusias para jamaah.

Sementara itu, Wakil Rais Syuriyah MWCNU Pragaan, KH Jamali Salim, dalam mauidah hasanahnya menekankan pentingnya membangun karakter pribadi yang baik melalui lingkungan yang baik pula.

Menurutnya, salah satu cara paling mudah untuk menjadi pribadi saleh adalah dengan selalu mendekat kepada orang-orang saleh dan meneladani perilaku mereka secara istiqamah.

“Orang baik pasti melakukan kebaikan. Cara yang mudah dan mungkin bisa kita lakukan untuk menjadi orang baik adalah selalu dekat dengan orang-orang baik (saleh) dan meniru secara istiqamah semua kebaikan tersebut,” tuturnya.

Majelis Jum’at Pon merupakan salah satu kegiatan rutin PRNU Pragaan Daya 1 yang bertujuan memperkuat ukhuwah Nahdliyah, menjaga tradisi amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah, serta menjadi sarana penguatan ideologi dan semangat berorganisasi di kalangan warga NU.

Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan hingga ditutup dengan pembacaan doa bersama untuk keselamatan bangsa, kemaslahatan umat, dan keberkahan Nahdlatul Ulama.

Pragaan – Dalam rangka meningkatkan efektivitas pengelolaan serta memperkuat program-program kemaslahatan umat, LAZISNU MWCNU Pragaan menggelar rapat penguatan kelembagaan yang bertempat di Tabun Aeng Panas.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Ketua MWCNU Pragaan, K. Hambali Mahtum, serta Wakil Rais MWCNU Pragaan, K. Zubairi Karim. Turut hadir pula Ketua LAZISNU Pragaan, M. Mahdi, bersama jajaran pengurus LAZISNU lainnya yang ikut berpartisipasi aktif dalam pembahasan dan penguatan program organisasi.

Rapat ini menjadi momentum penting untuk mempererat koordinasi antar pengurus sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mengembangkan peran LAZISNU sebagai lembaga yang bergerak di bidang penghimpunan dan pendayagunaan zakat, infak, sedekah, serta dana sosial keagamaan lainnya.

Dalam forum tersebut dibahas berbagai langkah strategis untuk meningkatkan kinerja organisasi, memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat, serta membangun sistem kerja yang lebih tertata, transparan, dan profesional. Selain itu, penguatan sinergi antara LAZISNU dengan struktur Nahdlatul Ulama di tingkat MWCNU hingga ranting juga menjadi perhatian penting dalam rapat tersebut.

Tidak hanya sebagai ajang koordinasi, kegiatan ini juga menjadi ruang evaluasi terhadap program-program yang telah berjalan selama ini, sekaligus merumuskan langkah ke depan agar keberadaan LAZISNU semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, khususnya dalam bidang sosial, pendidikan, kemanusiaan, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Dengan semangat kebersamaan dan khidmah Nahdlatul Ulama, seluruh peserta rapat berharap agar LAZISNU MWCNU Pragaan dapat terus berkembang menjadi lembaga yang amanah, profesional, dan mampu menjadi jembatan kebaikan bagi masyarakat yang membutuhkan. Penguatan kelembagaan ini diharapkan menjadi langkah nyata untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas serta memperkuat gerakan sosial keumatan di wilayah Pragaan dan sekitarnya.

PRAGAAN – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Pragaan kembali menggelar kegiatan rutin Kompolan Bulen Poernama di kediaman Sahabat Abdullah, Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Selasa (2/6/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri Pembina Ansor-Banser Pragaan, KH. Hayatul Islam, serta jajaran pengurus PAC Ansor dan Banser Pragaan.

Ketua PAC Ansor Pragaan, Sahabat Khalili Hasbullah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan pertemuan rutin perdana setelah jeda panjang akibat libur Hari Raya Idulfitri dan Iduladha.

“Alhamdulillah, malam ini kami kembali dapat melaksanakan kegiatan rutin Kompolan Bulen Poernama di Desa Prenduan. Semoga kegiatan ini terus menjadi sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat semangat khidmat para kader Ansor dan Banser,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Kasatkoryon) Banser Pragaan, Sahabat Zubaidi, berharap kegiatan rutin tersebut dapat terus dilaksanakan secara istiqamah.

“Semoga kegiatan ini senantiasa membawa keberkahan, mempererat persaudaraan, serta menambah kedekatan kita kepada Allah SWT melalui pembacaan Shalawat Burdah dan berbagai amaliah keagamaan lainnya,” tuturnya.

Sementara itu, KH. Hayatul Islam dalam tausiyah singkatnya menekankan pentingnya menjaga ketakwaan dengan menjauhi segala hal yang diharamkan oleh Allah SWT.

“Alhamdulillah, kegiatan ini kembali terlaksana setelah libur panjang. Semoga menjadi wasilah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, memperkuat keimanan, serta membimbing kita agar senantiasa menjauhi segala sesuatu yang telah diharamkan-Nya,” pungkasnya.

Kegiatan Kompolan Bulen Poernama merupakan agenda rutin PAC Ansor-Banser Pragaan yang diisi dengan pembacaan Shalawat Burdah, doa bersama, tausiyah keagamaan, serta konsolidasi organisasi guna memperkuat ukhuwah dan semangat pengabdian kader di tengah masyarakat. (Zy)

iklan