Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Samudera Tak Bertepi

Selasa, 24 Desember 2013 09:25 WIB
610x Buletin-khidmah Figur

Profil KH. Ahmad Fauzi Sirran (Bagian II)


SAMUDERA TAK BERTEPI


Sosok Teladan di Segala Sisi


 


Mulai edisi ini,  biografi al-maghfurlah K.H. Ahmad Fauzi Sirran lebih difokuskan pada ahwal dan keteladan beliau. Dengan harapan, sajian ini dapat menjadi sumber inspirasi untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga!

 

Dermawan

K.H. Ahmad Fauzi Sirran—selanjutnya kami sebut: kiai—adalah sosok dermawan. Kedermawanannya sulit ditandingi. Kedermawanan ini tak ditampakkan sehingga tak banyak diketahui orang. Kalau memberi sumbangan, beliau tidak pernah menggunakan nama asli. Bermacam-macam nama yang digunakan;  Abdullah, Mukmin, Muslim, Ahmad, dan yang lain.

Pernah suatu pagi, ketika sedang opname untuk menjalani operasi katarak di sebuah rumah sakit di Pamekasan, kiai mengeluarkan uang satu jutaan, lalu diberikan kepada K.H. Asnawi, menantu yang menunggui. “Ini, berikan kepada karyawan rumah sakit,” katanya.

Di waktu yang lain, dalam perjalanan ke rumah sakit Sumenep, dengan enteng beliau mencabut uang lembaran ratusan ribu untuk diberikan kepada petugas amal pembangunan masjid.

Ketika membeli, kiai tak pernah menawar. Bahkan saat dimintai, beliau langsung memberi sesuai permintaan. Pernah suatu kali sopir yang membawa beliau salah jalan di Surabaya. Oleh polisi dimintai uang sekian. Saat si sopir menawar. “Tak usah ditawar,” kata beliau dan langsung membayar sesuai permintaan polisi.

Di kamarnya, kiai menyiapkan beberapa kotak uang untuk berbagai peruntukan. Ada untuk anak yatim, untuk janda, dan untuk amal-amal lainnya. Kepada sebuah yayasan yang bergerak di bidang santunan kaum fakir miskin dan anak yatim, beliau menyumbang jutaan rupiah perbulan. Kemudian menyumbang puluhan juta untuk beberapa masjid. Sumbangan tersebut biasanya diantarkan lewat orang yang berbeda-beda dan beliau menggunakan nama samaran.

Itu derma yang “tertangkap kamera”,  belum yang undercover, yang hanya Allah dan beliau yang tahu.

Di balik kedermawanan ini, kiai juga sangat hati-hati menyangkut harta. Kotak uang di kamar beliau juga dipilah-pilah. Ada kotak untuk uang sowan (cabisen)karena kesusahan, nyabis untuk silaturrahim, nyabis untuk suatu hajat, termasuk cabisen yang syubhat kehalalannya.

Kehati-hatian kiai juga terlihat saat mau makan di warung. Melihat di warung itu ada bir, beliau tak jadi makan—padahal nasi pesanan sudah dihidangkan.

 

Ahli Ibadah

Sangat sulit mengetahui bagaimana detail ibadah kiai. Yang pasti, beliau ahli puasa, bahkan wafat dalam keadaan berpuasa. Saat suatu hari datang ke rumah sakit untuk operasi ambeien—di mana sebelum operasi pasien harus menjalani puasa terlebih dahulu—kiai langsung menjalani operasi karena memang sudah dalam keadaan berpuasa.

Ibadah malamnya luar biasa. Dalam keadaan opname di rumah sakit sekali pun, kiai tidak tidur semalam suntuk, terus-menerus berzikir dan membaca wirid. Apalagi ketika dalam keadaan sehat.

 

Alim segala macam ilmu

Kiai dikenal alim dan dalam ilmunya. Seorang pembaca yang luar biasa. Tak hanya kitab yang dibaca, tapi juga buku, koran, majalah, tabloid. Setelah wafat, di lemari kiai bertumpuk buku-buku dengan berbagai tema. Bahkan, ditemukan pula beberapa eksemplar Majalah Sastra.

Ilmunya tak hanya dicapai lewat membaca sebagaimana umumnya, tetapi juga lewat mimpi. Ini berawal ketika di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk, kiai mempunyai kemusykilan. Kiai bertanya kepada K.H. Ahmad Basyir, beliau tidak menjawab, dan berjanji akan menanyakannya kepada K.H. Ilyas. Malamnya, kiai bermimpi K.H. Ilyas menjelaskan apa yang menjadi kemusykilannya. Ternyata, jawaban K.H. Ahmad Basyir keesokan harinya persis seperti jawaban dalam mimpi tersebut.

Ilmu lewat mimpi ini juga yang terjadi di Sidogiri. Ketika oleh pengasuh, K.H. Khalil Nawawi, beliau dipercaya mengampu mata pelajaran Aljabar dan Ilmu Hayat, kiai minta waktu satu minggu. Yang terjadi kemudian, beliau didatangi dan diajar langsung lewat mimpi oleh K. Abdul Azhim, ipar K.H. Khalil Nawawi, yang juga pengasuh Sidogiri.

Ketika hendak berhenti dari Sidogiri, kiai pergi nyabis ke K.H. Abdul Hamid Pasuruan. Sambil memegang dan membolak-balik sebuah kitab kecil, K.H. Abdul Hamid berkata dengan bahasa perlambang, “Kitab ini kecil, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.” Sebuah gambaran tak langsung tentang sosok beliau, yang terbukti mampu memenuhi beragam kebutuhan masyarakat.

Kelak, K.H. Khalil Nawawi, pengasuh Sidogiri itu berpesan kepada salah seorang santrinya dari Bondowoso, K. Nawawi, “Kalau tidak sempat mondok ke Sidogiri, mondok saja ke pesntrennya K. Fauzi.”

 

Sederhana, Mandiri, Berperasaan Lembut

Yang dimaksud mandiri di sini, kiai mengerjakan sendiri segala sesuatunya. Bercukur dan mencuci pakaian sendiri. Tak pernah menyuruh kepada siapa pun, termasuk kepada putra-putrinya. Paling jauh, kalau mau minta tolong beli obat, misalnya, kiai bilang, “Apa kamu mau ke Prenduan? Saya mau titip obat.”

Pernah suatu kali, kiai memindah sendiri kitab-kitab yang kehujanan. Mungkin karena terlalu berat, punggungnya salah urat. Salah seorang menantunya berkata, “Kenapa tidak menyuruh kami saja?” Kiai lalu menjawab, “Saya takut membuat orang lain berdosa.” Mungkin maksud beliau, kalau saya menyuruh anak, lalu ia menolak, saya takut ia dicacat berdosa karena telah menolak perintah saya sebagai orangtuanya. Atau, kalau pun dia mau, saya takut ia tidak ikhlas.

Halusnya perasaan kiai juga terlihat saat beliau menjelaskan kenapa ketika sudah berusia agak sepuh,beliau tidak pernah menghadiri undangan. Padahal di masa mudanya, beliau sering hadir bila diundang. Kata beliau: “Saya khawatir lancing (cangkolang). Sebab, biasanya berkat untuk saya diantarkan, atau lebih banyak dari yang lain. Sementara, berkat paman-paman saya biasa-biasa saja.”

Pola hidup kiai pun begitu sederhana. Makannya sedikit, dua kali sehari; pagi dan sore—tapi, kiai lebih sering berpuasa. Kalau makan, tak ada sisa setitik pun. Jari-jarinya dikecup sampai bersih. Pakaiannya juga sangat sederhana. Tidak banyak; ada tiga atau empat lembar. Bahkan, menjelang wafatnya, kiai terlihat mengenakan baju yang sudah kumal dan usang. (asr).

  • Ahad, 8 Februari 2015 09:06 WIB Mencium Tangan Guru Dianjurkan

    DISKRIPSI MASALAH Salah satu tradisi warga NU ketika bertemu warga NU lainnya mereka berjabat tangan (asalaman). Bahkan tidak hanya sekedar itu, akan tetapi ada pula yang sampai mencium tangan dengan alasan takdzim, apabila yang mereka jumpai adalah orang alim atau gurunya.   PERTANYAAN Bagaimana

  • Ahad, 8 Februari 2015 08:45 WIB Sosialisasi Korporatisasi Garam Rakyat

    Sosialisasi korporatisasi garam rakyat makin gencar dilakukan PBNU. Seperti yang dilakukan hari Sabtu (7-2-2015) di kantor MWC NU Pragaan, Tim sosialisasi bersama Ketua PCNU Sumenep jumpai petani garam rakyat yang ada di MWC NU Pragaan. Dalam arahannya Ketua Tim Rokib Ismail mengatakan bahwa pemerintah akan

  • Ahad, 1 Februari 2015 22:49 WIB NU Pragaan Mulai Gencarkan Info KARTANU

    Jaddung menjadi ranting NU pertama yang didatangi Tim Kartanu MWC NU Pragaan. Setelah pagi harinya membentuk TIM, sore harinya Ahad (1-2-2015) di kediaman KH. Asnawi Sulaiman PP Al-Ihsan Jaddung TIM Kartanu sosialisasikan Kartanu kepada pengurus dan warga yang ikut perkumpulan ranting. Rais Syuriyah KH. Moh.

  • Sabtu, 31 Januari 2015 22:47 WIB PWNU Ajak PCNU Genjot Kartanu Jilid II

    Meskipun sepanjang pagi diguyur hujan, tak menyurutkan PWNU merapat dengan PCNU dan MWC NU se Kabupaten Sumenep, sabtu (31-01-2015). PWNU sebutkan perolehan Kartanu Sumenep baru 17.000. Jumlah ini masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan PCNU lain. Padahal Sumenep potensi kewargaannya kuat. KH.

  • Rabu, 28 Januari 2015 04:06 WIB LPNU Study Pengelolaan Penggemukan Sapi

    Takut keliru dalam memulai usaha penggemukan ternak, pengurus LPNU adakan study awal pendirian kandang komunal, dan pemeliharaan sapi, pada hari Rabu, 28 Januari 2015. Lokasi study  yang dipilih adalah Kelompok Tani di Pamekasan Madura. Kelompok tani ini telah punya banyak pengalaman mengikuti pendidikan

  • Jumat, 23 Januari 2015 04:10 WIB LPNU Pertajam Program Penggemukan Sapi

    Sehari setelah dilantik, Lembaga Perekonomian NU Pragaan langsung tancap gas gelar rapat lanjutan di Kantor MWC NU Pragaan, Jum’at, 23 Januari 2015 M. Rapat yang dimulai pada jam 15.00 Wib ini mempertajam program unggulan LPNU yaitu penggemukan ternak sapi dengan kandang komunal. Penggemukan sapi dengan

  • Kamis, 22 Januari 2015 15:00 WIB NU Aeng Panas Bangkit Adakan Haul Akbar

    Seolah ingin menepis anggapan ranting NU yang mati, pengurus baru Ranting NU Aeng Panas bangkit mengadakan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian kitab dan konsolidasi, bergiliran dari rumah pengurus ke rumah pengurus lainnya. Bulan maulid tahun inipun dengan bangga mengadakan Haul Akbar dan Peringatan Maulid

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan