Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Tiga Pilar - NU

Sabtu, 26 Desember 2015 10:00 WIB
1150x Khazanah

Ada tiga pilar utama dalam embrio lahirnya NU. Tiga pilar dimaksud adalah Kebangkitan Nasional (Nahdlatul Wathan), Artikulasi Pemikiran (Taswirul Afkar), dan Kebangkitan Saudagar (Nahdlatut Tujjar).

Tiga pilar ini merupakan satu kesatuan dan kekuatan yang menjadi pondasi kokoh berdirinya NU. Tak heran, pada periode awa berdiri NU, ormas ini telah mengalami kemajuan luar biasa dan berkembang pesat melampaui zamannya.

Sayangnya, dari tiga pilar tersebut, yang paling menonjol baru gerakan politik kebangsaan. Pergulatan pemikiran memang cukup berkembang, bahkan jauh lebih pesat dibandingkan dinamika yang terjadi pada ormas Islam lainnya. Namun, hal itu masih terbatas pada kajian agama, sedangkan kajian umum belum banyak digeluti anak-anak muda NU.

Lemahnya artikulasi pemikiran yang bersbasis pada pengembangan usaha serta penguatan kaderisasi dari kalangan profesional, membuat amal usaha sosial NU lambat berkembang. NU hanya mengandalkan pada kekuatan sosial pesantren yang notabene milik individu-individu tokoh NU dan bukan milik NU sebagai institusi.

Untuk memperkuat amal sosial jam’iyah yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, sudah saatnya NU mendirikan universitas, membuat rumah sakit, mendirikan panti asuhan, lembaga sosial, koperasi, perbankkan syariah, jaringan media, bahkan membentuk jaringan bisnis untuk memasarkan produk-produk warga NU.


Agenda-agenda tersebut merupakan tuntutan zaman. NU sebagai lumbung utama civil society dan agen perubahan, sudah semestinya menaruh perhatian besar terhadap peningktan kapasitas warganya. NU tidak bisa lagi bersikap acuh tak acuh terhadap kebutuhan warga. Sebab, jika NU tidak peduli terhadap warganya, berarti NU telah meninggalkan basisnya sendiri.

Dulu, ketika perubahan belum bersifat "massif" seperti sekarang, di mana masyarakat umumnya hanya bertani atau berdagang, maka NU yang kekuatannya berspusat di pesantren dapat memberikan kontribusi besar bagi warganya. Masyarakat pun dapat hidup dan merasakan manfaat keberadaan NU.

Namun sekarang, pendekatan lama sudah perlu dimodifikasi. Paradigmanya harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Sehingga ketika NU disebut sebagai lumbung civil society, harus ada sesuatu yang diberikan oleh NU kepada masyarakat. NU harus memberikan kontribusi riil untuk warganya sebagai keniscayaan untuk melakukan pemberdayaan.

Ketika globalisasi ekonomi berlangsung begitu cepat, yang ditandai dengan menguatnya ekspansi ekonomi kota, NU sudah tidak bisa lagi bersikap pasif. Corak tradisional yang menjadikan tradisi sebagai basis perjuangan, bukan berarti NU harus berkutat dengan masa lalu. NU harus melakukan sesuatu yang dibutuhkan warganya berupa pengembangan skill, ilmu, wawasan, manajemen, pembukaan lahan usaha, keterampilan teknologi, permodalan, hingga pembukaan akses pasar.

Bisakah? Mari kita coba dari sekarang. Karena Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah dimulai tahun 2016 ini. (Sipe)

  • Sabtu, 26 Desember 2015 10:00 WIB Tiga Pilar - NU

    Ada tiga pilar utama dalam embrio lahirnya NU. Tiga pilar dimaksud adalah Kebangkitan Nasional (Nahdlatul Wathan), Artikulasi Pemikiran (Taswirul Afkar), dan Kebangkitan Saudagar (Nahdlatut Tujjar). Tiga pilar ini merupakan satu kesatuan dan kekuatan yang menjadi pondasi kokoh berdirinya NU. Tak heran, pada

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan