Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Khadijah Disediakan Rumah Permata di Surga

Senin, 23 Desember 2013 20:06 WIB
601x Buletin-khidmah Uswah

Waktu dluha di salah satu sudut kota Makah. Khadijah tengah bercanda ria bersama sahabat-sahabat ciliknya. Tanpa diketahui dari mana datangnya, tahu-tahu muncul seorang Yahudi dan berhenti tepat di depan mereka. Sambil tertawa sejadi-jadinya, si Yahudi berteriak, “Telah tiba masa kedatangan nabi terakhir! Siapa di antara kalian dapat menjadi istrinya, lakukanlah!”.

Tersentak wanita-wanita cilik itu mendengar ocehannya. Karena dianggap gila, pria itu dilempari batu sambil dicerca dan dimaki. Hanya Khadijah yang tak ikut-ikutan. Bahkan, ia merasa terkesan dengan kata-kata pria Yahudi itu.

Waktu terus bergulir. Menginjak usia ke-40, kenangan itu berputar ulang dalam benak putri Khuwailid ini. Teringat pula ia akan apa yang dikatakan sepupunya, Waraqah ibn Naufal, seorang monoteis yang teguh menyembah Allah berdasarkan agama Nabi Ibrahim, tekun membaca Taurat dan Injil, mencela agama kaum Quraisy, dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi. Khadijah ingat ia pernah berkata bahwa sudah saatnya datang seorang nabi yang akan menghancurkan berhala-berhala, menyeru manusia menyembah satu Tuhan, mengajak mereka berbudi luhur dan menghindari perangai buruk. Ia yakin betul Muhammad lah nabi itu.

Khadijah telah melihat sendiri bagaimana kejujuran Muhammad dan segala prilaku luhurnya. Lebih-lebih sepulang dari menjalankan bisnis perdagangannya di Syria. Bukan hanya laba melimpah yang membuat dirinya takjub kepada sosok Muhammad, tetapi juga rangkaian peristiwa yang terjadi sepanjang perjalanan dagang. Rangkaian kisah yang dituturkan Maisarah—yang sengaja disuruh Khadijah untuk menemani Muhammad ke Syria—tentang beliau akhirnya memantapkan niat janda beranak dua ini untuk melamar Muhammad.

Gayung bersambut, Muhammad menerima lamaran wanita berjuluk al-Th?hirah (suci, bersih) ini. Rumah tangga dibangun. Keduanya hidup bahagia. Bukan semata karena harta yang melimpah. Tapi juga karena mereka dikarunia dua orang putra—Qasim dan Abdullah—dan empat orang putri—Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Sayang, dua putra mereka meninggal di usia belia.

Ketika sang suami diangkat Allah sebagai rasul-Nya, Khadijah menjadi wanita pertama yang menyatakan beriman.  Ia juga mendampingai suami tercinta, menolong, dan menguatkan beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan intimidasi kaum kafir. Ia korbankan jiwa, raga, dan hartanya demi perjuangan suaminya. Dihadapinya segala risiko dan tantangan yang harus diterima sebagai istri. Pantang baginya mundur dari garis perjuangan yang sudah digariskan suaminya. Bahkan, makin hari makin mantap hatinya, makin kokoh imannya. Makin berat ujian, makin sabar ia menghadapinya. Ia campakkan kesenangan duniawi demi sang suami.

Ketika sang suami diboikot bersama segenap keluarga Bani Hasyim, Khadijah tak ragu untuk terus maju mendampingi Rasululllah SAW. Ia tinggalkan tempat tinggalnya yang paling nyaman untuk diri dan keluarganya, menuju celah bukit di luar Kota Makkah, tempat mereka dikucilkan. Tak seorang pun diperbolehkan berhubungan dengan mereka, apalagi untuk mengantarkan makanan dan pakaian. Tiga tahun mereka terlunta-lunta dalam keadaan yang memprihatinkan. Siang kepanasan, malam kedinginan. Untuk mengganjal perut, mereka makan rerumputan dan dedaunan.

Dalam situasi seperti itu, Khadijah berdiri tegar di tengah-tengah mereka. Sikapnya kokoh pantang menyerah. Padahal, ia adalah wanita kaya-raya. Hartanya melimpah, hidupnya sejahtera, dan ia berasal dari keturunan keluarga terhormat yang sehari pun tak pernah kenal melarat. Fakta inilah yang membuat Nabi berdecak kagum kepada Khadijah.

Pemboikotan berakhir. Dan, tak lama setelah itu Khadijah meninggal dunia. Rasulullah SAW sedih luar biasa. Segala hal yang berhubungan dengan Khadijah menjadi sumber kenangan yang menyiksa, tapi juga dihormati dan dimuliakan.

Dan, atas dedikasi Khadijah yang turut memikul tanggung jawab besar itu, Malaikat Jibril datang untuk menyampaikan wahyu khusus untuk Khadijah. Katanya kepada Nabi, “Sampaikan berita gembira kepada Khadijah, ia disediakan sebuah rumah dari permata di surga. Tak ada kebisingan, tak ada kelelahan di dalamnya.”

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini, bahwa pengorbanan kaum ibu yang mendukung perjuangan suaminya dalam menegakkan agama Allah, tidak akan pernah sia-sia. Pengorbanan, kesabaran, keteguhan, dan keikhlasan dalam perjuangan para ibu, akan membuahkan rumah permata di surga, bersama Siti Khadijah. (Syarim)

  • Ahad, 8 Februari 2015 09:06 WIB Mencium Tangan Guru Dianjurkan

    DISKRIPSI MASALAH Salah satu tradisi warga NU ketika bertemu warga NU lainnya mereka berjabat tangan (asalaman). Bahkan tidak hanya sekedar itu, akan tetapi ada pula yang sampai mencium tangan dengan alasan takdzim, apabila yang mereka jumpai adalah orang alim atau gurunya.   PERTANYAAN Bagaimana

  • Ahad, 8 Februari 2015 08:45 WIB Sosialisasi Korporatisasi Garam Rakyat

    Sosialisasi korporatisasi garam rakyat makin gencar dilakukan PBNU. Seperti yang dilakukan hari Sabtu (7-2-2015) di kantor MWC NU Pragaan, Tim sosialisasi bersama Ketua PCNU Sumenep jumpai petani garam rakyat yang ada di MWC NU Pragaan. Dalam arahannya Ketua Tim Rokib Ismail mengatakan bahwa pemerintah akan

  • Ahad, 1 Februari 2015 22:49 WIB NU Pragaan Mulai Gencarkan Info KARTANU

    Jaddung menjadi ranting NU pertama yang didatangi Tim Kartanu MWC NU Pragaan. Setelah pagi harinya membentuk TIM, sore harinya Ahad (1-2-2015) di kediaman KH. Asnawi Sulaiman PP Al-Ihsan Jaddung TIM Kartanu sosialisasikan Kartanu kepada pengurus dan warga yang ikut perkumpulan ranting. Rais Syuriyah KH. Moh.

  • Sabtu, 31 Januari 2015 22:47 WIB PWNU Ajak PCNU Genjot Kartanu Jilid II

    Meskipun sepanjang pagi diguyur hujan, tak menyurutkan PWNU merapat dengan PCNU dan MWC NU se Kabupaten Sumenep, sabtu (31-01-2015). PWNU sebutkan perolehan Kartanu Sumenep baru 17.000. Jumlah ini masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan PCNU lain. Padahal Sumenep potensi kewargaannya kuat. KH.

  • Rabu, 28 Januari 2015 04:06 WIB LPNU Study Pengelolaan Penggemukan Sapi

    Takut keliru dalam memulai usaha penggemukan ternak, pengurus LPNU adakan study awal pendirian kandang komunal, dan pemeliharaan sapi, pada hari Rabu, 28 Januari 2015. Lokasi study  yang dipilih adalah Kelompok Tani di Pamekasan Madura. Kelompok tani ini telah punya banyak pengalaman mengikuti pendidikan

  • Jumat, 23 Januari 2015 04:10 WIB LPNU Pertajam Program Penggemukan Sapi

    Sehari setelah dilantik, Lembaga Perekonomian NU Pragaan langsung tancap gas gelar rapat lanjutan di Kantor MWC NU Pragaan, Jum’at, 23 Januari 2015 M. Rapat yang dimulai pada jam 15.00 Wib ini mempertajam program unggulan LPNU yaitu penggemukan ternak sapi dengan kandang komunal. Penggemukan sapi dengan

  • Kamis, 22 Januari 2015 15:00 WIB NU Aeng Panas Bangkit Adakan Haul Akbar

    Seolah ingin menepis anggapan ranting NU yang mati, pengurus baru Ranting NU Aeng Panas bangkit mengadakan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian kitab dan konsolidasi, bergiliran dari rumah pengurus ke rumah pengurus lainnya. Bulan maulid tahun inipun dengan bangga mengadakan Haul Akbar dan Peringatan Maulid

  • Jumat, 3 Januari 2014 00:55 WIB Imam al-Ghazali dan Penjual Daging

    Suatu hari, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali shalat berjemaah bersama adiknya, Imam Ahmad. Al-Ghazali menjadi imam dan adiknya menjadi makmum. Tapi, di tengah-tengah shalat, Imam Ahmad mufaraqah (memisahkan diri) dan shalat sendirian. "Mengapa engkau mufaraqah" tanya Al-Ghazali

  • Kamis, 2 Januari 2014 11:09 WIB Dua Penambang Pasir

    Pagi itu, masyarakat bergotong-royong menggali tanah. Ada yang menumpuk batu-batu yang berserakan. Ada juga yang membabat semak belukar. Hujan deras yang tadi malam mengguyur kampung kecil itu, menyebabkan areal pemakaman yang terletak di atas bukit mengalami longsor. Makam-makam tua yang terletak di bibir

  • Rabu, 1 Januari 2014 03:59 WIB Ummu Salim, Wanita Maskawin Islam

    Ummu Salim menjadi janda setelah ditinggal minggat oleh Malik, suaminya. Ia bertolak ke Syria setelah mengetahui Rasulullah mengharamkan khamar, minuman keras kesukaannya, dan meninggal di sana dalam sebuah kecelakaan. Maka tinggallah wanita ini bersama seorang putranya, Anas ibn Malik. Ummu Salim kemudian

  • Senin, 23 Desember 2013 20:06 WIB Khadijah Disediakan Rumah Permata di Surga

    Waktu dluha di salah satu sudut kota Makah. Khadijah tengah bercanda ria bersama sahabat-sahabat ciliknya. Tanpa diketahui dari mana datangnya, tahu-tahu muncul seorang Yahudi dan berhenti tepat di depan mereka. Sambil tertawa sejadi-jadinya, si Yahudi berteriak, Telah tiba masa kedatangan nabi terakhir! Siapa

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan