May 30, 2026

Nuonline.pragaan — Pengurus Ranting Fatayat Nahdlatul Ulama Jaddung menggelar pertemuan rutin triwulan yang dirangkai dengan pembacaan dan kajian Kitab Maulid Ad-Diba’i pada Sabtu (30/5/2026) di kediaman Sahabat Rohami, Dusun Bulu, Desa Jaddung.

Kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan dihadiri oleh pengurus serta anggota Fatayat NU Jaddung. Acara diawali dengan pembacaan istighasah yang dipimpin oleh Sahabat Uswatun Hasanah, S.E., dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Nahdlatul Ulama, Syubbanul Wathan, dan Mars Fatayat yang dipandu oleh Sahabat Arifah, S.Pd.

Selanjutnya, peserta mengikuti pembacaan Surah Yasin dan doa bersama yang dipimpin oleh Sahabat Ny. St. Aisyah, S.Pd.I. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kajian Kitab Maulid Ad-Diba’i yang diasuh oleh Kiai Fathor Rohman Hasbullah.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Fathor mengulas isi kitab halaman 97–98 yang menjelaskan keteguhan Rasulullah SAW dalam menghadapi berbagai bentuk penolakan, hinaan, dan cemoohan dari kaum yang tidak beriman. Meski menghadapi tekanan yang berat, Rasulullah SAW tetap mengedepankan kesabaran karena belum ada perintah dari Allah SWT untuk melakukan perlawanan. Dalam kondisi tersebut, Rasulullah SAW mengarahkan para sahabat untuk berhijrah ke Habasyah sebagai upaya menjaga keimanan dan keselamatan mereka.

Melalui kegiatan rutin ini, PRFNU Jaddung berupaya menjaga tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah, mempererat tali silaturahmi antaranggota, serta menanamkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah dalam suasana penuh kekeluargaan. (MQ)

Oleh: KH. Abd. Warits Anwar

Suatu ketika Nabi Ayyub AS mandi telanjang. Mandi sendirian penuh khidmat.Ditengah keasyikan mandi, datanglah seekor belalang istimewa, belalang luar biasa, belalang emas. Beliau begitu tertarik dengan belalang yang tak biasa itu.

Segeralah Beliau mengambil baju untuk menangkapnya. Namun sebelum Beliau beraksi, datanglah suatu “teguran” dari Yang Maha Rahim : “Wahai Ayyub, masih belum cukupkah engkau dari apa yang Aku berikan padamu?”

Ayyub AS menjawab. : “Demi kemulyaan-Mu ya Allah. Sudah cukup. Namun ada satu yg aku tak akan merasa cukup.”

“Apa itu?”

Ayyub menjawab, “Barokah-Mu. Barokah yg ada pada belalang emas-Mu.”

Rupanya, yang nampak bagi Nabi Ayyub AS bukan emasnya, tapi barokah yg ada didalam belalang emas. Aw kama qaala.

Catatan : Begitukah ketika kita berhadapan dg makanan? Uang? Atau yang lain-lain?

Diambil dari kitab At-Tajriidus Shorih, bab Al Ghusli