Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Kerja itu Ibadah

Selasa, 24 Desember 2013 09:13 WIB
510x Buletin-khidmah Wacana

Merasa dirinya sangat miskin, seorang Ansar datang mengemis kepada Nabi. Setelah ditatap lekat-lekat, Nabi tahu orang itu masih kuat. Maka didorongnya ia untuk bekerja. “Apakah kamu punya sesuatu?”

“Demi Allah, saya tidak punya apa-apa, wahai Rasulullah, selain secarik kain untuk alas duduk dan alat penutup, serta sebuah bejana untuk minum.”

Laki-laki itu mengira Nabi akan menerima alasannya lalu memberi toleransi untuk mengemis. Ternyata tidak. Malah disuruhnya kain dan bejana itu dibawa kepada beliau, lalu dilelang kepada sahabat, dan laku dua dirham. Satu dirham disuruh belikan makanan untuk keluarganya, satu dirham disuruh belikan kapak.

“Berangkatlah ke lembah itu, jangan sisakan duri dan kayu kering di situ. Jangan datang ke sini selama lima belas hari ini,” begitu pesan Nabi.

Laki-laki itu pun berangkat. Termotivasi oleh petunjuk Nabi, ia bekerja penuh semangat, pantang lelah. Saat kembali kepada Nabi, ia sudah berkecukupan dan pulang ke keluarganya membawa kebaikan. Kemudian Nabi bersabda, “Ini jauh lebih baik daripada kau membawa masalah kelak pada hari kiamat berupa sebintik noda di wajah yang tak bisa dihapus kecuali dengan api neraka.”

Di waktu lain, saat datang dari Tabuk beliau disambut Sa‘d al-Anshari dan disalami.

“Kenapa tanganmu jadi kasar begini?”

“Aku bekerja dengan sekop, wahai Rasulullah, untuk menafkahi keluargaku.”

Nabi mencium tangan Sa‘d, lalu bersabda, “Inilah tangan yang tidak akan tersentuh api neraka.”

Dua kejadian di atas cukup memberi gambaran kepada kita bahwa bekerja merupakan bagian dari ibadah yang dapat menyelamatkan seseorang dari api neraka. Nabi mendorong kita bekerja. “Tidak ada makanan yang lebih baik dibanding makanan hasil jerih payah sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud makan dari hasil keringat sendiri,” sabda beliau. Nabi Daud pandai besi, Nabi Ibrahim pedagang kain, dan Nabi Zakaria tukang kayu.

Karena itu, tak heran bila sahabat-sahabat beliau bertebaran mencari nafkah. “Sahabat-sahabat Nabi banting tulang bekerja di siang hari. Ada yang di pasar, ada yang di kebun,” tutur Abu Hurairah.

Dalam kitab Tanb?h al-Gh?fil?n disebutkan bahwa ibadah itu sepuluh: satu ada di ibadah murni, sembilan ada di kerja. Karena itu, Nabi tidak terima ketika melihat seorang pria berada di masjid di luar waktu shalat. Dan, setelah mengetahui niat orang itu, beliau mengajarinya doa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan hutang dan penundukan orang.” Beliau menuntun orang itu untuk berlindung kepada Allah sambil lalu bekerja, tidak malas, dan tidak berpangku tangan saja.

Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari dalam kitab al-Tanw?r f? Isq?th al-Tadb?r  menyebut ada lima hikmah atau manfaat bekerja. Pertama, karena hati manusia tidak mampu melihat pembagian Allah dan kurang yakin kepada-Nya, maka dengan bekerja hatinya jadi kuat dan mantap kepada Allah. Kedua, menjaga kehormatan agar tidak terjerumus ke dalam praktik meminta-minta. Ketiga, kesibukan kerja dapat menghindarkan seseorang dari berbuat dosa. Keempat, dalam kerja terdapat rahmat dan karunia bagi para ahli ibadah dan hamba-hamba yang sibuk menyatukan diri dengan Allah.  Kelima, kerja merupakan sarana untuk membangun persaudaraan dan menumbuhkan rasa saling cinta di antara mereka.

Rezeki harus dicari dan diminta kepada Allah dengan cara yang baik dan halal. Masih kata Ibnu ‘Athaillah, ada sepuluh sikap mencari rezeki yang baik. Pertama, tidak melalaikan Allah. Kedua, menyerahkan hasilnya kepada Allah, tanpa menetapkan target apa pun kepada-Nya. Ketiga, ketika meminta rezeki kepada Allah, hati dan pikiran tidak fokus kepada rezekinya, tetapi kepada munajatnya. Keempat, sadar bahwa jatah kita sudah ditetapkan oleh Allah. Rezeki yang kita terima, bukan karena berkat usaha dan doa kita, tetapi karena memang itulah yang ditetapkan Allah. Kelima, kita minta rezeki yang mencukupi, bukan yang melenakan. “Sedikit yang mampu kausyukuri lebih daripada banyak yang tak mampu kausyukuri,” sabda Nabi kepada Tsa‘labah. Keenam, meminta bagian kita di dunia, sesuai dengan firman Allah, ..Di antara mereka ada yang berdoa, ‘Tuhan, berikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka.’ Ketujuh, meminta tanpa meragukan jatah yang diberikan Allah serta tetap menjaga diri dari segala sesuatu yang dilarang. Kedelapan, meminta tanpa menuntut segera dikabulkan. Kesembilan, meminta dan bersyukur kepada Allah jika diberi, dan menyadari pilhan terbaik-Nya jika tidak diberi. Kesepuluh, meminta kepada Allah agar kita berpegang pada pembagian-Nya yang telah ditetapkan, bukan pada permintaan kita (as-r).

Sumber: 1. Nizar Abazah, F? Mad?nah al-Ras?l, 2. Ibn ‘Athaillah al-Sakandari, al-Tanw?r F? Isq?t al-Tadb?r, dan 3. Syekh Nashr ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Samarkandi, Tanb?h al-Gh?fil?n.

  • Ahad, 8 Februari 2015 09:06 WIB Mencium Tangan Guru Dianjurkan

    DISKRIPSI MASALAH Salah satu tradisi warga NU ketika bertemu warga NU lainnya mereka berjabat tangan (asalaman). Bahkan tidak hanya sekedar itu, akan tetapi ada pula yang sampai mencium tangan dengan alasan takdzim, apabila yang mereka jumpai adalah orang alim atau gurunya.   PERTANYAAN Bagaimana

  • Ahad, 8 Februari 2015 08:45 WIB Sosialisasi Korporatisasi Garam Rakyat

    Sosialisasi korporatisasi garam rakyat makin gencar dilakukan PBNU. Seperti yang dilakukan hari Sabtu (7-2-2015) di kantor MWC NU Pragaan, Tim sosialisasi bersama Ketua PCNU Sumenep jumpai petani garam rakyat yang ada di MWC NU Pragaan. Dalam arahannya Ketua Tim Rokib Ismail mengatakan bahwa pemerintah akan

  • Ahad, 1 Februari 2015 22:49 WIB NU Pragaan Mulai Gencarkan Info KARTANU

    Jaddung menjadi ranting NU pertama yang didatangi Tim Kartanu MWC NU Pragaan. Setelah pagi harinya membentuk TIM, sore harinya Ahad (1-2-2015) di kediaman KH. Asnawi Sulaiman PP Al-Ihsan Jaddung TIM Kartanu sosialisasikan Kartanu kepada pengurus dan warga yang ikut perkumpulan ranting. Rais Syuriyah KH. Moh.

  • Sabtu, 31 Januari 2015 22:47 WIB PWNU Ajak PCNU Genjot Kartanu Jilid II

    Meskipun sepanjang pagi diguyur hujan, tak menyurutkan PWNU merapat dengan PCNU dan MWC NU se Kabupaten Sumenep, sabtu (31-01-2015). PWNU sebutkan perolehan Kartanu Sumenep baru 17.000. Jumlah ini masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan PCNU lain. Padahal Sumenep potensi kewargaannya kuat. KH.

  • Rabu, 28 Januari 2015 04:06 WIB LPNU Study Pengelolaan Penggemukan Sapi

    Takut keliru dalam memulai usaha penggemukan ternak, pengurus LPNU adakan study awal pendirian kandang komunal, dan pemeliharaan sapi, pada hari Rabu, 28 Januari 2015. Lokasi study  yang dipilih adalah Kelompok Tani di Pamekasan Madura. Kelompok tani ini telah punya banyak pengalaman mengikuti pendidikan

  • Jumat, 23 Januari 2015 04:10 WIB LPNU Pertajam Program Penggemukan Sapi

    Sehari setelah dilantik, Lembaga Perekonomian NU Pragaan langsung tancap gas gelar rapat lanjutan di Kantor MWC NU Pragaan, Jum’at, 23 Januari 2015 M. Rapat yang dimulai pada jam 15.00 Wib ini mempertajam program unggulan LPNU yaitu penggemukan ternak sapi dengan kandang komunal. Penggemukan sapi dengan

  • Kamis, 22 Januari 2015 15:00 WIB NU Aeng Panas Bangkit Adakan Haul Akbar

    Seolah ingin menepis anggapan ranting NU yang mati, pengurus baru Ranting NU Aeng Panas bangkit mengadakan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian kitab dan konsolidasi, bergiliran dari rumah pengurus ke rumah pengurus lainnya. Bulan maulid tahun inipun dengan bangga mengadakan Haul Akbar dan Peringatan Maulid

  • Jumat, 3 Januari 2014 00:02 WIB Menumbuhkan Motivasi dalam Diri

    Oleh Moh. Kurdi Ad-Dhahil, S.Pd.I. *)   Keinginan dan cita-cita hanya bisa diraih jika kita memiliki motivasi yang kuat. Tanpa motivasi, sulit sekali menggapai apa yang kita impikan. Tetapi, banyak di antara kita yang bingun atau belum memahami cara menumbuhkan motivasi dalam diri sendiri. Padahal,

  • Kamis, 2 Januari 2014 10:30 WIB Jalan Mudah menuju Tuhan

    Ahmad Sahidah Berasal dari Lenteng Sumenep, kini menjadi dosen Filsafat dan Etika di Universitas Utara Malaysia   Jalan mudah di atas memiliki dua pengertian. Pertama, umat bisa melakukan sesuatu dengan jalan pintas agar direlai oleh Tuhan. Kedua, umat tidak sulit untuk menjadi hamba-Nya yang

  • Rabu, 1 Januari 2014 03:31 WIB Menegaskan Identitas Melalui Kartanu

    Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Namun, sejak berdirinya hingga kini, populasi warga NU tidak jelas jumlahnya. Ada yang menyebut, warga NU berjumlah 40 juta orang, ada juga yang menyatakan 60 juta, 70 juta, 80 juta, dan seterusnya. Dengan populasi yang

  • Rabu, 1 Januari 2014 01:29 WIB Pesantren dan Hubungan Kiai dengan Santri

    Sudah banyak pengamat dan penulis, baik dari luar maupun dalam negeri, yang berusaha berbicara tentang pesantren. Suatu lembaga pendidikan khas yang dikenal sebagai tempat mencetak ahli-ahli agama (Islam). Istilahnya tafaqquh fiddiin. Umumnya, para pengamat dan penulis tentang pesantren terlalu sederhana

  • Selasa, 24 Desember 2013 09:22 WIB Perlu Kearifan untuk Memfilter

    Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi masa kini, telah menjadikan tontonan sebagai tuntunan, dan tuntunan sebagai tontonan. Terlepas dari sisi baiknya, nilai negatif media massa seperti TV dan internet, telah merasuki jiwa manusia tanpa kenal umur, meluluh lantakkan akal, kebiasaan, sopan santun, bahkan

  • Selasa, 24 Desember 2013 09:13 WIB Kerja itu Ibadah

    Merasa dirinya sangat miskin, seorang Ansar datang mengemis kepada Nabi. Setelah ditatap lekat-lekat, Nabi tahu orang itu masih kuat. Maka didorongnya ia untuk bekerja. Apakah kamu punya sesuatu Demi Allah, saya tidak punya apa-apa, wahai Rasulullah, selain secarik kain untuk alas duduk dan alat penutup,

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan