Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Satu Gantang untuk Dua Bulan

Senin, 23 Desember 2013 20:05 WIB
568x Buletin-khidmah Figur

Profil alm. K.H. Ahmad Fauzi Sirran


Satu Gantang untuk Dua Bulan


(Bagian I)


 

K.H. Ahmad Fauzi Sirran—all?hummaghfirlah—bukan sosok asing bagi kita. Namun siapa sangka, di balik sosok kharismatik ini tersimpan untaian kisah misteri, unik, dan mengagetkan. Sebanyak apa kisah itu? Jawabannya adalah sebanyak orang yang pernah kenal dengan beliau. Masing-masing orang mengoleksi butiran kisah atau pengalaman tersendiri, terutama menyangkut sisi karomah beliau.

 

Tak ada yang tahu pasti tanggal berapa K.H. Ahmad Fauzi Sirran dilahirkan. Satu-satunya data yang menunjukkan bahwa beliau lahir pada tahun 1933 adalah bahwa beliau menikiah tahun 1955 pada usia 22 tahun. Beliau adalah putra kedua dari lima bersaudara dari pasangan Kiai Sirran dan Nyai Madaniyah (dikenal dengan sebutan Nyai Anom). Dan, bumi Pangambengan adalah saksi bisu kelahiran beliau. Juga masa kecil yang dijalaninya di sana.

Kiai Fauzi kecil mengawali jenjang pendidikannya dari Sekolah Rakyat (SR) di Pakamban. Tapi, hanya sampai kelas dua. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya ke PP. Annuqayah Guluk-Guluk. Hampir bisa dikatakan, beliau mondok tanpa bekal. Bayangkan, satu gantang (3 kg) beras jagung cukup untuk bekal dua bulan lebih. Bukan semata karena faktor ekonomi keluarga yang sulit, tapi juga karena beliau memang suka tirakat.

Lulus Madrasah Ibtida’iyah (MI) dengan predikat mutawassith (cukup), kiai yang ditinggal wafat ayahandanya dalam keadaan yatim ini langsung dipercaya menjadi guru di Annuqayah. Sorenya, beliau mengikuti pendidikan ‘Ulya, tempat beliau menyerap ilmu umum seperti Aljabar dan Ilmu Hayat (Biologi) di bawah didikan K.H. Mahfudh Husaini.

Begitu lulus ‘Ulya, sebuah peristiwa penting terjadi. Oleh Kiai Muhammad Ilyas, pengasuh umum Annuqayah kala itu, Kiai Fauzi dipertunangkan dengan Nyai Maftuhah, salah seorang putri almarhum Kiai Abdullah Sajjad yang masih saudara pengasuh. Bagi beliau, ini benar-benar membingungkan. Menolak pertunangan berarti mengingkari guru. Menerimanya, beliau merasa tidak layak. Sebuah dilema yang kemudian melesakkan kegelisan mendalam. Sungguh, kiai sederhana yang rendah hati ini merasa Annuqayah terlalu besar untuk dirinya.

Setelah berembuk dengan Kiai Abi Syuja’ selaku kakak ipar beliau, dan Haji Abdul Halim selaku Kepala Desa Pakamban, akhirnya Kiai Fauzi meninggalkan bumi Annuqayah untuk mencari bumi lain tempat mendinginkan hati dan memperkaya ilmu. Bumi itu adalah Sidogiri. Beliau berangkat ke pondok pesantren tempat belajar para ulama besar itu tanpa bekal berarti, hanya bermodalkan tekad dan semangat. Selama beberapa waktu di sana beliau hidup mengekang perut.

Kebetulan, saat itu Sidogiri membuka Madrasah Tsananwiyah untuk pertama kali. Entah kenapa, Kiai Fauzi langsung ditunjuk untuk mengampu mata pelajaran Aljabar dan Ilmu Hayat. Tak bisa menolak, karena penunjukan ini langsung dari pengasuh. Bagi beliau, kalau sudah guru yang memerintahkan, apa pun akan beliau lakukan, “Bahkan disuruh mati sekalipun,” tutur beliau kepada beberapa santrinya.

Sejak mengajar itulah kebutuhan bekal Kiai Fauzi mulai sedikit tercukupi, walaupun jelas bukan ini tujuan beliau. Lebih-lebih setelah seorang santri, anak bupati Sampang, belajar ilmu Aljabar secara privat kepada beliau. Setiap kali anak itu dikirim uang oleh orangtuanya, beliau dikirimi juga. Praktis, dengan begitu, kebutuhan ekonomi beliau terpenuhi. Hanya, untuk kebutuhan membeli kitab yang mahal-mahal, kadang beliau masih berkirim surat ke paman beliau, Kiai Jazuli. Dan, oleh sang paman, surat itu lalu ditunjukkan kepada Haji Idris Pakamban, dan dialah yang kemudian memenuhi keperluan beliau.

Sejak peristiwa itulah, demi menjaga keselamatan dirinya, Kiai Fauzi mulai mencari guru untuk belajar ilmu-ilmu batin.

Begitulah sekelumit kisah pengabdian beliau di Sidogiri, sampai akhirnya dipanggil pulang untuk dinikahkan dengan Nyai Maftuhah. Akad nikah dilangsungkan di Annuqayah. Yang mengakad Kiai Muhammad Ilyas, sedangkan yang menjadi wali adalah Kiai Basyir. Dua tahun beliau menetap di sana, dan dua putra-putri lahir di sana, yaitu Nyai Yusrah, putri pertama yang meninggal dalam usia beberapa bulanan, dan Kiai Nashih sebagai putra kedua. (zb-r/as-r)

  • Ahad, 8 Februari 2015 09:06 WIB Mencium Tangan Guru Dianjurkan

    DISKRIPSI MASALAH Salah satu tradisi warga NU ketika bertemu warga NU lainnya mereka berjabat tangan (asalaman). Bahkan tidak hanya sekedar itu, akan tetapi ada pula yang sampai mencium tangan dengan alasan takdzim, apabila yang mereka jumpai adalah orang alim atau gurunya.   PERTANYAAN Bagaimana

  • Ahad, 8 Februari 2015 08:45 WIB Sosialisasi Korporatisasi Garam Rakyat

    Sosialisasi korporatisasi garam rakyat makin gencar dilakukan PBNU. Seperti yang dilakukan hari Sabtu (7-2-2015) di kantor MWC NU Pragaan, Tim sosialisasi bersama Ketua PCNU Sumenep jumpai petani garam rakyat yang ada di MWC NU Pragaan. Dalam arahannya Ketua Tim Rokib Ismail mengatakan bahwa pemerintah akan

  • Ahad, 1 Februari 2015 22:49 WIB NU Pragaan Mulai Gencarkan Info KARTANU

    Jaddung menjadi ranting NU pertama yang didatangi Tim Kartanu MWC NU Pragaan. Setelah pagi harinya membentuk TIM, sore harinya Ahad (1-2-2015) di kediaman KH. Asnawi Sulaiman PP Al-Ihsan Jaddung TIM Kartanu sosialisasikan Kartanu kepada pengurus dan warga yang ikut perkumpulan ranting. Rais Syuriyah KH. Moh.

  • Sabtu, 31 Januari 2015 22:47 WIB PWNU Ajak PCNU Genjot Kartanu Jilid II

    Meskipun sepanjang pagi diguyur hujan, tak menyurutkan PWNU merapat dengan PCNU dan MWC NU se Kabupaten Sumenep, sabtu (31-01-2015). PWNU sebutkan perolehan Kartanu Sumenep baru 17.000. Jumlah ini masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan PCNU lain. Padahal Sumenep potensi kewargaannya kuat. KH.

  • Rabu, 28 Januari 2015 04:06 WIB LPNU Study Pengelolaan Penggemukan Sapi

    Takut keliru dalam memulai usaha penggemukan ternak, pengurus LPNU adakan study awal pendirian kandang komunal, dan pemeliharaan sapi, pada hari Rabu, 28 Januari 2015. Lokasi study  yang dipilih adalah Kelompok Tani di Pamekasan Madura. Kelompok tani ini telah punya banyak pengalaman mengikuti pendidikan

  • Jumat, 23 Januari 2015 04:10 WIB LPNU Pertajam Program Penggemukan Sapi

    Sehari setelah dilantik, Lembaga Perekonomian NU Pragaan langsung tancap gas gelar rapat lanjutan di Kantor MWC NU Pragaan, Jum’at, 23 Januari 2015 M. Rapat yang dimulai pada jam 15.00 Wib ini mempertajam program unggulan LPNU yaitu penggemukan ternak sapi dengan kandang komunal. Penggemukan sapi dengan

  • Kamis, 22 Januari 2015 15:00 WIB NU Aeng Panas Bangkit Adakan Haul Akbar

    Seolah ingin menepis anggapan ranting NU yang mati, pengurus baru Ranting NU Aeng Panas bangkit mengadakan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian kitab dan konsolidasi, bergiliran dari rumah pengurus ke rumah pengurus lainnya. Bulan maulid tahun inipun dengan bangga mengadakan Haul Akbar dan Peringatan Maulid

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan