Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Madura di Mata De Jonge

Kamis, 2 Januari 2014 11:06 WIB
637x Buletin-khidmah Resensi

Judul Buku      : Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi
Penulis              : Huub De Jonge
Penerbit           : LkiS
Cetakan            : 2012
Tebal                 : xvi + 313 halaman
ISBN                  : 979-25-5343-6

 

Pemahaman orang terhadap Madura terasa tidak utuh, karena tidak banyak kelompok etnis di Indonesia yang menyandang streotip negatif sebanyak yang melekat pada orang Madura. Meski merupakan etnis terbesar ketiga di Indonesia, orang Madura tidak diuntungkan secara sosial. Pandangan miring yang terlanjur melekat tidak mudah dihilangkan. Padahal, kegigihan, keceriaan, kesetiaan, kejujuran, dan keperkasaan merupakan kualitas kepribadian orang Madura.

Oleh karena alasan itulah, seorang profesor dan antropolog Radboud Universiteit Nijmegen Belanda, Huub De Jonge, memiliki ketertarikan kuat terhadap kebudayaan orang-orang Madura yang di setiap lintasan sejarah hampir selalu berlumuran stigma, streotip, citra negatif, dan parasangka-prasangka yang memprihatinkan. Kekhawatiran orang bisa keluar dari Madura hidup-hidup malah menjadi penopang ketertarikannya pada Madura. Dalam hal citra negatif ini,  orang Madura digambarkan sebagai orang yang sembrono, dekil, cepat tersinggung, kurang sopan, pemarah, pendendam, suka berkelahi, dan bengis. Sifat bengis inilah yang mendapat porsi dominan dalam pencitraan orang Madura. Banyak dicontohkan, jika orang Madura dipermalukan, ia akan menghunus belati untuk membalas dendam, bahkan sekadar untuk menjawab “penghinaan kecil”. Dibandingkan dengan citra etnis terdekat, Jawa dan Sunda, Madura merupakan etnis “terburuk”, sehingga menimbulkan ketakutan etnis lain pada orang Madura (hal. 63-77).

Kecintaan orang Madura pada sapi juga mengundang stigma buruk di mata masyarakat luar Madura. Kecintaan ini dianggap turut membentuk sifat bengis orang Madura yang hewani. Indikasi lainnya adalah kegemaran orang Madura terhadap adu sapi jantan yang merupakan pameran keperkasaan dan kemurkaan binatang, dikelilingi penonton berwajah kejam dan keras. Aduan sapi tidak hanya dianggap sebagai pertarungan antar binatang, tetapi juga kontes antarorang, antarlingkungan, antarwilayah yang bersaing dan bermusuhan. Kehormatan dan status sesorang atau kelompok dipertaruhkan dalam perlombaan ini, dengan segala konsekuensi yang mengikutinya (hal. 88-100).

Walupun banyak prasangka memprihatinkan yang diulas, De Jonge menunjukkan pandangan netral mengenai peristiwa pengusiran dan pembantaian etnis Madura di Kalimantan Barat beberapa tahun lalu. Menurut De Jonge, pada hakikatnya suku Dayak merasa iri dan terdesak melihat kesuksesan yang umumnya diraih orang Madura—padahal kesuksesan itu diraih berkat kegigihan, keuletan, dan kejujuran mereka. Rasa itulah—ditambah citra buruk yang ditangkap suku Dayak tersebut—yang memancing tindakan menindas dan mendiskriminasi orang Madura. Dalam bentrokan komunal tersebut, orang Madura bukanlah pihak penyerang, melainkan pihak yang bertahan. Mereka tidak pernah menyerang/bersikap kasar apabila tidak merasa terdesak. “..... Tetapi penting diakui bahwa, meskipun orang Madura sering menjadi pihak yang lebih dulu angkat senjata, mereka tidak pernah bermaksud memicu atau melakukan kekerasan komunal. Sejauh yang diketahui, mereka tidak pernah meninggalkan kawasan mereka sendiri untuk menyerang pihak luar, kecuali memasang berikade di jalan-jalan besar untuk mencegat orang-orang yang berpotensi menjadi lawan (hal. 210).”

Gaya tutur buku Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi ini sangat menarik. Dengan gaya tutur tersebut De Jonge, yang sering melakukan penelitian di Madura sejak tahun1976, mampu menggugah pembaca berpikir dan berimajinasi untuk mengikuti alur dan kronologi cerita. Setiap topik dibahas secara jelas dan didukung data yang lengkap. Melalui buku ini juga, Huub De Jonge membuka pikiran masyarakat Indonesia, agar melihat budaya Madura dalam perspektif yang lebih luas, karena ia melihat budaya Madura itu luhur sebagaimana budaya Jawa dan etnis lain di Indonesia. Buku ini menjadi kontribusi ilmiah yang bisa dijadikan referensi oleh para peneliti yang ingin mengkaji Madura.

Buku ini berisi 10 esai, yang bila dicermati  dapat dikelompokkan ke dalam tiga tema, yaitu Madura pada masa kolonial (esai 1, 2, dan 7), budaya dan karakter orang Madura (esai 3-6, dan esai 8-9), dan kebiasaan ziarah ke makam keramat (esai 10). Namun, urutan pengelompokan esai pada buku ini tampak kurang sistematis sehingga membuat konsentrasi pembaca terpecah. Esai pertama dan kedua memang sistematis. Namun,  esai ke-7: “Negara dan Kesejahteraan pada Kolonial akhir” terasa mengganggu, karena sebenarnya esai itu berkaitan dengan esai pertama dan kedua. Esai kesepuluh: “Ziarah dan Islam Lokal di Jawa” pun tidak berkaitan langsung dengan Madura. Jadi terkesan hanya sebagai pelengkap. Namnun demikian, secara keseluruhan karya ini sangat bermanfaat sebagai referensi bagi siapa saja yang ingin mendalami karakter dan budaya Madura (Zuq)

  • Ahad, 8 Februari 2015 09:06 WIB Mencium Tangan Guru Dianjurkan

    DISKRIPSI MASALAH Salah satu tradisi warga NU ketika bertemu warga NU lainnya mereka berjabat tangan (asalaman). Bahkan tidak hanya sekedar itu, akan tetapi ada pula yang sampai mencium tangan dengan alasan takdzim, apabila yang mereka jumpai adalah orang alim atau gurunya.   PERTANYAAN Bagaimana

  • Ahad, 8 Februari 2015 08:45 WIB Sosialisasi Korporatisasi Garam Rakyat

    Sosialisasi korporatisasi garam rakyat makin gencar dilakukan PBNU. Seperti yang dilakukan hari Sabtu (7-2-2015) di kantor MWC NU Pragaan, Tim sosialisasi bersama Ketua PCNU Sumenep jumpai petani garam rakyat yang ada di MWC NU Pragaan. Dalam arahannya Ketua Tim Rokib Ismail mengatakan bahwa pemerintah akan

  • Ahad, 1 Februari 2015 22:49 WIB NU Pragaan Mulai Gencarkan Info KARTANU

    Jaddung menjadi ranting NU pertama yang didatangi Tim Kartanu MWC NU Pragaan. Setelah pagi harinya membentuk TIM, sore harinya Ahad (1-2-2015) di kediaman KH. Asnawi Sulaiman PP Al-Ihsan Jaddung TIM Kartanu sosialisasikan Kartanu kepada pengurus dan warga yang ikut perkumpulan ranting. Rais Syuriyah KH. Moh.

  • Sabtu, 31 Januari 2015 22:47 WIB PWNU Ajak PCNU Genjot Kartanu Jilid II

    Meskipun sepanjang pagi diguyur hujan, tak menyurutkan PWNU merapat dengan PCNU dan MWC NU se Kabupaten Sumenep, sabtu (31-01-2015). PWNU sebutkan perolehan Kartanu Sumenep baru 17.000. Jumlah ini masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan PCNU lain. Padahal Sumenep potensi kewargaannya kuat. KH.

  • Rabu, 28 Januari 2015 04:06 WIB LPNU Study Pengelolaan Penggemukan Sapi

    Takut keliru dalam memulai usaha penggemukan ternak, pengurus LPNU adakan study awal pendirian kandang komunal, dan pemeliharaan sapi, pada hari Rabu, 28 Januari 2015. Lokasi study  yang dipilih adalah Kelompok Tani di Pamekasan Madura. Kelompok tani ini telah punya banyak pengalaman mengikuti pendidikan

  • Jumat, 23 Januari 2015 04:10 WIB LPNU Pertajam Program Penggemukan Sapi

    Sehari setelah dilantik, Lembaga Perekonomian NU Pragaan langsung tancap gas gelar rapat lanjutan di Kantor MWC NU Pragaan, Jum’at, 23 Januari 2015 M. Rapat yang dimulai pada jam 15.00 Wib ini mempertajam program unggulan LPNU yaitu penggemukan ternak sapi dengan kandang komunal. Penggemukan sapi dengan

  • Kamis, 22 Januari 2015 15:00 WIB NU Aeng Panas Bangkit Adakan Haul Akbar

    Seolah ingin menepis anggapan ranting NU yang mati, pengurus baru Ranting NU Aeng Panas bangkit mengadakan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian kitab dan konsolidasi, bergiliran dari rumah pengurus ke rumah pengurus lainnya. Bulan maulid tahun inipun dengan bangga mengadakan Haul Akbar dan Peringatan Maulid

  • Kamis, 2 Januari 2014 11:06 WIB Madura di Mata De Jonge

    Judul Buku : Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi Penulis : Huub De Jonge Penerbit : LkiS Cetakan : 2012 Tebal : xvi + 313 halaman ISBN : 979-25-5343-6   Pemahaman orang terhadap Madura terasa tidak utuh, karena tidak banyak kelompok etnis di Indonesia yang menyandang

  • Rabu, 1 Januari 2014 02:01 WIB Obat Segala Maksiat

    Arieza Qonita* Judul buku : Tobat Itu Nikmat Penulis : Asyari Khatib Penerbit : Zaman Cetakan I : Januari, 2013 Tebal : 180 halaman   Sejak awal penciptaan, manusia telah memendam potensi melakukan kesalahan dan kemaksiatan. Belum seberapa lama menghirup kemanjaan surga, Adam, bapak

  • Senin, 23 Desember 2013 20:18 WIB Menghadirkan Tuhan dalam Kehidupan

    Oleh: Asyari Khatib* Judul Buku : Lantai-Lantai Kota Penulis : Muhammad Zuhri Penerbit : Zaman, Jakarta Cetakan I : 2012 Tebal : 233 halaman Apa yang terbetik di benak kita saat mendengar kata sufi Mungkin segera terlintas sosok manusia berpenampilan tak hirau, hidup di bukit atau di hutan,

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan