Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Pertemanan Nilai Ibadah sebagai Kebutuhan

Selasa, 24 Desember 2013 09:23 WIB
594x Buletin-khidmah Fenomena

Oleh: H. M. Zainur Rahman Hammam*


 

Min husni al-ikhtiy?r, shuhbah al-akhy?r, demikian bunyi grafiti yang pernah penulis lihat saat berada di Tanah Suci Makkah beberapa waktu lalu. Pernyataan yang berarti “termasuk bagian dari upaya yang baik adalah berteman dengan orang-orang baik” itu bisa dianggap ‘yang paling bertanggung jawab’ atas lahirnya tulisan sederhana ini.

Kita, manusia, adalah ‘sejenis’ makhluk yang  tidak bisa hidup independen se-independen-nya.  Istilah kerennya, kita ini makhluk sosial alias zoon politicon (Al-Ins?nu madaniyyun bi ath-thab’i  -Lihat: T?r?kh Ibn Khald?n, 1/hlm. 41). Maka, dalam perhitungan akal, kita tidak mungkin bisa hidup dan survive dalam dunia isolasi. Kita membutuhkan seseorang dan sesuatu di luar kita. Kita memerlukan sebuah interaksi, sebuah simbiosis.

Dan dari sekian banyak ‘tujuan’ hadirnya Islam adalah untuk menjawab kebutuhan paling mendasar semacam  ini. Islam menyuguhkan seperangkat aturan dan norma yang sedetil mungkin mengarahkan dan menuntun proses simbiosis ini agar (sesuai standar-standar ilahiyyah) terwujud simbiosis mutualisme dan—minimal—simbiosis komensalisme, serta terhindarinya simbiosis parasitisme.

Salah satu realisasi dari kebutuhan berinteraksi tersebut adalah pertemanan (al-shuhbah, friendship). Ada beberapa faktor yang menumbuhkan rasa dan ikatan pertemanan ini. Yang paling umum adalah alasan “kesamaan”, seperti kesamaan agama, kesamaan selera, kesamaan karakter, kesamaan latar belakang pendidikan, kesamaan daerah atau suku, dan sebagainya. Beberapa bentuk ikatan pertemanan pun banyak dibuat untuk mewadahinya, baik di dunia nyata (semacam ikatan alumni, ikatan keluarga, organisasi sosial, organisasi politik dan fans club) ataupun dalam jejaring dunia maya. Friendster, Facebook, dan Twitter adalah contoh beberapa situs yang secara khusus memfasilitasi mereka yang terikat (atau ingin mengikat diri) dalam sebuah ikatan pertemanan. Namun, pada prinsipnya sebuah ikatan pertemanan selalu didasari oleh adanya kecocokan dan rasa saling menyukai (kesamaan).

Di sisi lain, kita—sebagai kaum muslim—dituntut untuk selalu ‘beribadah sampai akhir hayat’; yakni selalu mengupayakan nilai ibadah dalam setiap tindakan dan diam kita, termasuk saat kita harus mengikat diri dalam sebuah ikatan pertemanan. Saat tumbuh keinginan dan rasa dalam diri kita untuk berteman dengan si  A atau si B misalnya, saat itulah kita harus mengedepankan norma dan aturan agama untuk mengukur layak-tidaknya ikatan yang hendak kita buat; apakah ia dapat menjadi lahan persemaian pahala, atau, minimal, tidak menjadi ajang menumpuk dosa, atau justru akan menjadi tembok penghalang yang semakin menjauhkan kita dari kebahagiaan ukhrawi.

Sebagai standar pokok dalam pertemanan, tersebut sebuah hadits yang menyatakan bahwa salah satu kelompok yang akan dinaungi Allah kelak di hari kiamat adalah mereka yang saling menyukai karena-Nya; berkumpul karena-Nya, dan berpisah pun karena-Nya (lihat: Syarh an-Nawawi ‘al? Muslim, 1/hlm. 120, B?b Ikhf?’ as-Shadaqah). Dasar pemahaman “saling menyukai karena-Nya” inilah yang sangat mungkin melahirkan banyak paparan ulama tentang rambu-rambu pertemanan.

Berkaitan dengan rambu-rambu pertemanan tersebut, Imam Syaraf ad-Din An-Nawawi (631- 676 H) menegaskan adanya larangan pertemanan dengan siapa pun yang tindak tanduknya tidak membangkitkan kita (untuk mengingat-Nya) dan ucapan-ucapannya tidak mengarahkan kita pada (taqwa)-Nya (?q?dz al-Himam Syarh al-Hikam, hlm. 57). Sementara itu, Imam al-Ghazali (450-505 H) menyimpulkan asas pertemanan kita dengan orang lain ke dalam lima butir pokok pemikiran: (1) cerdas, (2) berakhlaq baik, (3) shalih, (4) tidak bersifat tamak pada dunia, dan (5) memiliki sifat jujur (Bid?yah al-Hid?yah, hlm. 22).

Selanjutnya, berdasarkan paparan Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad al-Husaini (1044- 1132 H) dalam karyanya, An-Nash?-ih ad-D?niyyah wa al-Wash?y? al-?m?niyyah (hlm. 295), pertemanan, berikut status dan kondisi-kondisi yang melatar-belakanginya, dapat dibagi menjadi tiga: Pertama, pertemanan diniyah, yakni pertemanan atas dasar ibadah, semisal karena ia adalah seorang yang taat pada Allah, mendorong dan membantu kita untuk taat pada-Nya, serta membantu menjadikan kehidupan dunia kita sebagai sarana menuju kebahagiaan akhirat. Kedua, pertemanan naluriah, yaitu pertemanan atas dasar kesamaan rasa/selera, seperti berteman dengan seseorang karena kita menyukainya, merasa cocok/sehati dengannya; atau karena ia ikut membantu mewarnai kehidupan kita menjadi lebih indah. Pertemanan semacam ini sah-sah saja dan bahkan tak tertutup peluang dapat menarik banyak kebaikan ukhrawiyah selama batasan dan norma-norma agama (al-hud?d ad-d?niyyah) tetap dipegang teguh. Ketiga, pertemanan tak terpuji, yaitu saat kita berteman dengan seseorang yang membantu atau mendorong kita untuk enjoy dan ‘merasa tidak sendiri’ dalam maksiat, dosa, dan pelanggaran rambu-rambu agama. Juga saat dalam pertemanan itu, kita tidak bisa bersikap untuk, paling tidak, mengingkari kemaksiatannya, apalagi jika sampai tumbuh sikap permisif dengan kemaksiatan tersebut. Bukankah ar-ridlo bi al-ma’shiyah ma’shiyatun?

Di sini terlihat pentingnya upaya-upaya “mengenal” siapa calon teman kita sebelum terjadi “perkenalan” itu sendiri.  Pengenalan ini tentu sebatas yang dzahir pada kita saja, karena apa yang terlihat kadang tak seperti apa yang terjadi. Namun, bagaimanapun upaya ini tetap penting, karena dengan mengenal sisi-sisi lain dari calon teman kita itu, kita bisa memiliki referensi untuk dijadikan acuan sebelum kita memutuskan akankah melanjutkan pertemanan dengannya atau tidak. Setidaknya, jika pertemanan dengannya tak dapat terhindari, kita sudah punya perangkat filter untuk menyaring mana yang bermanfaat dari pertemanan itu, mana yang “no problem”, dan mana pula yang berpotensi “membahayakan” bagi diri dan agama kita. Meminjam istilah ilmu nahwu, wa l? yaj?zu al-ibtid?’ bi an-nakirah # m? lam tufid ka ‘inda zaidin namirah (Nadzm Alfiyah Ibni Malik, bait ke 125); lafadz yang nakirah (alias karakter yang tidak jelas juntrungannya) tak layak dijadikan mubtada’ (tokoh utama) kecuali jika jelas-jelas ada faedahnya dalam tarkib kehidupan kita.

Demikianlah sedikit hal tentang pertemanan, sebuah persoalan yang kelihatannya sepele, namun sejatinya punya efek yang besar dalam kehidupan seseorang. Semoga tulisan sederhana ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan manjadi pijakan awal saat kita hendak “meng-add” seseorang sebagai bagian dalam hidup dan keseharian kita. Dengan pertimbangan dan perhitungan yang cermat, sebuah pertemanan dapat menjadi tambahan bekal ukhrawi bagi kita dan bagian dari penghambaan kita kepada Allah.

 

Prenduan, Muharram, 1431 H


 


*Penulis adalah Khaddam PP. Al Muqri Partelon Prenduan Sumenep dan PCNU Sumenep

  • Ahad, 8 Februari 2015 09:06 WIB Mencium Tangan Guru Dianjurkan

    DISKRIPSI MASALAH Salah satu tradisi warga NU ketika bertemu warga NU lainnya mereka berjabat tangan (asalaman). Bahkan tidak hanya sekedar itu, akan tetapi ada pula yang sampai mencium tangan dengan alasan takdzim, apabila yang mereka jumpai adalah orang alim atau gurunya.   PERTANYAAN Bagaimana

  • Ahad, 8 Februari 2015 08:45 WIB Sosialisasi Korporatisasi Garam Rakyat

    Sosialisasi korporatisasi garam rakyat makin gencar dilakukan PBNU. Seperti yang dilakukan hari Sabtu (7-2-2015) di kantor MWC NU Pragaan, Tim sosialisasi bersama Ketua PCNU Sumenep jumpai petani garam rakyat yang ada di MWC NU Pragaan. Dalam arahannya Ketua Tim Rokib Ismail mengatakan bahwa pemerintah akan

  • Ahad, 1 Februari 2015 22:49 WIB NU Pragaan Mulai Gencarkan Info KARTANU

    Jaddung menjadi ranting NU pertama yang didatangi Tim Kartanu MWC NU Pragaan. Setelah pagi harinya membentuk TIM, sore harinya Ahad (1-2-2015) di kediaman KH. Asnawi Sulaiman PP Al-Ihsan Jaddung TIM Kartanu sosialisasikan Kartanu kepada pengurus dan warga yang ikut perkumpulan ranting. Rais Syuriyah KH. Moh.

  • Sabtu, 31 Januari 2015 22:47 WIB PWNU Ajak PCNU Genjot Kartanu Jilid II

    Meskipun sepanjang pagi diguyur hujan, tak menyurutkan PWNU merapat dengan PCNU dan MWC NU se Kabupaten Sumenep, sabtu (31-01-2015). PWNU sebutkan perolehan Kartanu Sumenep baru 17.000. Jumlah ini masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan PCNU lain. Padahal Sumenep potensi kewargaannya kuat. KH.

  • Rabu, 28 Januari 2015 04:06 WIB LPNU Study Pengelolaan Penggemukan Sapi

    Takut keliru dalam memulai usaha penggemukan ternak, pengurus LPNU adakan study awal pendirian kandang komunal, dan pemeliharaan sapi, pada hari Rabu, 28 Januari 2015. Lokasi study  yang dipilih adalah Kelompok Tani di Pamekasan Madura. Kelompok tani ini telah punya banyak pengalaman mengikuti pendidikan

  • Jumat, 23 Januari 2015 04:10 WIB LPNU Pertajam Program Penggemukan Sapi

    Sehari setelah dilantik, Lembaga Perekonomian NU Pragaan langsung tancap gas gelar rapat lanjutan di Kantor MWC NU Pragaan, Jum’at, 23 Januari 2015 M. Rapat yang dimulai pada jam 15.00 Wib ini mempertajam program unggulan LPNU yaitu penggemukan ternak sapi dengan kandang komunal. Penggemukan sapi dengan

  • Kamis, 22 Januari 2015 15:00 WIB NU Aeng Panas Bangkit Adakan Haul Akbar

    Seolah ingin menepis anggapan ranting NU yang mati, pengurus baru Ranting NU Aeng Panas bangkit mengadakan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian kitab dan konsolidasi, bergiliran dari rumah pengurus ke rumah pengurus lainnya. Bulan maulid tahun inipun dengan bangga mengadakan Haul Akbar dan Peringatan Maulid

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:31 WIB Al-Azhar Mau Dirampas

    Oleh Hasani Utsman Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir, Kelahiran Pamekasan Madura   Awal tahun 2012, saya mendapatkan pertanyaan dari seorang teman di Indonesia: Al-Azhar itu milik siapa Mungkin yang dimaksud adalah: Al-azhar itu milik golongan apa Pertanyaan seperti itu sangatlah wajar, karena

  • Rabu, 1 Januari 2014 03:39 WIB Mengejar Mimpi di Negeri Orang

    Bagian II (habis) Oleh Muhammad Asad Santri Tebuireng dan Universitas Leiden Belanda Horee, TOEFL-ku sudah 550...! Berarti aku bisa berangkat ke luar negeri, dong. Eiit, jangan gembira dulu kawan! Nilai TOEFL itu baru modal pertama. Masih banyak lho yang harus kita perjuangkan. Ibarat melakukan

  • Rabu, 1 Januari 2014 01:40 WIB Meraih Selaksa Makna Dengan Membaca

    Oleh: A. Musyfiqurrahman* Di era globalisasi ini, berbagai arus informasi tak dapat dihindari, mudah diakses bahkan mudah diterima lewat media cetak maupun elektronik. Dari yang manual sampai yang digital. Kalau tak ingin ketinggalan kereta informasi dan wawasan, tentu kita harus intens membaca. Bukankah

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan