Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Di Balik Jeruji

Senin, 23 Desember 2013 20:20 WIB
550x Buletin-khidmah Cerpen

Oleh Mahmudah Imam


 

Kupanggil dia Cinta; anugerah terindah yang selalu mengikat perasaanku. Di setiap tatapannya, ada rona cemburu yang tak kutahu untuk siapa. Ada resah dalam kalimat-kalimat bisu yang disuarakan. Ada amarah, juga benci, yang belum kupahami karena apa. Setelah itu, selalu ada sedu-sedan, bahkan senyum yang begitu rekah di balik keayuan wajahnya.

Hari ini, kulihat dia meringkuk di sudut sel. Selendang yang menutupi wajahnya sudah begitu kumal. Semua yang terlihat seolah ingin membuktikan betapa lama dia mendekam di sana: di dalam penjara. Dia memang ditempatkan terpisah dari tahanan lain, karena terganggu kejiwaan dan menjadi bulan-bulanan teman-teman sekamarnya.

Bergegas aku menghampirinya.

“Cinta… !”

Kusentuh lengannya. Teramat berat kuungkapkan kata. Rasa sakit yang begitu hebat dan kerinduan yang teramat dahsyat mengalirkan rasa hangat di kedua mataku. Betapa aku ingin mendekapnya. Begitu rindu aku dengan suaranya.

“Firman…! Kau sudah datang?”

Suara merdu itu seperti membangunkan aku dari keharuan. Aku terpana, tak percaya.

“Kau rindu ibu,” bibirnya bergetar sembari menggapaiku yang jatuh di pangkuannya. Aku terkulai, seperti mimpi dihujani ribuan bayangan. Benarkah yang kudengar ini suara ibu yang pernah raib dalam kebisuan. Yang pernah melupakanku dalam gelap dan terang?

“Ya, Cinta! Ini aku,” ucapku terbata, berusaha memercayai dilema yang kuhadapi kini.

“Maafkan Ibu ya, Nak! Terlalu lama Ibu melupakanmu. Panggillah aku ibu! Ibu tahu ibu salah. Ibu khilaf.”

Tangis ibu pecah memenuhi ruang penjara. Jemarinya yang lembut begitu halus menyentuh rambutku, tak kuasa aku berkata. Semua yang kulihat dan kurasa seperti menyeretku pada bingkai kenangan yang telah memenjarakan pengabdian dan kesetiaan ibu. Kesetiaan yang sempat mematikan harapanku dan menjauhkan aku dari kesadarannya tentang aku: anaknya. Semua karena cinta. Ya, cinta.

***


Ibu adalah wanita terhebat dalam pandanganku. Pribadi yang begitu bersahaja.  Cerdas dan tak pernah berkeluh kesah. Sementara, ayahku seorang yang berjiwa besar, rajin, dan pantang menyerah. Di mataku, mereka berdua sosok panutan yang begitu harmonis. Satu sama lain saling memanggil “Cinta”. Kami sangat bahagia. Sampai, ketika karier ayah menanjak dan mencapai pincak kesuksesan, prahara itu datang.

Waktu itu umurku baru sepuluh tahun. Entah siapa yang memulai, pertengkaran kecil sering terjadi. Muncul berita bahwa ayahku bandar narkoba. Tragis dan menyakitkan buat ibu, sementara aku belum mengerti apa-apa. Setiap saat kami menerima cibiran dan pandangan sinis orang sekitar. Seolah-olah kami terpidana yang layak berada di tiang gantungan.

Sebetulnya ayah sudah berusaha meyakinkan ibu, membangkitkan semangatnya, dan memintanya bersabar. “Ini ujian buat kita, Bu!” jelas ayah.

Tapi tangis dan kesedihan ibu sudah membakar kesucian jiwanya. Hari itu, 29 Desember 2007. Ketika aku bangun pagi, kulihat ibu memotong sayuran di meja dapur. Tangannya yang cekatan mengiris wortel sebiji demi sebiji. Air matanya mengalir amat deras.

“Pembohong! Pendusta! Keterlaluan!” Suara ibu mengisak. Kulihat ayah mendekati ibu. Dan tiba-tiba...

“Cintaa..! Awas Tanganmu..!” Ayah berteriak begitu kerasnya. Ibu terkejut. Rupanya pisau di tangan ibu tak lagi mengiris sayuran tapi melukai jari-jarinya. Refleks ibu melempar pisau dari tangan. Tapi, masya Allah! Lemparan pisau ibu tepat mengenai urat nadi di lengan ayah. Dalam sekejap ayah limbung dan jatuh bersimbah darah. Ibu meraung-raung histeris mendekap ayah.

“Maafkan aku, Cinta! Bukan maksudku.... Jangan pergi, Cinta! Jangaaan.. !”

Teriakan histeris ibu disambut dengan erangan ayah dan hembusan nafas yang kian lemah. Bibir ayah yang kian merapat lalu mengatup untuk selama-lamanya. Aku hanya bisa menangis. Tidak mengerti apa yang terjadi. Yang kurasakan hanya takut. Lebih-lebih ketika seorang lelaki memborgol tangan dan menyeret tubuh lemah ibu. Sorot matanya kosong, mulutnya terkunci. Bahkan, ingatan ibu pun jadi terkunci lama sekali, dan baru terbuka lagi hari ini.

“ Firman! Kamu ingat sekarang tanggal berapa, Nak?” Suara ibu tiba-tiba memecah kesunyian. Aku menggeleng.

“29 Desember, Nak! Hari kelahiranmu sekaligus kepergian ayahmu.”

Kembali ibu terisak. Kugenggam jemari ibu. Aku harus kuat. Lima belas tahun kini  usiaku. Sudah saatnya aku memendam tangis dan menerbitkan senyum ibu. Senyum yang yang akan mengantarku dengan doa-doa dan menjadikanku laki-laki dewasa untuk menantang hari esok.

Pakamban Laok, 29 Nopember 2012

  • Ahad, 8 Februari 2015 09:06 WIB Mencium Tangan Guru Dianjurkan

    DISKRIPSI MASALAH Salah satu tradisi warga NU ketika bertemu warga NU lainnya mereka berjabat tangan (asalaman). Bahkan tidak hanya sekedar itu, akan tetapi ada pula yang sampai mencium tangan dengan alasan takdzim, apabila yang mereka jumpai adalah orang alim atau gurunya.   PERTANYAAN Bagaimana

  • Ahad, 8 Februari 2015 08:45 WIB Sosialisasi Korporatisasi Garam Rakyat

    Sosialisasi korporatisasi garam rakyat makin gencar dilakukan PBNU. Seperti yang dilakukan hari Sabtu (7-2-2015) di kantor MWC NU Pragaan, Tim sosialisasi bersama Ketua PCNU Sumenep jumpai petani garam rakyat yang ada di MWC NU Pragaan. Dalam arahannya Ketua Tim Rokib Ismail mengatakan bahwa pemerintah akan

  • Ahad, 1 Februari 2015 22:49 WIB NU Pragaan Mulai Gencarkan Info KARTANU

    Jaddung menjadi ranting NU pertama yang didatangi Tim Kartanu MWC NU Pragaan. Setelah pagi harinya membentuk TIM, sore harinya Ahad (1-2-2015) di kediaman KH. Asnawi Sulaiman PP Al-Ihsan Jaddung TIM Kartanu sosialisasikan Kartanu kepada pengurus dan warga yang ikut perkumpulan ranting. Rais Syuriyah KH. Moh.

  • Sabtu, 31 Januari 2015 22:47 WIB PWNU Ajak PCNU Genjot Kartanu Jilid II

    Meskipun sepanjang pagi diguyur hujan, tak menyurutkan PWNU merapat dengan PCNU dan MWC NU se Kabupaten Sumenep, sabtu (31-01-2015). PWNU sebutkan perolehan Kartanu Sumenep baru 17.000. Jumlah ini masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan PCNU lain. Padahal Sumenep potensi kewargaannya kuat. KH.

  • Rabu, 28 Januari 2015 04:06 WIB LPNU Study Pengelolaan Penggemukan Sapi

    Takut keliru dalam memulai usaha penggemukan ternak, pengurus LPNU adakan study awal pendirian kandang komunal, dan pemeliharaan sapi, pada hari Rabu, 28 Januari 2015. Lokasi study  yang dipilih adalah Kelompok Tani di Pamekasan Madura. Kelompok tani ini telah punya banyak pengalaman mengikuti pendidikan

  • Jumat, 23 Januari 2015 04:10 WIB LPNU Pertajam Program Penggemukan Sapi

    Sehari setelah dilantik, Lembaga Perekonomian NU Pragaan langsung tancap gas gelar rapat lanjutan di Kantor MWC NU Pragaan, Jum’at, 23 Januari 2015 M. Rapat yang dimulai pada jam 15.00 Wib ini mempertajam program unggulan LPNU yaitu penggemukan ternak sapi dengan kandang komunal. Penggemukan sapi dengan

  • Kamis, 22 Januari 2015 15:00 WIB NU Aeng Panas Bangkit Adakan Haul Akbar

    Seolah ingin menepis anggapan ranting NU yang mati, pengurus baru Ranting NU Aeng Panas bangkit mengadakan kegiatan rutin bulanan berupa pengajian kitab dan konsolidasi, bergiliran dari rumah pengurus ke rumah pengurus lainnya. Bulan maulid tahun inipun dengan bangga mengadakan Haul Akbar dan Peringatan Maulid

  • Jumat, 3 Januari 2014 01:00 WIB Sesal Kelabu

    Oleh Diyah Ayu Fitriana*) Nasi telah menjadi bubur, begitu kata pepatah. Dan ini yang aku rasakan sekarang. Aku masih tetap berada di dalam lingkar perih yang mengurungku dengan rasa bersalah. Bertahun-tahun aku dibelenggu rasa yang aku sendiri tak kuat menahannya. Ma, makan dulu yach... Aku menyuguhkan

  • Kamis, 2 Januari 2014 11:12 WIB Titah Sang Ibu

    Oleh Nur Jamila Baisuni Santriwati Latee II PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Bersama deru ombak yang bising kutitip mimpi dan harapanku pada Tuhan yang menciptanya. Kuharap janji Tuhan atas doa-doa yang kupanjatkan di setiap detak jantungku. Kuyakin Tuhan tak pernah salah. Tuhan tak pernah bohong. Akulah

  • Rabu, 1 Januari 2014 04:13 WIB Masjid Kesepian

    Oleh: AF. Raziqi Pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) di Sumenep   Senja yang buram. Aku duduk terpaku menatap langit kelabu. Awan tebal membuntuti burung-burung yang berkejaran seakan berlomba mencapai sarang. Sebentar lagi hujan, pikirku. Aku duduk di teras masjid. Kuperhatikan lekuk langit yang

  • Rabu, 1 Januari 2014 02:08 WIB Suatu Malam di Sudut Mushalla

    Ayu Afandi* Dari balik jemuran ini, kuperhatikan gadis itu. Sosok yang begitu manis dan santun. Wajahnya selalu berseri. Mulutnya yang komat-kamit seolah tak ada keluh terpendam. Keriangan yang terpancar di matanya begitu bertolak belakang dari sisi buruk yang selama ini disematkan padanya. Si Ratu Denda.

  • Selasa, 24 Desember 2013 09:43 WIB Bus Pertiwi

    Oleh Ali Fahmi   Knalpot menderu mengentutkan asap-asap pekat, menyesakkan jantung. Ban bundar berotasi mengikuti kilometer pedal gas. Poros penghubung yang karatan berbunyi menakutkan. Bus yang sudah tua dan usang dihantam cuaca dan masa itu terus meliuk di tikungan-tikungan terjal. Jalan beraspal

  • Senin, 23 Desember 2013 20:20 WIB Di Balik Jeruji

    Oleh Mahmudah Imam   Kupanggil dia Cinta; anugerah terindah yang selalu mengikat perasaanku. Di setiap tatapannya, ada rona cemburu yang tak kutahu untuk siapa. Ada resah dalam kalimat-kalimat bisu yang disuarakan. Ada amarah, juga benci, yang belum kupahami karena apa. Setelah itu, selalu ada

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan