Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Segelas - teh

Ahad, 20 September 2015 02:51 WIB
708x Kolom

Oleh A. Mubarok Yasin*)

 

Akhir tahun 2014 lalu, saya pernah menginap di rumah buyut yang berjarak sekira 40-an km dari rumah saya. Rumah tersebut tidak berpenghuni dan konon pernah mengalami kebakaran hebat. Atap dan dindingnya hangus. Tapi, sebuah dipan dan kerangka bangunan yang terbuat dari kayu, ternyata tetap utuh. Karena itulah, rumah buyut dianggap keramat oleh masyarakat sekitar.

Di sebelah barat rumah tersebut, tinggal seorang nenek berusia sekira 70-an tahun. Namanya Nyai Sholehah. Biasa dipanggil Nyai Liha. Nyai Liha layaknya juru kunci rumah buyut. Setiap ada peziarah, Nyai Liha selalu menyiapkan hidangan. Beliau tinggal sebatang kara karena tidak punya keturunan. Rumah beliau hanya berjarak 5 meter dari rumah buyut. Suami Nyai Liha wafat lebih dari 20-an tahun yang lalu.

Selepas shalat Jum’at, saya menyempatkan diri menemuinya. Saat itu, Nyai Liha terlihat sibuk mencuci gelas. “Tidak usah. Saya sudah terbiasa mencuci sendiri,” tolak beliau saat saya bermaksud membantunya.


Dengan terbungkuk-bungkuk, Nyai Liha menjemur sendiri gelas-gelas kecil itu di pelataran rumah.

Setelah ngobrol beberapa saat, saya pamit untuk menemui seorang tetangga. Saya tanyakan kepada si tetangga, kenapa Nyai Liha mencuci banyak gelas. Padahal beliau tidak mengadakan acara. Si tetangga menjawab: ”Nyai Liha biasa menyiapkan teh untuk jamaah shalat Jum’at”. Rumah Nyai Liha hanya berjarak 50-an meter dari masjid. “Kabiasaan itu sudah dijalani selama puluhan tahun,” tambah si tetangga.

Saya terkejut sekaligus kagum. Bukan saja karena keistiqamahannya bersedekah teh, tapi juga melihat kondisi ekonominya yang pas-pasan. Nyai Liha tidak punya penghasilan tetap. Sumber penghidupan satu-satunya hanyalah sepetak tanah ukuran 4x6 meter, yang ditananami bayam dan terong pada musim kemarau, dan ditanami jagung pada musim penghujan. Hasil panen jagung dimakan sendiri, dengan campuran beras pemberian tetangga. Sebagian hasil panen disimpan sebagai bekal menghadapi musim kemarau.

Rumah Nyai Liha juga amat sederhana. Hanya beratap asbes dan berpintu triplek. Pintu dapurnya hanya berupa sarung usang yang digantung di kayu kusen. Pintu kamar mandinya juga terbuat dari sarung dan kusennya hanya setinggi bahu orang dewasa. Ketika masuk kamar mandi tersebut, saya harus membungkuk agar kepala tidak membentur kusen.


Peralatan memasaknya terbuat dari tanah liat, hanya sebagian saja yang terbuat dari aluminium. Jangankan rice cooker atau kompor gas, tempat airnya saja masih terbuat dari gentong kuno yang terbuat dari tanah liat. Dalam kondisi seperti itu, ternyata Nyai Liha selalu memasak teh guna disedekahkan kepada jamaah shalat Jum’at. Terkadang beliau juga menggoreng jagung untuk disuguhkan kepada para tamu.

***

Pertemuan dengan Nyai Liha begitu membekas di hati saya. Kehidupan beliau mengingatkan pada sebuah riwayat tentang seorang Muhajirin yang mengeluhkan nasibnya kepada Nabi Saw, karena tidak memiliki makanan.[1] Nabi bertanya: ”Adakah  diantara kalian yang bersedia menjamu orang ini?” Tsâbit bin Qays, seorang Shahabat Anshar menjawab, ”Saya bersedia, ya Rasul!”

Tsâbit lalu pulang menemui istrinya. Tapi makanan hanya tersisa satu porsi, itupun disiapkan untuk anak mereka yang masih kecil. Namun Tsabit tak kehilangan akal. ”Begini saja, kalau si kecil bangun, gendonglah dia hingga tertidur dan lupa makan.” Istrinya setuju.[2]

Tsabit mengorbankan diri dan keluarganya, hanya untuk membantu memberikan makan kepada tetangganya yang kelaparan. Inilah akhlaq shahabat Nabi yang jarang kita temui dalam kehidupan yang serba materialis sekarang.

Dalam peristiwa lain, shahabat Ibnu Umar menyembelih seekor kambing dan menghadiahkan kepala kambing tersebut kepada sahabatnya dari golongan Anshar. Sahabat Anshar itu lalu memberikan kepada orang ketiga (seorang Muhajirin), yang dianggap lebih membutuhkan. Tapi orang ketiga tadi melakukan hal yang sama; memberikan kepada orang keempat, kelima, hingga orang ketujuh.


Setelah itu, kepala kambing kembali lagi kepada pemberi pertama, Ibnu Umar.[3]

Ini hanya sekelumit contoh kedermawanan para shahabat, yang dipuji oleh Allah Swt dalam QS. al-Hasyr ayat 9: ”Mereka (kaum Anshar) mendahulukan (kepentingan) orang lain meskipun mereka sendiri punya kebutuhan.” Dari ayat ini, ulama fiqh lalu merumuskan kaidah: Al-Itsaar fil Qurab Makruuh, wa fil Mu’aamalah Mahbuub (mementingkan orang lain dalam ibadah hukumnya makruh, tapi dalam urusan sosial hukumnya sunnah).

Teladah para sahabat, tentu saja, adalah Rasulullah SAW. Nabi tidak canggung makan bersama fakir-miskin dan hamba sahaya. Nabi tidak merasa sungkan menjahitkan pakaian seorang janda tua, memperbaiki sandal anak yatim, atau bersenda gurau dengan kaum fakir. “Carilah aku di tengah-tengah kaum dhu’afa,” sabda Nabi ketika seorang sahabat bertanya tentang keberadaaannya.

Ketika kembali dari Perang Hunain, Rasulullah SAW pernah diberi uang ghanimah (rampasan perang). Jumlah uang tersebut adalah yang terbanyak yang pernah diterimanya. Kemudian beliau shalat, tanpa menoleh sedikitpun kepada uang tersebut. Dan seusai shalat, Rasulullah membagi-bagikan uang itu kepada orang-orang miskin yang ada di masjid. Rasulullah SAW baru berdiri untuk pulang, setelah uang tersebut habis.

Sikap seperti inilah yang membuat Rasulullah SAW digelari abul masakin (bapak orang-orang miskin) dan abul yatama (bapak anak-anak yatim).

Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah SAW sering mengingatkan, tujuan ibadah adalah membentuk pribadi yang baik dan bermanfaat kepada sesama.


Bahkan salah satu tanda bahwa shalat kita diterima ialah jika kita semakin peduli kepada orang lain (QS.Al-Ankabut: 45). Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Swt berfirman: “Aku hanya menerima shalat orang yang merendahkan diri atas kebesaran-Ku, tidak sombong kepada sesama makhluk, tidak mengulangi maksiat, mengisi siang dengan zikir, menyayangi orang miskin, musafir, para janda, dan orang yang tertimpa musibah.” (Sipe)

 

*) Khuwaidim NUsantara PEDULI
*
*) Pernah dimuat di Buletin LSPT Tebuireng Jombang.

[1] Abu Abdillah Muhammad al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Dar al-Sya‘b, Kairo, cet II, 1372 hal. 24-25.
[2] Jalal al-Din Abd al-Rahman al-Suyuthi, Lubab al-Nuqûl, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyah, Beirut, tt, h. 192.
[3] Ibid.

  • Jumat, 25 Desember 2015 01:02 WIB Nikmatnya - Penderma

    Oleh Hefni Yas Rohiem Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang ia kehendak. Dan Allah Maha

  • Ahad, 20 September 2015 02:51 WIB Segelas - teh

    Oleh A. Mubarok Yasin*)   Akhir tahun 2014 lalu, saya pernah menginap di rumah buyut yang berjarak sekira 40-an km dari rumah saya. Rumah tersebut tidak berpenghuni dan konon pernah mengalami kebakaran hebat. Atap dan dindingnya hangus. Tapi, sebuah dipan dan kerangka bangunan yang terbuat dari

  • Ahad, 13 September 2015 04:41 WIB Mereka Menunggu - Uluran Tangan Kita!

    Namanya Malihah (17 tahun). Anak bungsu dari 3 bersaudara. Warga Sumber Gentong, Larangan Perreng, Pragaan, Sumenep ini menderita penyakit tunanetra (buta) sejak kecil. Dia hidup sebatang kara. Bapaknya meninggal dunia saat dirinya masih berusia 10-an tahun. Ibunya menyusul wafat saat usianya sekitar 15-an

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan