Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Pesantren, Benteng Pertahanan Moralitas Bangsa

Selasa, 24 Desember 2013 09:35 WIB
690x Buletin-khidmah Gagasan

Kita tahu bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di negeri ini. Banyak andil yang telah disumbangkan pesantren dalam membangun bangsa. Sejarah juga membeberkan bukti peran besar lembaga yang memiliki akar tradisi dan nilai yang kuat ini dalam rentang perjalanan bangsa Indonesia. Pada zaman penjajahan pesantren tampil di garda paling depan mengawal proses kemerdekaan Indonesia. Waktu itu serangkaian kegiatan dilakukan yang berpusat pada pengembangan kualitas sumber daya manusia, dan pada gilirannya berwujud aksi gerakan perjuangan meraih maupun merebut kemerdekaan dari cengkeraman penjajah. Bahkan, menurut Wardiman Djojonegoro (1994), “Pesantren telah membuktikan peranannya sebagai salah satu komponen bangsa dalam usaha menyediakan manusia Indonesia yang dibutuhkan pada era prakemerdekaan.”Sejarah juga membuktikan bahwa tokoh-tokoh nasional dan internasional lahir dari lingkungan pesantren.

Kini bangsa ini terjangkit multi krisis, utamanya krisis moral. Ini salah satunya disebabkan kurang efektinya lembaga pendidikan dalam mengawal cita-cita mulia pendidikan nasional. Ini jelas merugikan. Banyak contoh bisa dikemukakan. Sekadar menyebut contoh, yaitu maraknya praktik prostitusi dan melembaganya tindak korupsi. Dua hal ini seolah sudah menjadi hal lumrah bagi bangsa kita. Padahal, itu sama sekali bertentangan dengan moral dan amanat kemerdekaan. Yang ironis, pelakunya justru orang-orang yang berpendidikan, bahkan dengan sejumlah gelar akademis. Di sinilah peran agama menjadi suatu kebutuhan tak terelakkan sebagai penyeimbang logika dan keilmuan. Dan, dalam hal ini pesantren—dengan sistem pendidikan yang menitikberatkan pada aspek agama dan moral—berpeluang besar menjadi sebuah tawaran solusi bagi carut-marut persoalan bangsa ini.

Ada beberapa indikator yang digunakan untuk melihat kualitas moral kehidupan suatu bangsa. Thomas Lickona (1992) menyebut sepuluh tanda perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa. Pertama, meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Kedua, ketidakjujuran yang membudaya. Ketiga, semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orangtua, guru, dan figur pemimpin. Keempat, pengaruh kelompok/geng terhadap tindak kekerasan. Kelima, meningkatnya kecurigaan dan kebencian. Keenam, penggunaan bahasa yang memburuk. Ketujuh, penurunan etos kerja. Kedelapan, menurunnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara. Kesembilan, meningginya perilaku merusak diri. Kesepuluh, semakin kaburnya pedoman moral.

Dan kalau kita analisa keberadaan bangsa Indosenesia saat ini, kemudian kita singkronisasi dengan pendapat Thomas Lickona di atas, kita akan menjumpai fakta betapa rendahnya kualitas moral bangsa ini.  Tingkat dekadensi moral pada era global saat ini memang sudah mencapai titik nadir yang sangat mengkhawatirkan. Karena itu, pendidikan moral dan agama menemukan posisi tawar signifikan agar masyarakat tetap terjaga dari agresi budaya yang tidak baik ini.

Berbicara tentang pendidikan agama dan moral, peran pesantren jelas tidak bisa diabaikan. Hingga kini pondok pesantren tetap eksis dan banyak berjasa membangun pondasi kehidupan beragama dan mendidik bangsa. Pesantren menyimpan potensi kuat untuk memproduk manusia yang berkualitas, berpengatahuan luas, berpikiran maju, berwawasan kebangsaan dan jauh ke depan dalam bingkai keimanan dan ketakwaan yang kokoh. Mengingat semua itu, keberadaan pesantren sangatlah dibutuhkan guna membenahi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan, di sini kepedulian pemerintah menjadi sebuah keniscayaan dan mesti ditingkatkan, terutama menyangkut pendanaan demi men-support  pengembangan dan pemberdayaan pesantren, yang pada gilirannya berimplikasi pada pembangunan peradaban bangsa yang santun, bermoral, cinta damai, ramah, religius, dan jauh dari praktik-praktik yang tidak mencirikan karakter dan budaya bangsa.

Harapan penulis, semoga pesantren akan tetap bertahan dan mampu berkreasi di tengah arus globalisasi yang menggempur dengan begitu dahsyat, bukan malah  terkubur dalam kubangan sejarah. Pesantren harus tampil sebagai lembaga yang terus memberi sumbangan positif dalam mencerahkan bangsa lewat transmisi pesan moral dan ajaran Islam yang lurus dan benar. Dengan begitu, pesantren tetap gagah di posisi paling depan sebagai lembaga pendidikan Islam dan benteng moralitas. Semoga..! (hav)

  • Ahad, 8 Februari 2015 09:06 WIB Mencium Tangan Guru Dianjurkan

    DISKRIPSI MASALAH Salah satu tradisi warga NU ketika bertemu warga NU lainnya mereka berjabat tangan (asalaman). Bahkan tidak hanya sekedar itu, akan tetapi ada pula yang sampai mencium tangan dengan alasan takdzim, apabila yang mereka jumpai adalah orang alim atau gurunya.   PERTANYAAN Bagaimana

  • Ahad, 8 Februari 2015 08:45 WIB Sosialisasi Korporatisasi Garam Rakyat

    Sosialisasi korporatisasi garam rakyat makin gencar dilakukan PBNU. Seperti yang dilakukan hari Sabtu (7-2-2015) di kantor MWC NU Pragaan, Tim sosialisasi bersama Ketua PCNU Sumenep jumpai petani garam rakyat yang ada di MWC NU Pragaan. Dalam arahannya Ketua Tim Rokib Ismail mengatakan bahwa pemerintah akan

  • Ahad, 1 Februari 2015 22:49 WIB NU Pragaan Mulai Gencarkan Info KARTANU

    Jaddung menjadi ranting NU pertama yang didatangi Tim Kartanu MWC NU Pragaan. Setelah pagi harinya membentuk TIM, sore harinya Ahad (1-2-2015) di kediaman KH. Asnawi Sulaiman PP Al-Ihsan Jaddung TIM Kartanu sosialisasikan Kartanu kepada pengurus dan warga yang ikut perkumpulan ranting. Rais Syuriyah KH. Moh.

  • Sabtu, 31 Januari 2015 22:47 WIB PWNU Ajak PCNU Genjot Kartanu Jilid II

    Meskipun sepanjang pagi diguyur hujan, tak menyurutkan PWNU merapat dengan PCNU dan MWC NU se Kabupaten Sumenep, sabtu (31-01-2015). PWNU sebutkan perolehan Kartanu Sumenep baru 17.000. Jumlah ini masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan PCNU lain. Padahal Sumenep potensi kewargaannya kuat. KH.

  • Rabu, 28 Januari 2015 04:06 WIB LPNU Study Pengelolaan Penggemukan Sapi

    Takut keliru dalam memulai usaha penggemukan ternak, pengurus LPNU adakan study awal pendirian kandang komunal, dan pemeliharaan sapi, pada hari Rabu, 28 Januari 2015. Lokasi study  yang dipilih adalah Kelompok Tani di Pamekasan Madura. Kelompok tani ini telah punya banyak pengalaman mengikuti pendidikan

  • Jumat, 23 Januari 2015 04:10 WIB LPNU Pertajam Program Penggemukan Sapi

    Sehari setelah dilantik, Lembaga Perekonomian NU Pragaan langsung tancap gas gelar rapat lanjutan di Kantor MWC NU Pragaan, Jum’at, 23 Januari 2015 M. Rapat yang dimulai pada jam 15.00 Wib ini mempertajam program unggulan LPNU yaitu penggemukan ternak sapi dengan kandang komunal. Penggemukan sapi dengan

  • Kamis, 22 Januari 2015 15:00 WIB NU Aeng Panas Bangkit Adakan Haul Akbar

    Seolah ingin menepis anggapan ranting NU yang mati, pengurus baru Ranting NU Aeng Panas bangkit mengadakan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian kitab dan konsolidasi, bergiliran dari rumah pengurus ke rumah pengurus lainnya. Bulan maulid tahun inipun dengan bangga mengadakan Haul Akbar dan Peringatan Maulid

  • Kamis, 2 Januari 2014 11:01 WIB Fiqh Luar Angkasa

    Sungguh mengagumkaaan, tahun 2000. Begitulah lirik terakhir sebuah qasidah yang sangat populer pada dekade 1990-an. Pembaca Khidmah yang lahir pada dekade tersebut, tentu akrab dengan lagu Nasida Ria ini. Apa yang digambarkannya, kini menjadi kenyataan. Ya, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi masa

  • Rabu, 1 Januari 2014 03:36 WIB Revitalisasi Pendidikan

    (Menumbuhkembangkan Kecintaan terhadap Pendidikan Agama) Memanusiakan manusia. Inilah mungkin definisi pendidikan yang kiranya tidak usah diperdebatkan. Semua tokoh pendidikandari Muhammad Natsir sampai tokoh pendidikan saat iniseakan meng-iya-kan pemaknaan pendidikan tersebut. Manusia harus menemukan jati

  • Selasa, 31 Desember 2013 10:36 WIB Mengais Barokah di Negeri Seberang

    Pada saat itulah aku, Arai dan Jimbon mengkristalkan harapan agung kami dalam satu statement yang sangat ambisius: cita-cita kami adalah ingin ke Prancis! Ingin menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne, ingin menjelajahi Eropa sampai ke Afrika. Bagi Anda yang pernah membaca novel Sang Pemimpi

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan