Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Mengapa Kudeta di Turki Gagal?

Selasa, 19 Juli 2016 04:14 WIB
180x Internasional

Jakarta, NU Online
Aksi kudeta militer yang dilancarkan sejak Jumat (15/7) malam di Turki gagal berhasil digagalkan pemerintah setempat. Pihak keamanan Turki mengaku telah menahan ribuan anggota militer yang turut berpartisipasi dalam aksi perebutan kekuasaan tersebut.

Menurut pengamat Timur Tengah, Zuhairi Misrawi, di antara penyebab kudeta tersebut sukses digagalkan adalah adanya dukungan dari partai oposisi. Partai-partai yang berseberangan dengan AKP/ Partai Keadilan dan Pembangunan pimpinan Presiden Turki Zagreb Recep Tayyip Erdogan berbesar hati menolak cara-cara paksa dan kekerasan dalam pengambilalihan kekuasaan.

“Ini diluar dugaan,” katanya dalam diskusi Taswirul Afkar, dengan tema Kudeta Turki: Transisi atau Konspirasi? yang berlangsung di Perpustakaan PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Gedung PBNU Lantai 2, Jakarta, Senin (18/7) petang. Menurut Zuhair, pernyataan partai oposisi yang hanya ingin mengalahkan Erdogan lewat jalur demokrasi ini mengagumkan karena secara hitung-hitungan politik tidak mungkin menang.

Mengapa partai oposisi bisa bersikap demikian? Dalam analisis alumnus Universitas Al-Azhar Kairo ini, Erdogan termasuk pemimpin yang konsisten dengan konstitusi Turki, yang berarti setia terhadap sekularisme. Erdogan tak mau mencampurkan agama secara kelembagaan ke dalam negara. Hal inilah yang membuat banyak pihak di Turki, temasuk lawan-lawan politiknya merasa nyaman dengan Erdogan.

Tak hanya itu, tambahnya, Erdogan juga tak sungkan-sungkan menjalin hubungan dengan Israel sehingga secara politik tak membuat ketagangan terhadap Israel, termasuk sekutunya Amerika.

Alasan kedua gagalnya kudeta militer itu, menurut Zuhair, adalah pernyataan Presiden Amerika Barack Obama yang menolak aksi kudeta militer dan mendukung proses demokratis sebagai jalan pergantian pemimpin.

Kata Zuhair, sikap Obama ini memiliki pengaruh basar dalam membangkitkan kepercayaan diri Perdana Menteri dan Presiden Turki untuk melawan militer yang hendak menggulingkan rezim Erdogan yang sebetulnya sudah lama rapuh. Kekuasaan belakangan digerogoti oleh konflik internal dan berbagai aksi teror yang terjadi di Turki.

Turut hadir dalam kesempatan itu, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Wakil Sekjen PBNU H Masduki Baidlawi, Pengamat politik militer Turki Alfan Alfian, dan peserta diskusi yang terdiri dari sejumlah pengurus PBNU, aktivis, dan mahasiswa.

Gulen di balik kudeta?

Zuhair juga menilai sikap Erdogan yang menuding Fethullah Gulen sebagai dalang di balik aksi kudeta sebagai tindakan yang terlalu panic dan salah sasaran. Sebab, Fethullah Gulen, katanya, hanyalah sosok pendidik, ulama, tokoh spiritual, dan penulis buku-buku moderat.

“(Gulen) sosok yag tidak pernah punya dosa dalam politik. Orang terlalu jauh berpikir dia terlibat dalam aksi kudeta,” imbuhnya.

Ia berpendapat bahwa selama ini kekuasaan Erdogan termasuk kuat karena relatif tidak ada sosok penantang yang sebanding di sekelilingnya. Tuduhan terhadap Gulen bisa menimbulkan penantang baru yang kuat karena Gulen yang merupakan murid Said Nursi itu termasuk ulama kharismatik yang memiliki banyak pengikut yang loyal.

Penulis buku “Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari: Moderasi, Keumatan dan Kebangsaan” ini mengakui bahwa Erdogan adalah presiden yang dipilih rakyat Turki secara demokratis. Tapi tindakan-tindakannya tidak sepenuhnya demokratis. Pers di Turki, kata Zuhair, tak cukup bebas, bahkan sejumlah media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Youtube tak bisa diakses di sana.

PBNU menyatakan keprihatinannya atas terjadinya krisis politik di Turki ini mengingat negara tersebut merupakan salah satu pusat peradaban Islam di dunia. 

“Kami prihatin dan sedih dengan adanya ketidakpastian tersebut tanpa berpretensi siapa yang berkuasa. Jangan sampai Turki mengalami nasib seperti Mesir,” kata Helmy. (Mahbib)

Sumber

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan