May 28, 2026

Jemaah haji asal Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura tergabung dalam gelombang awal keberangkatan dari Madura menuju Embarkasi Surabaya (SUB) menuju ke Tanah Suci. di tanah Suci Mekkah dan Madinah, mereka tak luput dari berbagai rintangan dan persyaratan yang tak boleh dilanggar. Dan harus menghadapi berbagai iklim dan cuaca yang bukan lagi seperti di tanah kelahiran mereka.

Dalam percakapan Via Video Call , Berikut penjelasan Wartik memgenai kabar dan kondisi terkini mengenai rombongan jemaah haji asal Sumenep, termasuk dari wilayah Pragaan, selama menjalani fase puncak haji:

1. Posisi Terkini di Fase Armuzna

Secara umum, jemaah dari Pragaan beserta rombongan dari Kabupaten Sumenep lainnya saat ini telah menyelesaikan rangkaian utama wukuf di Arafah. Berdasarkan pimpinan kloter dan bimbingan ibadah setempat, jemaah diarahkan untuk fokus menyelesaikan rangkaian Mina (mabit dan lempar jumrah ula, wustha, dan aqabah) dengan memanfaatkan waktu-waktu yang dinilai lebih aman (tidak terlalu terik).

2. Mayoritas Lansia Mengambil Skema Badala atau Murur

Kecamatan Pragaan dikenal memiliki proporsi jemaah lansia dan risti (risiko tinggi) yang cukup signifikan pada musim haji kali ini.

  • Demi keselamatan jemaah, para ketua regu (Karu) dan ketua rombongan (Karom) asal Sumenep menerapkan koordinasi ketat agar jemaah lansia tidak memaksakan diri berjalan kaki ke Jamarat untuk melempar jumrah secara langsung.
  • Prosesi lempar jumrah bagi jemaah lansia asal Pragaan mayoritas dibadalkan (diwakilkan) kepada jemaah lain yang lebih muda atau petugas kloter yang kondisinya prima.

3. Kekompakan Khas Warga Madura

Salah satu poin positif yang dilaporkan dari kloter-kloter asal Madura (termasuk Sumenep) adalah tingginya rasa solidaritas antardesa dan antarkecamatan. Sistem kekerabatan yang erat membuat para jemaah muda secara sukarela membantu jemaah lansia asal Pragaan saat berada di tenda Mina, baik dalam hal membagikan katering, membantu mobilitas ke toilet maktab, hingga saling mengingatkan untuk menjaga hidrasi (minum air putih dicampur oralit).

4. Tantangan Cuaca Ekstrem

Tim kesehatan kloter yang mendampingi jemaah Madura terus melakukan sweeping berkala di dalam tenda-tenda Mina. Jemaah asal Pragaan diimbau secara personal untuk menahan diri dari aktivitas berbelanja atau sekadar keluar tenda jika tidak ada keperluan ibadah yang mendesak, mengingat suhu ekstrem di sekitar maktab Mina rentan memicu kelelahan akut.

Secara keseluruhan, hingga laporan dari maktab di Mina diterima, rombongan jemaah haji asal Pragaan, Sumenep terpantau dalam kondisi aman dan terorganisir dengan baik di bawah pengawasan ketat para petugas PPIH kloter.

Selain itu, Warga Pragaan laok tersebut menyampaikna bahwa, ada beberapa kabar terbaru dan kebijakan spesifik yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi khusus untuk jemaah asal Indonesia:

1. Penerapan Skema Murur Massal di Muzdalifah

Untuk pertama kalinya, Kemenag menerapkan skema murur secara masif bagi sekitar 55.000 jemaah haji reguler risiko tinggi, lansia, dan disabilitas.

  • Mekanisme: Jemaah yang masuk dalam kategori ini tidak turun dari bus untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah. Bus yang membawa mereka dari Arafah langsung melintas menuju tenda maktab di Mina.
  • Tujuan: Kebijakan ini sukses mengurai kepadatan luar biasa di area Muzdalifah yang tahun-tahun sebelumnya sering memicu kelelahan ekstrem pada lansia.

2. Fasilitas Tenda Mina “Mina Jadid” dan Area Perluasan

Sebagian jemaah haji Indonesia ditempatkan di wilayah perluasan Mina (sering disebut Mina Jadid). Kemenag terus mengedukasi jemaah mengenai aspek syar’i mabit di wilayah ini guna meredam polemik, serta memastikan logistik dan posko kesehatan di area perluasan ini tetap sama lengkapnya dengan Mina utama.

3. Layanan Katering Penuh Selama Fase Puncak

Berbeda dengan beberapa tahun lalu di mana katering sempat dihentikan menjelang puncak haji karena kendala lalu lintas di Mekkah, tahun ini jemaah Indonesia mendapatkan layanan katering penuh secara berkala. Paket makanan yang diberikan disesuaikan dengan lidah Indonesia dan dikemas dalam boks siap saji demi menjaga asupan nutrisi jemaah di tengah cuaca panas ekstrem.

4. Pengetatan Razia Jemaah Non-Visa Haji

Pihak otoritas keamanan Arab Saudi tahun ini sangat memperketat pemeriksaan (check point) di jalur-jalur masuk Mekkah dan Armuzna. PPIH mengonfirmasi ada beberapa kasus WNI non-kuota (menggunakan visa ziarah atau visa ummal/pekerja) yang terjaring razia, didenda, hingga dideportasi karena mencoba masuk ke area ibadah tanpa smart card (kartu Nusuk) resmi. Pemerintah terus mengimbau agar pihak keluarga di tanah air memastikan legalitas visa yang digunakan kerabatnya.

5. Posko Kesehatan Satgas Heartstroke

Mengingat suhu menyentuh 47°C, Tim Kesehatan Haji Indonesia menyiagakan posko khusus di sepanjang jalur jamarat (tempat melontar jumrah). Petugas dibekali dengan alat penyemprot air (water sprayer) portable, oralit, dan cairan hidrasi untuk langsung dibagikan kepada jemaah Indonesia yang terlihat mulai kelelahan saat berjalan kaki.

Malam di Muzdalifah terasa berbeda. Langit padang pasir tampak gelap, tetapi bumi justru dipenuhi cahaya. Jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia duduk, berbaring, berzikir, dan berdoa di hamparan tanah terbuka setelah menyelesaikan wukuf di Arafah.

Di antara jutaan jamaah itu, terdapat seorang kader Nahdlatul Ulama asal Pragaan, Sumenep, KH. Subaidi Ismael, yang tengah menjalankan rangkaian ibadah haji tahun ini.

Pada malam 10 Dzulhijjah sekitar pukul 23.30 Waktu Arab Saudi, Subaidi mengirimkan video melalui aplikasi WhatsApp kepada keluarga, sahabat, dan warga kampung halamannya. Dari tengah lautan manusia di Muzdalifah, ia merekam suasana mabit dengan suara lirih bercampur haru.

“Subhanallah walhamdulillah, walailahaillallah wallahu akbar. Jutaan umat manusia dari berbagai penjuru dunia sudah berkumpul melakukan mabit di Muzdalifah yang sebentar lagi akan menuju Mina,” tuturnya dalam video tersebut.

Suara talbiyah, zikir, dan doa terdengar bersahutan dari berbagai arah. Tidak ada sekat bahasa, negara, maupun warna kulit. Semua larut dalam satu panggilan yang sama sebagai tamu Allah SWT.

Ketua Ranting NU Jaddung tersebut menggambarkan bagaimana para jamaah memadati bumi Muzdalifah setelah menuntaskan wukuf di Arafah. Di tengah suasana spiritual yang mendalam itu, ia tidak lupa memanjatkan doa untuk keselamatan seluruh jamaah haji.

“Semoga para jamaah diberikan keselamatan dan mendapatkan pahala serta keridaan dari Allah SWT. Mereka semuanya diberikan gelar haji makbul dan mabrur, diampuni segala dosanya dan dikabulkan semua maksud-maksud hatinya,” ucapnya.


Pagi harinya, suasana perjalanan haji kembali berlanjut. Setelah bergerak dari Muzdalifah menuju Mina dan melaksanakan lempar jumrah Aqabah, Subaidi menjalani tahallul awal dengan menggundul rambutnya.

Usai tahallul, ia kembali mengirimkan video penuh doa dan harapan. Kali ini bukan lagi sekadar menceritakan perjalanan ibadahnya, melainkan menyisipkan kerinduan agar keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat kampungnya juga mendapat kesempatan menjadi tamu Allah.

Dengan nada pelan dan penuh penghayatan, ia mengisahkan tahapan demi tahapan ibadah haji yang telah dilaluinya: mulai ihram dari miqat, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melempar jumrah di Mina.

“Harapan kedua, semoga rambut anak cucu abdhi dalem bisa qabul hajat juga untuk bertahallul setelah Jumratul Aqabah,” tuturnya.

Bagi Subaidi, tahallul bukan hanya prosesi menggundul rambut semata. Ia meyakini dawuh para guru bahwa setiap helai rambut yang dipotong menjadi sebab ampunan dosa dan doa malaikat bagi orang yang berhaji.

Karena itu, di tengah ribuan jamaah yang bergerak menuju rangkaian ibadah berikutnya, pikirannya justru melayang jauh ke kampung halaman. Kepada saudara, tetangga, para keponakan, hingga sahabat-sahabatnya, ia memanjatkan doa yang sama: semoga suatu hari mereka juga dipanggil Allah ke Tanah Suci.

“Saudara-saudara saya, para tetangga sekalian, ponakan-ponakan saya, semoga disempatkan oleh Allah untuk bercukur atau bertahallul setelah melaksanakan Jumratul Aqabah,” katanya.

Doa itu mengalir sederhana, tetapi terasa hangat dan dekat. Tidak hanya memohon keselamatan bagi dirinya sendiri, melainkan juga mengajak orang-orang yang ia cintai untuk ikut merasakan perjalanan spiritual yang sama.

Di penghujung videonya, Subaidi menengadahkan harapan kepada Allah SWT agar seluruh keluarga, kerabat, dan teman-temannya diberi kesempatan menunaikan ibadah haji.

“Ya Allah Ya Karim, Ya Rahman, Ya Rahim… tolong kabulkan hajat seluruh keluarga, kerabat, dan teman untuk menunaikan ibadah haji,” ucapnya.

Di tanah suci, ribuan kilometer dari Desa Jaddung, seorang kader NU Pragaan itu tidak hanya menjalani perjalanan ibadah pribadi. Ia membawa pulang doa-doa untuk kampung halamannya—doa yang lahir dari padang Muzdalifah dan gema talbiyah jutaan manusia. (Ilunk)

Editor : Fauzan